Bela Negara Wujud Pertahankan NKRI

Ilustrasi

Ancaman potensial yang dihadapi Indonesia pada saat ini adalah globalisasi. Meski tidak dimungkiri jika di dalamnya ada pula manfaat potensial. Apakah bahaya potensial dalam globalisasi? John Naisbitt menjelaskan bahaya yang bersembunyi di balik globalisasi adalah fragmentasi internal hingga disintegrasi bangsa. Menurutnya, semakin besar demokrasi menjadi cara pandang berbangsa dan bernegara, maka semakin banyak jumlah negara di dunia. Artinya, hal itu akan menguatkan identitas lokal untuk bertarung merebut pengaruh. Menguatnya tribalisme dan primordialisme atau lokalisme merupakan salah satu cara suatu kelompok masyarakat wilayah atau suatu etnik merespon bola liar globalisasi dengan demokrasi sebagai salah satu anak emasnya.

Di sini arti penting Bela Negara sebagai cara pandang menguatkan eksistensi diri. Indonesia memiliki perspektif dan argumentasi kuat tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi adalah landasan yang telah menjadi konsensus dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun, jika demokrasi tidak dilandasi dengan cara pandang yang benar, akan menjadi ancaman bagi Indonesia di kemudian hari.

Semakin kecang demokrasi berhembus tanpa dibatasi dengan kesadaran Bela Negara atau menguatnya spirit nasionalisme, dikhawatirkan dapat mengencangkan pula kecendrungan untuk penguatan tribalisme atau lokaisme yang sekaligus membuka peluang bagi pemecahan atau pemisahan diri. Ini tentu sangat berbahaya bagi NKRI sebagai sebuah keutuhan bangsa dan negara.

Kita tentu tidak ingin menjadi seperti Uni Soviet. Negara adikuasa itu mulanya terdiri dari 140 kelompok etnis yang diakui secara resmi. Pada awalnya, Soviet hanya satu negara, namun melalui gerakan glasnost dan perestroika (nama lain untuk reformasi dan demokratisasi), negara itu pecah menjadi 15 negara dan dalam proses untuk akhirnya menjadi 70 negara.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari ratusan etnis. Jika cara pandang Bela Negara dan spirit nasionalisme tidak dikedepankan, bukan tidak mungkin, Indonesia akan terpecah menjadi ratusan negara seperti yang dialami Soviet. Ini tentu menjadi hal yang tidak kita inginkan.

Indonesia tidak menentang demokrasi karena secara universal diyakini merupakan cara terbaik dalam pengelolaan negara/pemerintahan dan bagi bangsa Indonesia, demokrasi sudah menjadi amanat konstitusi. Negara kita juga tidak pada posisi menolak globalisasi yang justru tidak terhindarkan dengan cara apapun.

Namun, yang perlu kita sadari adalah betapa besar resikonya manakala kita tidak waspada atau menganggap semuanya akan baik-baik saja atau berjalan seperti biasanya. Tentunya akan menjadi ancaman bagi Indonesia jika demokratisasi dilakukan secara instan-radikal tanpa didorong oleh idealisme kebangsaan dan nasionalisme.

Kita harus melihat realitas kondisi masyarakat yang dari segi edukasi dan ekonomi masih memprihatinkan. Coba bayangkan apa yang bakal terjadi di Indonesia dengan lebih dari 300 kelompok etnik yang berdiam di tiga ribu pulau. Siapa yang bisa menjamin eksistensi dan keutuhan bangsa ini jika tidak sejak sekarang kita memagari diri dengan kesadaran Bela Negara dan nasionalisme yang kokoh tangguh?

Ancaman lain datang dengan menguatnya fundamentalisme agama atau primordial sempit yang dibarengi radikalisme yang secara ekstrem termanifestasi dalam terorisme. Kita tidak bisa menyangkal bahwa ini semua menjadi buah dari pengaruh negatif globalisasi.

Program Bela Negara menjadi salah satu cara untuk menangkal ancaman yang bisa meruntuhkan eksistensi NKRI. Jika ada 100 juta kader yang loyal terhadap bangsa dan negara, maka sedikit banyak ancaman-ancaman globalisasi, seperti yang sudah disebut di atas, akan bisa diantisipasi sedini mungkin. (*)

Oleh Malik Brewok (Kompasiana)
 

Sunday, January 24, 2016 - 21:00
Kategori Rubrik: