Belajar Kemandirian dari China

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

China dengan komunitas diatas 1 miliar orang , dengan sumber daya alam yang terbatas, cuaca yang ekstrim, hancur dihantam revolusi kebudayaan, tetap percaya diri untuk bangkit dari luka masa lalu. Reformasi Deng tidak dengan retorika lompatan china jauh kedepan ala Mao tapi berakit rakit kehulu berenang ketepian, bersakit sakit dahulu, senang kemudian. Tidak ada lagi jaminan sosial ala komunis. Semua harus bayar dan semua barang harus sesuai harga pasar. Subsidi yang menjadikan negara diperas oleh rakyat yang malas harus dihapus. Lantas apa yang diberikan negara kepada rakyat ? Kebebasan untuk berkreasi. Itulah harta dan sekaligus value yang paling esensi melahirkan peradaban yang lebih baik. Sebelumnya itu tidak di miliki oleh rakyat China yang dibawah rezim komunis Mao

Selanjutnya , China harus tampil menjadi komunitas baru, komunitas yang ulet untuk menjadi pemenang dalam berproduksi dengan cara modern dan unggul dalam perdagangan International. Berlalunya waktu, ketika negara lain sibuk berkosumsi, China sibuk berproduksi walau harus menjual dengan laba rendah. Ketika negara lain , elite politiknya sibuk berebut kekuasaan , sibuk bersaing dalam pemilu demokratis, parlemen sibuk merubah strukture UU, bangsa china lebih memfocuskan diri melakukan transformasi dari masyarakat yang lemah menjadi masyarakat yang kuat lewat kerja keras dan kebersamaan.

Akhirnya china mampu berdaulat secara ekonomi karena kemakmuran dan kemandirian. Kebanyakan dari kita, merasa selalu diatas angin dengan potensi yang ada. Karena gelar kesarjanaan merasa berhak menjadi middle class. Karena SDA melimpah merasa berhak minta subsidi. Karena banyak doa dan zikir merasa berhak mendapatkan kesuksesan dengan mudah dari ALlah. Apa hasilnya ? para sarjana bukannya menjadi asset bangsa malah menjadi beban negara karena menambah daftar angkatan kerja yang harus negara sediakan. SDA tidak menghasilkan kemakmuran tapi penjajahan gaya baru. Agama tidak melahirkan spiritual sosial malah menjadi pressure sosial.

Suksesnya China adalah buah dari kesadaran bahwa sesuatu yang sangat berharga adalah kehidupan. Besok adalah milik Tuhan dan kemarin tinggal catatan. Kehidupan itu adalah hari ini. Masa lalu berhubungan dengan masa kini dan masa kini menentukan hari esok. Terlalu banyak menghabiskan waktu dimasa kini dengan hal yang sia sia dan berharap hari esok yang lebih baik adalah tidak elok. Kalau anda percaya Tuhan maka anda juga harus percaya kepada hukum ketetapan Tuhan ( sunnatullah ) bahwa Tuhan benar menjamin rezeki setiap makhluk tapi Tuhan tidak akan mengirim uang ke rekening anda. Anda harus kerja keras mendapatkannya..**

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Tuesday, June 13, 2017 - 13:45
Kategori Rubrik: