Belajar dari Jepang: Terbuka Pada Modernitas Tapi Tetap Ingat Budaya Sendiri

Oleh S.H. Dewantoro

REDAKSIINDONESIA - Bangsa yang maju, adalah bangsa yang mau terbuka pada modernitas sekaligus tetap berpegang teguh kepada kebudayaannya sendiri.  Salah satu negara yang layak dipelajari bahkan dibenchmarking terkait perkara ini adalah Jepang.

Jepang mencapai kemajuan melalului kebijakan Restorasi Meiji: mereka berani membuka diri terhadap kebudayaan Barat, mengambil hal-hal terbaik dari kebudayaan Barat, sementara saat bersamaan mereka berpegang teguh pada tradisi luhur yang telah mereka kembangkan sendiri.  Ini menjadi tonggak awal transformasi budaya yang mengagumkan: bangsa Jepang pada saat ini terkenal sebagai bangsa yang maju, kuat dalam teknologi dan perekonomian, dan pada saat yang bersamaan, bisa mempertahankan identitas budaya mereka sebagai bangsa Jepang, yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Seperti diuraikan dalam situs Wikipedia, ” Restorasi Meiji (明治維新, Meiji-ishin?), dikenal juga dengan sebutan Meiji Ishin, Revolusi, atau Pembaruan, adalah rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Restorasi Meiji terjadi pada tahun 1866 sampai 1869, tiga tahun yang mencakup akhir Zaman Edo dan awal Zaman Meiji. Restorasi ini merupakan akibat langsung dari dibukanya Jepang kepada kedatangan kapal dari dunia Barat yang dipimpin oleh perwira angkatan laut asal AS, Matthew Perry.”

Restorasi Meiji bisa kita lihat merupakan tonggak kemajuan Jepang menuju negara industri maju. Proses pembaharuan yang berjalan sekitar 30 tahunan telah berhasil membawa Jepang dari negara terisolasi, terbelakang dan tradisional menjadi negara maju yang bisa bersaing dengan negara-negara barat.

Salah satu pilar penting dalam proses Restorasi Meiji, adalah modernisasi pendidikan yang ditokohi Fukuzawa Yukichi.  Ia mendorong Kekaisaran Jepang mengembangkan kebijakan yang menekankan pentingnya semua warga Jepang mengenyam pendidikan.    Kebijakan ini pada faktanya, bisa menjadikan masyarakat Jepang sebagai masyarakat terdidik dan pembelajar.

Pendidikan diberikan kepada berbagai kelompok masyarakat: samurai, petani, tukang, pedagang, serta rakyat jelata. Kegiatan ini dilaksanakan di kuil dengan bimbingan para pendeta Budha yang terkenal dengan sebutan Terakoya (sekolah kuil) .  Proses ini membawa Jepang pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi maju yang dapat disejajarkan dengan Amerika dan negara maju lainnya.

Yang perlu dicatat, perubahan kebudayaan yang dilakukan di Jepang, justru bertolak dari nilai-nilai lokal yang dipandang unggul, seperti mental Bushido atau jalan hidup samurai (kerja keras, jujur, ikuti pemimpin, tidak individualis, tidak egois, bertanggung jawab, bersih hati, harus tahu malu).

Tuesday, January 19, 2016 - 15:15
Kategori Rubrik: