Belajar dari Jepang dalam Berhutang

Oleh: Liza Novijanti
 

Di Indonesia, ketika Pemerintah berhutang, ramenya bukan main, padahal utangnya masih 27% darri PDB, Bandingkan dengan Jepang yang hutangnya 227% dari PDB. Ada yang komentar, beda dong Jepang, utangnya ke rakyatnya sendiri. Ya kalau gitu baguslah, kita contoh Jepang, Mari kita beli SUN, ORI dan Sukuk (SBSN) yang diterbitkan pemerintah, untuk membantu pemerintah menutup defisit APBN dan membiayai pembangunan. Kita tidak akan rugi karena akan mendapat, kupon diskon, bunga atau bagi hasil., tergantung pilihan kita.

Jepang adalah negara demografi tua, dimana pertumbuhan penduduknya sedikit, dan kaum tua jauh lebih banyak dari kaum muda. Sebagai negara Industri yang besar, tentu Jepang membutuhkan pasar yang luas, tapi itu tidak didapatnya di negara sendiri, karena demografi tuanya itu, sehingga Jepang, mau tidak mau harus mengekspor produknya ke Luar Negeri.

Pertumbuhan ekonomi Jepang rendah di kisaran 0,9-1,2 %, itu disebabkan karena demografi tuanya itu, yang menyebabkan konsumsi rendah (Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi konsumsi, semakin tinggi konsumsi dari tahun ke tahun, semakin tinggi pula pertumbuhan ekonominya) . Tapi PDBnya tinggi, oleh karena itu penduduk Jepang lebih suka menabung. Tapi karena suku bunga Jepang 0% bahkan negatif, maka rakyatnya lebih suka membeli JGB atau Japanese Government Bonds semacam SBN nya Indonesia. Jadi utang diperoleh dari rakyatnya sendiri, hanya 9% utangnya dari asing.

Disamping untuk menutup defisit anggaran, dan membiayai pembangunan infrastruktur, utang tersebut digunakan Jepang untuk memberi utang negara lain. Jepang meskipun negara pengutang terbesar, tapi sekaligus pemberi utang terbesar. Ilustrasinya demikian, Pemerintah Jepang mendapat pinjaman dari rakyatnya, kemudian memberi utang ke negara2 lain seperti Indonesia, Amerika, dan lainnya, malah dia menyetor dana ke IMF sampai 100T untuk dipinjamkan kepada negara krisis, seperti Yunani.

Ada dua keuntungan utama yang diperoleh pemerintah dan rakyat Jepang dari meminjamkan uangnya kepada negara lain, yang pertama tentu Bunga pinjaman dan yang kedua adalah Pasar.. Negara2 yang dipinjami tentu akan membuka pasarnya untuk produk2 Jepang sebagai imbalan dari diberinya pinjaman. Sehingga pabrik2 di Jepang dapat terus berjalan dan menopang ekonomi negara.

Tax Amnesty adalah langkah yang tepat, untuk menarik dana yang diparkir di Luar negeri, agar dapat digunakan untuk pembangunan dan menggerakkan roda ekonomi negara kita sendiri. Jangan punya dana, malah diparkir di LN, itu memakmurkan negara lain. Contohlah Jepang, yang rakyatnya lebih suka menolong pemerintahannya sendiri. Belilah SBN, Surat Berharga Negara, yang terdiri dari SUN, ORI dan SBSN (sukuk). Maka Anda akan ikut berkontribusi menutup defisit APBN dan membiayai pembangunan. Sebagai catatan, asing memegang lebih dari 30% SBN kita, sedangkan Jepang hanya 9% JBG yang dipegang asing.

Jadi jangan hanya teriak2, antek asing melulu, ketika menyoroti utang pemerintah, tapi tidak berbuat apa-apa.. 
Mari kita ikut membantu pemerintah, menutup defisit, membiayai pembangunan dan melepaskan diri dari belengu utang asing dengan membeli SUN, ORI atau SBSN..

 

(Sumber: Status Facebook Liza Novijanti)

Thursday, September 8, 2016 - 21:30
Kategori Rubrik: