Belajar dari Kebesaran Hati Haji Agus Salim

Oleh : Mohamad Guntur Romli

Saat Haji Agus Salim, tokoh Islam, ditanya adiknya yang memeluk Katolik, Haji Agus Salim malah menjawab "Alhamdulillah".

Kok bisa? Kok tidak teriak-teriak murtad, kafir, laknat dsb seperti penceramah dan ustadz yg menjamur saat ini? Padahal tidak sedikit dari para penceramah dan ustadz serta gerombolannya itu berasal dari barisan Haji Agus Salim yg "modernis".

Dan mereka pula yang mengecam saat Banser NU terlibat dalam pengamanan Natal atau Paskah dengan tudingan mencampur adukkan akidah.

Padahal hingga saat ini tidak terdengar dari Banser NU dan keluarga tokoh-tokoh NU yang pindah agama hanya karena bertoleransi dan bekerjasama antar umat beragama demi menjaga keamanan, kedamaian dan persatuan.

Tidak ada dari Banser dan tokoh-tokoh NU yang pindah agama hanya karena mengajarkan toleransi, sebaliknya adik Buya Hamka dan Adik Haji Agus Salim yang pengikutnya mengharamkan pluralisme malah terjadi perpindahan agama.

Kembali ke respon Haji Agus Salim, mengapa malah komentar "Alhamdulillah" saat adiknya memeluk Katolik?

Iya, karena sebelumnya adiknya pengikut Komunis dan Ateis yang anti Tuhan, dengan memeluk Katolik, adik Haji Agus Salim "kembali" bertuhan. Dan menurut Haji Agus Salim "lebih dekat dengannya sebagai orang Islam dengan memeluk Katolik, daripada menjadi orang Komunis dan Ateis".

Kebesaran hati, kelapangan dada dan kedewasaan seperti Haji Agus Salim ini kini makin langka, bahkan di antara para murid-murid yang mengaku sebagai pengikutnya atau pengikut Buya Hamka.

Sumber : facebook Mohamad Guntur Romli

Sunday, April 1, 2018 - 16:45
Kategori Rubrik: