Belajar Kepada Para Nabi Pembebas Manusia

 

Oleh: K. El-Kazhiem

Tulisan ini merupakan refleksi setelah membaca buku karya Asghar Ali Engineer berjudul Islam and Liberation Theology: Essay on Liberative Elements in Islam (sudah diterjemahkan oleh Pustaka Pelajar dengan judul Islam dan Teologi Pembebasan).

Yesus adalah figur amat dikenal dunia. Menurut Asghar Ali, sisi lain dari Yesus adalah sosok yang liberal, radikal, impresif sekaligus menyebalkan. Kritiknya tajam, dan agaknya, ajaran-ajarannya dinilai telah keluar dari mainstream. Gaya mengajarnya tidak seperti para imam ahli Taurat. Akhirnya, Yesus pun dimusuhi. Bergaulnya saja sama pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Waktu murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi berpuasa, murid-murid Yesus tidak berpuasa. Di hari Sabat pun murid-muridnya malah memetik gandum, sesuatu yang sebenarnya dilarang. Yesus juga pernah membebaskan perempuan yang berzinah dengan alasan yang filosofis. Padahal dalam hukum orang Yahudi, perzinahan bisa berujung pada hukum rajam.

Yesus merupakan sosok guru yang berani merombak tata nilai yang telah mapan. Semakin mapan suatu ajaran maka semakin kaku. Singkat kata, Yesus adalah sosok Yahudi yang liberal, "sesat dan menyesatkan". Wajar kalau dimusuhi, dan akhirnya (dalam sejarah mainstream) dihukum mati. Kemudian Muhammad ketika belum menjadi Nabi di usianya 25 tahun menikahi Khadijah sebagai istri pertama yang mana dalam tradisi Arab kala itu adalah aib bila bujang menikahi janda. Ini tampak jelas dari tradisi sya’ir masyarakat Mekah dan sekitarnya yang begitu memuja keperawanan perempuan atau perempuan yang masih perawan ke tataran tingkat tertinggi, pun merupakan suatu konsensus sosial bahwa menikahi perempuan perawan merupakan prestise individu dan sosial.

Muhammad juga berani memerdekakan para budak. Artinya, Muhammad berani menentang sistem perbudakan tersebut yang sudah berlangsung sekian lama. Islam sendiri pada awal perkembangannya banyak dipeluk oleh orang-orang yang bukan golongan elite masyarakat. Muhammad sebagai pembawa risalah juga berasal dari keluarga Quraisy yang, walaupun cukup terpandang, tetapi keluarganya (khususnya ayahnya yang bernama Abdullah) tidak tergolong datang dari keluarga kaya dan berstatus sosial tinggi. Pada saat itu Islam menjadi tantangan yang membahayakan para saudagar kaya Mekah sehingga mereka menolak ajaran Islam. Bukan semata-mata karena mereka menolak risalah, tetapi lebih kepada ketakutan mereka terhadap Islam yang akan membawa perubahan sosial, khususnya pada tingkatan kekuasaan, baik politik maupun ekonomi.

Di dalam bukunya, Asghar Ali membawa pembaca untuk menelaah liberalisme ke dalam makna "liberasi”, yakni “membebaskan". Dia membaca Islam sebagai kerangka pemikiran dan konsep bagi manusia untuk mengambil peran dalam membela kelompok yang tertindas. "Masyarakat yang sebagian anggotanya mengeksploitasi sebagian anggota lainnya yang lemah dan tertindas tidak dapat disebut sebagai masyarakat Islam." begitu tulisnya.

Teologi pembebasan adalah anti kemapanan, baik kemapanan relijius maupun politik. Asghar Ali menafsirkan/mengintepretasikan kembali ungkapan Karl Marx yang terkenal—yakni bahwa agama adalah candu bagi masyarakat—bukan sekadar mencandukan kesadaran masyarakat, agama juga turut memantapkan status quo dan tidak mendukung perubahan.

Melihat kondisi dunia, terutama di Asia dan Afrika pada saat ini yang sedang giat melakukan perubahan sosial, pemikiran Asghar Ali masih relevan untuk dikaji kembali. Ada pertanyaan yang dia kemukakan ketika melihat gerakan-gerakan perubahan di awal abad 21 ini. Perubahan-perubahan tersebut terjadi, sebenarnya untuk membela kepentingan siapa; rakyat ataukah penguasa? Menurutnya, agama sebagai instrumen dapat digunakan sebagai candu atau malah ideologi yang revolusioner. Sebagaimana Musa yang membebaskan bangsa Israel di tanah Mesir, revolusi tidak akan muncul bila tidak ada penindasan. Sesungguhnya, agama mengajarkan untuk menempatkan manusia sederajat (egaliter) dan menolak segala bentuk penindasan, menumpuk harta, riba, kemiskinan dan kebodohan. Meskipun manusia harus mempercayai bahwa Hari Akhir akan tiba, tetapi manusia tetap dilarang membuat kerusakan di muka bumi. Oleh karena itu, kehidupan manusia di muka bumi ini akan lebih tertata dengan sistem yang berkeadilan walau disertai suatu perbutan dosa daripada dengan tirani yang berkedok kesalehan. Secara ekstrem Asghar Ali mengatakan bahwa Tuhan membenarkan negara yang berkeadilan walaupun dipimpin oleh orang kafir, dan menyalahkan negara yang tidak menjamin keadilan meskipun dipimpin oleh seorang Muslim.

Bagaimanapun, umat manusia akan bisa bertahan dengan keadilan. Substansinya terletak pada nilai-nilai keadilan yang semestinya dapat digali dari ajaran agama. Contohnya dalam menghadapi tantangan kemiskinan, Asghar Ali mengatakan bahwa agama harus mentransformasi diri menjadi sarana untuk melakukan perubahan sosial. Pembangunan ekonomi di era global melahirkan kesenjangan kelas yang teramat jomplang antara kaya dan miskin. Penderitaan masyarakat bawah diakibatkan pemusatan harta kepada segelintir elite yang kemudian mengundang krisis ekonomi. Di sisi lain, rakyat yang emosional siap dengan kebangkitan agama yang konservatif. Kelas yang berkuasa merasa terancam dengan hal ini. Mereka mulai “mensponsori” kegiatan dakwah yang menekankan pada formalitas ibadah ritual. Sedangkan sistem nilai Islam yang menekankan pada aspek egaliter, keadilan dan persaudaraan tereduksi dan bahkan dihilangkan. Hal inilah yang diinginkan oleh pendukung oligarki;. kemapanan posisi dan kekuasaan. Oleh karena itu, Asghar Ali Engineer mengajak kepada pembaca agar tidak terjebak pada aspek simbolis dan komersialisasi agama. Khususnya kepada umat Islam, komitmen sesungguhnya pada keislaman adalah komitmen kepada tatanan sosial yang adil, egaliter dan nir-eksploitasi. Itulah semangat Islam yang sejati.

 

Sumber: Kompasiana

Thursday, December 24, 2015 - 01:15
Kategori Rubrik: