Bela Rasa

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Samua kita terusap haru saban membaca doa para orangtua mengemuka jadi status di Facebook. Mereka minta kepada Tuhan agar semua rasa sakit yang sedang diderita anak pindah ke tubuh mereka, tak sanggup melihat anak terkasih menanggung rasa nyeri. Keharuan itu kian mencekat tatkala foto sang anak terpampang.

Itu belarasa kemanusiaan, tak jarang juga menghambur ketika melihat ayah atau ibu kandung berusia renta meregang nyawa. Di situ kemanusiaan menemukan momen teragung. Likes, loves, cries, menempel bertubi-tubi di dinding pendoa.

Tak demikian ketika malapetaka menyambar orang-orang di kejauhan. Tsunami di Palu menerbangkan cerita perasaan syukur seorang kapten penerbangan yang berhasil menerbangkan pesawatnya sebelum bencana meluluhlantakkan ia dan seratusan penumpang.

Satu ratapan gak terdengar menjerit ke surga menyesalkan kenapa ia dan para penumpang tak turut tewas dihantam bencana agar sependeritaan dengan mereka yang meregang nyawa.

Begitu juga dengan cerita meledaknya JT160 kemarin pagi. Sebagian ada yang melongo karena selamat dari celaka bersebab kemacetan di tol jagorawi. Para pembaca berita tak putus mengucap syukur karena bukan mereka yang celaka.

Maka kita mendapat bukti tak terbantah: kemanusiaan cuma taik ledik. Moral dan belarasa hanya kosmetika peradaban. Agama dan spiritualitas terasa sebagai gincu murahan. Kita, termasuk saya, cuma bersedia menanggung derita dan nyeri anak-anak kita, tapi bukan tetangga kita, apalagi duaratusan manusia tak dikenal.

Lalu mengapa kita rela mengorbankan raga bagi anak-anak kandung kita?

Itu juga omong kosong, itu bukan bela rasa. Kita mohon Tuhan memindahkan semua penyakit ke tubuh kita karena kita tersiksa melihat mereka menderita. Kesediaan menanggung penyakit mereka sebetulnya untuk menghentikan rasa siksa yang menggerogot diri, bukan demi melenyapkan beban dari tubuh anak-anak kita.

Kita tidak melakukannya kepada tetangga dan orang-orang di kejauhan karena kita tidak merasa tersiksa melihat mereka menderita. Kita bersedih, iya, berduka, juga iya. Menderita karenanya? Tidak sama sekali.

Padahal Sang Guru mengajar agar kita mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Jelas dan telak duaratusan korban JT160 bukan sesama kita. Demikian juga ratusan orang tewas di Palu dan Donggala.

Maka pernyataan iman di status FB, di ciapan Twitter, atau di etalase Instagram, terasa memuakkan. Semua tahlil Halleluyah, takbir Yesus Maha Besar, cuma racauan pemabuk.

Mulai sekarang, malulah pada diri sendiri. Gak usah lebay beragama, gak usah agung-agungkan agamamu.

Taik kebo itu semua.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Tuesday, October 30, 2018 - 11:00
Kategori Rubrik: