Belajar dari Raja Martabak

Oleh: Wahyu Sutono

 

Tetap membumi saat dipuji, tak jumawa saat ayahnya berkuasa. Tak melawan dan membalas saat dihina dina. Bahkan saat disentil masalah politikpun, ia jawab dengan merendah, hingga para pendengkinya tak berkutik lagi.

 

Iapun tetap jadi anak milenial seperti pada umumnya. Tak ingin dikawal secara khusus seperti layaknya anak presiden. Tak jaim dan minta diistimewakan. Ia tetap cuex bepergian dengan pakaian casual dan tas ranselnya. Mengantri seperti warga masyarakat biasa, dan naik bus bandara seperti penumpang lainnya.

 

 
 

Ketika anak petinggi lainnya pamer mobil mewah dan bepergian naik jet pribadi, Gibran dan dan keluarganya hanya naik kelas ekonomi. Saat yang lainnya berlomba mendapatkan proyek karena koneksi, Gibran justru tolak ajakan Pemkot berkolaborasi.

 

Karenanya sungguh aneh masih ada manusia-manusia pendengki yang begitu busuk hatinya selalu menyerang Gibran dan keluarganya, padahal mereka tak mengenalnya, dan tak ada yang dirugikannya. Bahkan Gibran ini tak memusuhi siapa-siapa. Malah ia justru membuka lapangan kerja baru.

 

Sedangkan para pendengkinya sudah berbuat apa bagi bangsa ini. Sudahkah mereka membuka kursus bahasa Inggris secara gratis bagi warga kurang mampu seperti halnya Gibran? Yang pernah ada mereka buka seminar hoax itu justru mungkin, karena itu habitnya.

 

Ini memang keluarga hebat. Ayahnya ikut lomba panah dan lomba cuitan burung bisa menerima kekalahan. Adiknya bisa menerima dengan besar hati saat tak diterima masuk PNS. Hingga warga masyarakat Malaysia mengagumi dan berharap memiliki pemimpin dan keluarga yang seperti ini.

 

Kata kuncinya bahwa keluarga ini tak pernah 'Aji Mumpung' persis seperti keluarganya Habibie yang kedua anaknya tak berpolitik, dan sang eyang sosok negarawan seperti halnya Jokowi yang lebih mementingkan membangun negerinya, karena sudah selesai dengan dirinya. Sebuah teladan yang luar biasa.

 

"Jadi cukuplah Gibran jadi Raja Martabak tanpa rekayasa dan jauh dari hinggar bingar politik busuk, ketimbang mereka menjual hoax, hasilnya hanya merusak bangsa"

 

Salam Nyinyir Rasa Keju

(Sumber: Status Facebook Wahyu Sutono)

Wednesday, March 14, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: