Belajar dari Terjemahan

Oleh: De Fatah
 

Penjelasan belajar agama jangan memakai terjemahan kitab suci itu begini,..

Al-Quran bukanlah kitab sejarah yang ditulis dan disusun secara kronologis, dan Al Qur'an bukan pula disusun secara ensiklopedia. Karena itu ayat yang pertama Iqro justru ditempatkan pada surat yang ke-96, sementara Al-Fatihah yang turun bukan surat pertama, justru ditempatkan urutan pertama

Misal, untuk memahami suatu ayat, bisa jadi akan dapat dilihat kaitannya dengan ayat lain meskipun beda surat atau letak suratnya tidaklah berdampingan. Jadi untuk mengkaji Al Qur'an itu perlu ilmu, tafsir dan pendapat ulama, bukan hanya sekedar baca terjemahannya langsung terjun payung.

 

 

Itu sama saja belajar silat hanya dari buku stensilan, tampilannya sih oke pake baju silat, ikat kepala atau bawa golok segala, tapi gerakan jurusnya ngaco. Kagak ada tujuan dari gerakannya cuma ciat ciat aja mulutnya gede, di tampol Pak Polisi langsung mabur.

Nanti jika ada ayat yang menyebut "celakalah orang-orang yang sholat", mereka langsung kagak sholat.

Jika ada ayat Al Qur'an yang menyebut "Maka nikahilah apa yang kamu senangi dari wanita-wanita, dua, tiga, dan empat", mereka langsung ngaceng mau nikahin 4 biji sekaligus. Dikepalanya sudah terbayang film bokeb threesome, aji mumpung ada ayat yang bisa dijadikan tameng nafsunya

Yang kayak gini banyak sekali,.. lihatlah disekeliling kita. Iya kamu,..ya kamuuu,...hoiiiii kamuuuuuu noh yang pake daster!

 

(Sumber: Facebook de Fatah)

Wednesday, July 5, 2017 - 15:45
Kategori Rubrik: