Begenggek Lebih Baik dari Mereka...

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Apa Anda pernah mendengar kata "begenggek"? Kata ini cukup populer di sebagian daerah di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, dan menjadi "ritual" ucapan sehari-hari buat orang-orang dari kelas sosial tertentu.

Kata "begenggek" juga digunakan sebagai umpatan untuk mengekspresikan kemarahan terhadap seseorang seperti kata "bajingan" misalnya. Contoh: "Dasar begenggek!"

 

 

Lalu apa arti kata "begenggek"? Kata ini kurang lebih berarti seorang "wanita tuna susila" atau "kupu-kupu malam" atau pelacur atau "lonte". Yang terakhir ini untuk kategori Bahasa Jawa yang "ngoko ekstrim". Wong Londo bilangnya "whore" atau "prostitute".

Sengaja saya pakai tanda petik untuk istilah "wanita tuna susila" ini. Silakan artikan sendiri maknanya. Sampai sekarang saya heran kenapa tidak ada sebutan "pria tuna susila"? Untuk pria, kenapa sebutannya adalah "pria hidung belang"? Dan kenapa pula mereka disebut sebagai "tuna susila"?

Kenapa sebutan "tuna susila" itu tidak dialamatkan ke koruptor misalnya atau penegak hukum yang ngawur, tidak adil, dan "moto duiten"? Kenapa bukan diarahkan ke para politisi busuk? Bukankah mereka itu sejatinya juga "tuna susila" selain "tuna hati nurani" dan "tuna akal sehat?

Selain kata "begenggek", ada juga di sebagian daerah di Jawa Tengah kata "tlembuk" yang juga berarti "pelacur". Di Semarang, ada istilah "ciblek" yang diplesetkan menjadi "cilik ireng bunder elek" (kecil hitam bulat jelek). Kayak apa ya bentuknya? Konon kata "ciblek" itu singkatan yang bener adalah: "cilik-cilik betah melek" (kecil-kecil tahan begadang). Kalau di daerah Anda apa namanya?

***

Ngomong-ngomong soal "begenggek" ini atau apalah istilahnya, saya sama sekali tidak setuju kalau ia "disampahkan" atau "ditunasusilakan".

Seburuk-buruknya begenggek, apa yang ia jual dan ecer-ecer itu adalah tubuhnya sendiri, "barangnya" sendiri, "perabotannya" sendiri atau "empal brewoknya" sendiri atau "apem gosongnya" sendiri? Begenggek tidak menjual barang, perabotan, furniture, empal dan apem milik orang lain?

Bukan hanya itu saja, begenggek menjual miliknya untuk tujuan mulia: membiayai kebutuhan hidup keluarga dan anak-anaknya.

Bukan hanya itu saja, hasil dari jualannya itu juga untuk membantu tetangga, kegiatan keagamaan, membantu masjid, untuk sedekah, dan sebagainya?

Bukan hanya itu saja, bukankah begenggek juga telah turut membahagiakan banyak orang, khususnya para lelaki titit belang? Bahkan mungkin mereka yang sok suci alim dan moralis dan hobi mengumpat para begenggek juga pernah (atau sering) merasakan jasa para begenggek?

Bagiku, apa yang dilakukan oleh para begenggek jauh lebih baik ketimbang para koruptor alias garong alias maling duit rakyat!

Bagiku, begenggek jauh lebih baik ketimbang agen haji / umroh yang mengemplang duit umat Islam!

Bagiku, begenggek jauh lebih baik ketimbang para pengkhotbah yang pletar-pletor khotbah tapi minus rasa kemanusiaan.

Bagiku, begenggek jauh lebih baik ketimbang para politisi bodong yang hobinya menipu rakyat!

Bagiku, begenggek jauh lebih baik ketimbang para penegak hukum yang ngawur dalam memutuskan sebuah perkara hukum!

Bagiku, para begenggek jauh lebih baik ketimbang para birokrat yang suka maling duit anggaran negara!

Bagiku, begenggek jauh lebih baik ketimbang kaum teroris dan ekstrimis yang membunuh orang atas nama agama dan Tuhan!

Bagiku, begenggek jauh lebih baik ketimbang para "makelar politik" yang hobi menyuap demi memuluskan proyek!

Bagiku, begenggek jauh lebih baik ketimbang kaum agama yang sok bermoral dan relijius tapi hatinya jahat, otaknya kotor-njetor, dan perilakunya bejat-jat yang tidak memiliki rasa perikemanusiaan dan perikehewanan.

Terserah Anda mau bilang apa, tapi inilah sikap dan pandanganku tentang begenggek!

 

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Wednesday, September 19, 2018 - 22:00
Kategori Rubrik: