Belajar Hingga Ke Negeri China

 

Oleh: Denny Siregar

 

Jika melihat apa yang dilakukan pemerintahan Jokowi ini, sekilas mirip dengan apa yang dilakukan China. Sebagai negara besar dengan total jumlah penduduk lebih dari 1 milyar jiwa, China menganut sistem sosialisme penuh dengan menolak sistem kapitalisme ala barat. Bahkan pada masa pemerintahan Mao Zedong, seluruh sistem ekonomi sepenuhnya dikuasai pemerintah.

Sistem sosialisme penuh ini ternyata menyebabkan kekacauan di China. Negara ini tidak berhasil mengeksplorasi dirinya lebih jauh karena banyak keterbatasan pemerintah. Gerak swasta sangat dibatasi, sedangkan korupsi di pemerintahan menggila karena kekuasaan yang tidak terbatas.

Memasuki era Deng Xiaoping, sistem ekonominya lebih pragmatis. Deng berhasil me-restrukturisasi sistem ekonomi China dengan menggabungkan konsep sosialisme dan kapitalisme. China membuka diri terhadap investasi asing dan swasta diberikan peran lebih dalam ekonomi, tetapi semua tetap mengikuti peraturan pemerintah. Pemerintah memberi fasilitas-fasilitas kepada swasta, membeli hasil kerja mereka dan menjualnya di pasar internasional.

Dengan sistem penggabungan itu, China tumbuh menjadi negara dengan ekonomi raksasa. Pemerintah menjadi pemain bukan hanya sebatas sbg pembuat kebijakan. Berkebalikan dengan Indonesia, pada masa lalu sistem ekonomi kita menganut sistem kapiitalisme penuh. Negara hanya sebatas sebagai pembuat kebijakan sedangkan swasta menjadi pemain dominan dalam ekonomi. Modal asing masuk dengan deras dan menguasai banyak sektor. Pemerintahan sangat korup karena mempermainkan regulasi atau kebijakan.

Ketika era pemerintahan Jokowi ini, negara mulai bermain dengan banyak mengambil alih sektor-sektor yang selama ini dikuasai kumpulan swasta. Sektor pendidikan, sektor kesehatan, bahkan sektor transportasi mulai dikuasai negara dengan sistem akuisisi secara halus.

Terbitnya BPJS mengambil alih peran kuat perusahaan asuransi asing yang selama ini berjaya di sana. Dari premi yang diterima pemerintah triliunan rupiah setiap tahun, digunakan untuk pembiayaan infrastruktur dan penambahan modal kepada BUMN agar semakin memperkuat posisinya di internasional.

Di Jakarta, proyek Transjakarta menghantam lahan yang selama ini dinikmati bertahun-tahun oleh Organda. Pembangunan sistem transportasi di mana-mana mulai dari tol laut sampai mass rapid transit dikembangkan. Pulau-pulau di luar Jawa dibangun rel kereta untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Proyek swasembada pangan ditingkatkan untuk menghantam impor yang selama ini dikuasai swasta. Presiden pun sudah meminta PTPN menyediakan 10 ribu hektar lahan sebagai pengembangan buah lokal. Pelan-pelan, peran swasta yang dulu bermain secara bebas, kini diatur dan dikendalikan oleh pemerintah.

Kalau dulu China menganut sistem sosialisme kemudian akhirnya dipadukan dengan kapitalisme, Indonesia yang dulu menganut sistem kapitalisme sekarang memadukannya dengan sosialisme.

Dengan memadukan sistem ini maka Indonesia sudah melakukan hal yang mirip dengan China di mana negara bermain dengan baik mengatur swasta, mengambil keuntungan darinya dan digunakan untuk memajukan ekonomi dalam negeri.

Karena itulah, PT Freeport tidak bisa lagi bermain-main dengan pemerintahan sekarang karena pemerintah tidak hanya mau bermain di sisi kebijakan dan pajak saja, tapi sudah harus menjadi pemain utama. Sudah terlalu lama kita duduk di bangku cadangan.

Ah, seandainya dulu pada zaman Soeharto beliau memainkan dengan baik kediktatoran-nya untuk seluruh bangsa, bukan hanya untuk kelompoknya yang rakus itu, bisa dibayangkan negara kita ini kayanya seperti apa. Namun dahulu, meski kelihatannya negara maju, tapi realitanya kapal ini bocornya di mana-mana.

Ditambah lagi periode 10 tahun pascareformasi yang kebocoran di Kalimantan, nambalnya di Senayan, ya makin banyak bocornya. Bocor karena memang sengaja tidak ditambal dengan baik, hanya dikasih selang dan dialirkan ke tangki-tangki yang sudah disiapkan.

Sambil nyeruput kopi, ngomong masalah bocor saya kok jadi ingat seseorang yang tidak boleh disebut namanya itu ya? Oke, kita sebut saja namanya "Mawar". Mawar adalah korban perkosaan. Halah, malah kayak berita kriminal di koran.

(Sumber: www.dennysiregar.com)

Monday, November 30, 2015 - 11:00
Kategori Rubrik: