Belajar Dari Sejarah

ilustrasi

Oleh : Birgaldo Sinaga

Saya anak kolong. Tinggal di asrama cukup lama. Ayah saya sering meninggalkan kami untuk tugas. Ia anggota Brimob.

Dari kecil doktrin ayah saya itu merah putih harga mati. Sikap sempurna saat menghormat bendera.

Ayah saya anggota polisi yang jujur. Makanya hidup kami kekurangan. Miskin.

Ayah saya bilang, kalo mau kaya jangan jadi polisi atau tentara. Kecuali kamu gunakan pangkat dan senjatamu memeras dan membackup pengusaha hitam.

Dari semua anak2nya tak satupun kami masuk polisi atau tentara. Padahal postur dan IQ bisalah tembus.

Tapi ya itulah, karena susahnya kehidupan itu membuat cita-cita meredup menjadi tentara atau polisi.

Tapi meskipun tidak mencoba masuk aparat bersenjata, soal cinta tanah air tidak pernah berkurang sedikitpun.

Percayalah suatu saat negara kita akan mampu memberikan kesejahteraan pada prajurit. Itu kata ayah saya.

Saat kuliah, saya ikut latdiksarmil selama sebulan di Rindam I Bukit Barisan. Lumayanlah belajar doktrin militer, menembak pake M16, repling snepring juga. Juga latihan macem2 jurit malam dlsb.

Belajar dari sejarah, politik sebuah negara bisa berubah2. Berubah bentuk. Berubah ideologi.

Itu semua bisa terjadi, kalau angkatan bersenjatanya lemah dan sudah tersusupi faham politik ideologi lain.

Selagi tentara kuat dan solid dengan ideologi negara, maka siapapun yang mencoba menggantinya akan gagal.

Lihat saja, IM di Mesir. Ketika Moersi dengan partai aliran Ikhwanul Muslimin itu ingin mengganti konstitusi, militer langsung mengambil alih.

Masyarakat sipil punya massa. Tapi tidak punya senjata.

Nah cara musuh negara mencoba mengganti dasar negara adalah merekrut tentara agar berfaham mereka. Caranya susupi, doktrin, infiltrasi, propaganda, bikin konflik dlsb.

Ketika dua unsur massa dan tentara sudah cukup kuat dikuasai, tinggal kasih komando serbu. Maka negara akan jatuh.

Kota Marawi Philipina itu berpenduduk 500 ribu. Cukup dengan satu kompi pasukan bersenjata, kota itu sudah dikuasai.

Moamar Khadafi itu berpangkat kolonel ketika menjatuhkan pemerintahan Libya.

Sejarah selalu memberi kita cermin. Bukan supaya kita paranoid atau berprasangka buruk. Bukan supaya kita selalu melihat ke belakang. Tapi agar kita tidak masuk jurang dengan jalan yang sama.

Saat kamu tertidur, pastikan seisi rumahmu adalah orang yang kamu percaya. Itu intinya.

Cok kalian liat foto ini..

Udah cocok gue lebih TNI dari TNI gak ya...

Ahhh.. Suuu dahlah Panjul

Salam perjuangan penuh cinta

Sumber : Status Facebook Birgaldo Sinaga

Wednesday, August 14, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: