Beha

ilustrasi

Oleh : M Kholid Syeirazi

Ini pertanyaan iseng, tapi bisa jadi serius. Waktu turun ayat jilbab dan khimar, apakah wanita Arab sudah mengenal dan mengenakan beha atau kutang? Saya membuka banyak kitab tafsir, saya tidak menemukan keterangan soal pakaian dalam. Salah satu fungsi pakaian, selain menutup aurat, tentu saja adalah melindungi organ tubuh manusia dari kerawanan. Organ tubuh wanita yang paling rawan, dalam pengertian hakiki dan majazi, adalah payudara.

Di zaman Rasulullah, dari teks-teks riwayat yang saya tahu, wanita Arab hanya mengenal dua konsep pakaian yaitu pakaian atas dan pakaian bawah. Pakaian atas bisa berujud selendang besar mirip selimut (al-marth), al- rida' (selendang yang lebih kecil), al-dir' (pakaian dengan lobang leher dijahit tetapi tidak di bagian kedua lengannya), dan qamisy yang mirip dengan al-dir'. Pakaian bawah berupa izar, semacam sarung atau kebaya. Jenis-jenis pakaian ini semuanya adalah pakaian luar. Belum ada konsep pakaian dalam, seperti beha, yang merupakan produk budaya modern.

Ketika turun ayat jilbab dan khimar, kita bisa bayangkan cara berpakaian wanita Arab saat itu. Ketika mereka mengenakan al-dir' yaitu pakaian atas dengan tiga lobang (lobang leher yang dijahit dan lobang lengan yang tidak dijahit), tanpa kerudung atau mengenakan kerudung tetapi ujungnya dililit ke belakang, kemudian mereka merunduk padahal tidak mengenakan pakaian dalam, apa yang terjadi? Kedua payudaranya 'terekspose' secara bebas. Karena itu, turunlah perintah untuk mengulurkan jilbab (QS. Al-Ahzab: 59) dan khimar (QS. An-Nur: 31) untuk menutup bagian dadanya yang rawan.

Kini peradaban modern mengenal banyak jenis pakaian dalam. Bagi wanita, ada korset, ada beha, ada kaos dalam dll yang menjadi pelindung berlapis bagi organ dalam perempuan. Semangat dari syariat (maqashid syariah) adalah melindungi agama, jiwa, akal, harta, keturunan, dan kehormatan manusia, termasuk dalam urusan busana wanita. Pakaian wanita, sejauh memenuhi tujuan-tujuan ini, apapun jenisnya, sudah bisa dianggap memenuhi ketentuan syariat, tanpa harus diberi embel-embel syar'i. Artinya, ada konteks ruang-waktu yang harus dipertimbangkan dalam membaca ketentuan agama. Pakaian Arab, baik dulu maupun sekarang, tentu beda dengan busana Nusantara. Kita ambil saripati ajaran Islam, tanpa perlu mengagungkan budaya Arab.

Demikian. Selamat Jum'atan.

Sumber : Status Facebook M Kholid Syeirazi

Saturday, January 25, 2020 - 17:15
Kategori Rubrik: