Belajar dari Ulama Besar

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Hamka masih ingat ketika dia di jemput oleh Tentara karena tuduhan makar. Setelah melalui interogasi yang menghinakan dirinya, merendahkan dirinya akhirnya dia harus mendekam dalam penjaran selama 2 tahun 4 bulan. Selama ia dalam penjara itu semua penerbit takut mencetak bukunya. Ekonomi keluarga Hamka morat marit. Namun umi sang istri tetap tegar memberikan dukungan kepada suaminya. Umi sadar betul bahwa suaminya di zolimi.

Di sepetak ruang. Di sudut lorong-lorong gelap, berkelok, tak tahu di mana ujungnya. Ruangan itu tak kalah gelap. Hanya cahaya dari balik jendela kecil di atas sana yang lariknya menembus, membelai debu-debu beterbangan, menyapa lembaran kertas yang menumpuk. Lembaran yang begitu rapi. Lembaran yang ia tulis, selama dalam tahanan politik. Hikmahnya Hamka berhasiil menyelesaikan maha karya tafsir Al Azhar.

Setelah bebas dari penjara, Hamka tak tahu kabar Soekarno, penguasa yang memenjarakannya kala itu. Dia melanjutkan hidupnya.Kembali ke pada umatnya. Selama itu dia tidak pernah berbicara prihal kezoliman penguasa terhadapnya. Baginya ketika MPR telah mengukuhkan Soekarno sebagai Presiden seumur hidup di bawah demokrasi terpimpin, dan ketika konstituante dibubarkan Soekarno. Hamka sadar dia tidak lagi berada di dalam lingkaran sistem kekuasaan.Tanggung jawabnya lepas untuk merubah dari dalam sistem. Tugasnya kembali kepada umat.Mencerahkan umat tentang akhlak mulia. Ia telah memaafkan Soekarno sebelum Soekarno meminta maaf.

Ketika Soekarno meninggal ,Hamka mendapat permintaan agar menjadi imam sholat jenazah. Karena wasiat terakhir Soekarno "Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.” Apakah Hamka menolak karena mengingat betapa zolimnya Soekarno kepada dia. ?Tidak. Hamka tanpa bertanya apapun, langsung bersegera datang ketempat jenazah Soekarno untuk di sholatkan. Tak lupa Hamka mendoakan agar Almarhum di terima amalannya dan di ampunkan dosanya.

Setelah itu , Soeharto berkuasa. Hamka kembali mendapat kepercayaan sebagai ketua MUI namun tak sekalipun HAMKA membuka aib Soekarno.Tak ada sekalipun Hamka menghujat Soekarno. Bagi Hamka, setiap orang bisa saja salah namun setiap orang punya kesempatan bertobat. Kita tidak bisa menghakimi orang lain atau menuduh orang ahli neraka, karena bukan tidak mungkin Allah telah mengampuni dosanya.

Bila melihat bagaimana Ulama Hebat memberikan contoh tentang akhlak mulia kepada yang pernah menzoliminya, rasanya sulit diterima bila ada segelintir orang masih saja menghujat orang lain yang telah meninggal. Ajaran Islam apa yang mereka ikuti. Ulama apa yang mereka ikuti. Entahlah..anak ku..hati yang lembut itu hati yang pandai menjaga aib orang lain dan selalu berprasangka baik selalu ..paham ya sayang.**

Sumber : facebook Erizeli Jely Bandaro

Saturday, July 9, 2016 - 13:30
Kategori Rubrik: