Belajar Dakwah Efektif Dari Islam Ala Teroris

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Abdurrahman ibn Muljam At-Tamimi namanya. Seorang yang mengaku Muslim, apabila siang berpuasa sunah, malamnya bertahajud dan penghafal Al-Qur'an, tetapi ia justru tega membunuh Ali bin Abi Thalib, menantu sekaligus salah satu sahabat terbaik Nabi Saw. Ali dibunuhnya ketika sedang mendirikan shalat shubuh. Ali dianggap halal dibunuh karena telah kafir, tidak berpegang teguh pada syariat Allah. Mengerikan bukan? Perilakunya biadab ya, tetapi tujuan dan aksinya jelas serta terukur. Nah ini hikmahnya. Mestinya dakwah moderat lah yang mestinya jelas targetnya, tepat eksekusinya. 

Bagaimana mau efektif, dakwah yang dianggap moderat penuh dengan kepentingan. Sendiri-sendiri, asyik sendiri. Benar-benar terjebak zona nyaman. Sementara para Muslim hijrah dan para pelaku teror itu hampir sudah selesai dengan dirinya sendiri. Mereka sudah tidak memikirkan mendapatkan proyek Pemerintah, apalagi sampai rebutan, termasuk berebut menjadi PNS. Jangankan uang dan tenaga, nyawa saja mereka berani korbankan. Keyakinannya akan jihad fi sabilillah seperti sudah menyatu dengan Allah. Sebagaimana kita kenal dalam ajaran tasawuf. 

Pekerjaan mereka berdakwah dan pemberdayaan. Full dakwah. Bagaimana caranya bisa mengkonkretkan dakwah Islam sampai kemudian banyak menebar manfaat untuk umat. Betapa dahsyatnya dakwah pemberdayaan Laznas-laznas seperti Dompet Dhuafa, ACT, PKPU, DT Peduli, PPPA Daarul Qur'an, Ruang Baik, Sinergi Foundation dan masih banyak lagi. Program dakwahnya inovatif, melampaui keumuman. Dakwah yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan zaman, berteknologi tinggi dan dilapisi manajemen yang juga canggih. 

Dakwah itu harus akurat. Kemampuan literasinya harus terus diasah, jiwa entrepreneurshipnya juga demikian, leadershipnya juga harus tangguh, kekuatan kolaborasi juga diutamakan, manajemen fundrising juga mesti dipelajari, skill public speaking juga mesti terus diasah. Jadi dakwah bukan hanya ceramah, melempar lelucon yang tidak sensitif gender, tidak memahami psikologi jemaah dan selama ini tidak jelas out putnya apa. Goal-nya seperti apa, tolok ukurnya bagaimana. 

Wallaahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Wednesday, April 7, 2021 - 10:45
Kategori Rubrik: