Belajar Cinta Tanah Air dari Intan Syafrina

Oleh: Saefudin Achmad

 

Melihat foto lusuh seorang gadis memakai baju khas pemadam kebakaran, hati ini rasanya benar-benar tertampar dan malu. Sangat malu! Sepanjang hidup, saya merasa belum berbuat apa-apa untuk negeri. Rasanya belum ada pengabdian dan pengorban yang saya persembahkan untuk Ibu Pertiwi. Cintaku kepada negeri ini masih sebatas di bibir saja.

Ketika banyak orang yang hanya ribut di medsos menyalahkan berbagai pihak atas terjadinya karhutla di Riau dan Kalimantan, justru ada seorang gadis yang tanpa banyak kata, tanpa pamer di media sosial, langsung terjun ke lapangan berjibaku bersama TNI serta relawan lain memadamkan api di lahan gambut di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Ketika sekelompok mahasiswa berdemo sambil membakar ban menyalahkan presiden, ketika sekelompok perempuan datang ke lokasi kebakaran hanya untuk selfie dan membentangkan bendera HTI, gadis itu sudah empat tahun yang lalu menantang maut memadamkan api.

 

Ada cerita heroik dibalik sosok Intan Syafrini, gadis yang menjadi relawan pemadam kebakaran hutan yang akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan. Berikut fakta-fakta seputar Intan Syafrini dari berbagai sumber:

Pertama, keinginannya untuk menjadi relawan muncul ketika membaca pemberitaan media massa tentang maraknya kebakaran hutan dan kabut asap di Sumatera dan Kalimantan. Dia searching di internet mencari tahu kelompok relawan yang akan berangkat ke Kalimantan agar bisa bergabung.

Kedua, dia tidak mendapat izin orang tua. Dia sampai nangis minta izin dan berdebat dengan orangtua, tapi tetap tak diberi izin. Tekad yang sangat kuat membuatnya nekat berangkat. Dia berangkat dari tempat kos dan hanya memberi tahu adiknya serta eminta untuk dirahasiakan. Hebatnya, dia tak menampik kalau apa yang dia lakukan ini adalah sesuatu yang tidak pantas ditiru karena berangkat tanpa izin orang tua.

Ketiga, dia adalah sosok yang semangat dan sangat berani. Ketika berada di lokasi pemadaman hutan yang terbakar serta di lokasi pembuatan sumur bor, karena saking bersemangatnya, dia sampai lupa akan kondisi fisiknya sendiri. Bahkan anggota TNI yang disitu mengakui kalau dia adalah sosok yang sangat berani.

Keempat, dia punya penyakit gangguan pernapasan. Hal inilah yang membuat kedua orang tuanya tak megizinkan dia berangkat. Berada di area hutan yang terbakar dengan udara penuh dengan asap sangat beresiko bagi kesehatannya. Tapi hal itu tak menjadi soal. Tekadnya menjadi relawan sudah sangat bulat.

Mahasiswi semester 3 (empat tahun yang lalu) Politeknik Media Kreatif Jakarta ini juga tak melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Shalat lima waktu tak pernah ditinggalkan meskipun kondisi di hutan cukup berat tidak ideal untuk beribadah. Saya jadi teringat ketika dulu masih mahasiswa semester 3 saat kemah Pramuka di sebuah bukit dekat Gunung Slamet Jawa Tengah. Medan yang berat, air yang susah di dapat, tempat yang tidak ideal, ditambah baju yang kotor dan basah, benar-benar membuatku malas untuk shalat. Saya benar-benar kagum dan mengapresiasi orang yang tetap menjalankan shalat dalam kondisi seperti itu.
.
Dari gadis 19 tahun (empat tahun yang lalu) asal Bogor ini, saya kira kita bisa belajar banyak hal darinya. Pengabdian dan kecintaannya kepada Tanah Air patut diacungi jempol. Dia rela meninggalkan dunia serba nyaman, enak, dan glamour ala kaum milenial untuk sebuah tugas suci. Ketika kalangan milenial lain sedang sibuk jalan-jalan, bersenang-senang, foto-foto, sibuk update status dan upload foto, dia justru meninggalkan itu semua demi tugas kemanusiaan. Hatinya terpanggil, jiwanya memberontak. Di tak bisa membiarkan karhutla terjadi begitu saja tanpa dia melakukan sebuah aksi nyata.

Tak peduli dia memakai jilbab atau tidak, tak peduli dia beragama apa, yang pasti aksinya benar-benar luar biasa, pantas ditiru, dan harus mendapat apresiasi. Sebagaimana kata Gus Dur, "Tidak penting apa pun Agama atau Sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu".

Dunia ini ternyata benar-benar sangat unik, apalagi di Indonesia. Ketika orang ribut mempermasalahkan hukum jilbab wajib apa tidak bagi perempuan, ketika yang berjilbab syar'i merasa lebih baik dibanding yang tidak berjilbab (mayoritas orang Islam juga berpandangan demikian), ternyata Tuhan menampakkan orang-orang yang tak berjilbab melakukan kebajikan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Saya tidak menampik banyak juga perempuan berjilbab yang berbuat baik dan punya jasa besar untuk masyarakat. Tapi begini, bukan tetang memakai jilbab apa tidak karena itu urusan pribadi masing-masing perempuan dan orang lain tidak boleh intervesi, tapi tentang siapapun yang berbuat baik, melakukan kebajikan, dan berjasa besar untuk masyaraakat, wajibl kita apresiasi. Jangan hanya karena tidak berjilbab, kita justru mengenyampingkan jasanya. 

Ir. Soekarno pernah berkata, "Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia.” Nampaknya jika pemuda-pemudi Indonesia bisa seperti Intan Syafrina, memiliki cinta yang membara kepada Tanah Air, Indonesia benar-benar akan mengguncang dunia.

Foto ini memang foto lama, sekitar bulan november tahun 2015 saat terjadi kebakaran di lahan gambut di Kalimantan Tengah. Tapi bukan tentang kapan, tapi tentang pelajaran yang bisa kita petik dari kepedulian Intan kepadal sesama. Semoga banyak pemuda dan pemudi yang mengikuti jejaknya. Amin.

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Monday, September 23, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: