Beda Sikap antara Din Syamsudin dan Syekh Ali Jaber Terhadap Kasus Penusukan

ilustrasi

Oleh : Ediez Eidelweiss

Din Syamsudin memang cukup berbahaya. Dia pandai sekali memprovokasi ummat. Pandai memperbesar bara api. Benar² seperti kompor. Isu apapun akan diframing sedemikian rupa untuk membuat emosi ummat meluap².

Tujuannya hanya satu, membuat narasi bahwa pemerintah Indonesia dalam hal ini aparat tidak bisa melindungi para ulama. Endingnya isu kriminalisasi ulama kembali muncul.

Kasus penusukan yg menimpa Syekh Ali Jaber saat memberi kajian di Lampung memang sangat memilukan. Sangat memilukan ketika ada ulama sedang berdakwah malah mendapat kekerasan.

Tindakan menyakiti orang lain di tengah keramaian adalah tindakan yg sangat berani. Sangat mungkin hanya orang yg bodoh atau gila yg mau melakukannya. Ibaratnya dia mempersilahkan dirinya untuk jadi amukan massa. Dia seperti seekor kambing yg tiba² menyerang ketua harimau di tengah rombongan harimau.

Saya setuju jika penusuk Syekh Ali Jaber dihukum semaksimal mungkin sesuai dg kadar kejahatannya. Saya juga setuju jika para ulama yg sedang berdakwah lebih ditingkatkan lagi perlindungannya, terutama oleh aparat. Jangan sampai kasus penusukan terhadap ulama kembali terjadi.

Namun saya sangat tidak setuju jika insiden ini diframing sedemikian rupa untuk membangkitkan emosi ummat Islam sebagaimana yg dilakukan oleh Din Syamsudin. Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia atau MUI, Din Syamsuddin mengecam aksi penusukan terhadap Syekh Ali Jaber saat tengah berdakwah di Bandar Lampung, Minggu (13/9/2020) sore.

Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi terhadap ulama dan kejahatan berencana terhadap agama dan keberagamaan.

Din Syamsuddin juga mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas dan mengungkap pelaku dibalik aksi penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber. Dia meminta Polri bersungguh² memproses pelaku hingga ke pengadilan dg tuntutan hukum yg maksimal.

Saya kira pernyataan Din Syamsudin sangat berlebihan. Dia terlihat bukan seorang intelektual dari caranya menanggapi kasus penusukan Syekh Ali Jaber. Dia benar² tidak memakai asas praduga tak bersalah.

Dia yg tidak ada di lapangan ketika Syekh Ali Jaber ditusuk, namun sudah berani mengklaim bahwa kasus ini termasuk kriminalisasi ulama dan kejahatan berencana. Dia bahkan terlihat lebih hebat dari penyidik karena bisa membuat kesimpulan tanpa melihat kejadian secara langsung kasus penusukan tersebut. Dia seperti seorang dukun peramal.

Uniknya, Din Syamsudin menyampaikan nasihat kepada umat Islam agar tenang dan dapat menahan diri serta tidak terhasut oleh upaya adu domba. Justru framing darinya terhadap kasus penusukan Syekh Ali Jaber yg membuat umat makin meluap emosinya. Umat akan semakin emosi ketika kasus penusukan ini dibilang sebagai kriminalisasi ulama dan kejahatan berencana.

Jujur saya heran melihat sikap Din Syamsudin. Dia bukan korban penusukan. Namun responnya sangat lebay bahkan memframing kasus penusukan sedemikian lebay. Sangat berbeda sekali dg sikap Syekh Ali Jaber selaku korban.

Meskipun menjadi korban penusukan, Syekh Ali Jaber diberitakan sejumlah media justru melindungi pelakunya, AD (24), dari amukan warga di kawasan Masjid Falahuddin, Tamin, Tanjungkarang.

Syekh Ali Jaber hanya tak menyangka jika pelaku yg begitu kurus berani melakukan hal tersebut. Menurut Syekh Ali Jaber, dg fisik seperti pelaku, mustahil untuk melakukan penusukan tersebut.

"Saya merasa kalau melihat dari wajahnya ketika saya berhadapan dan diamankan, tampaknya bukan hal mudah untuk melakukan hal seperti ini, seperti ada dorongan atau ada yg menyuruh," tutur Syekh Ali Jaber.

"Karena saya lihat dari segi fisik, dia tidak mungkin. Butuh mental yg kuat untuk melakukan hal seperti ini," kata Syekh Ali Jaber.

Jujur melihat beda sikap antara Din Syamsudin dan Syekh Ali Jaber menjadi dongkol sendiri. Syekh Ali Jaber sebagai korban malah melindungi pelaku dari amukan massa, Din Syamsudin yg bukan korban malah membuat klaim² lebay yg bisa membuat emosi ummat Islam meluap².

Hal ini semakin menunjukkan mana yg benar² ulama, dan mana yg provokator, kompor meleduk.

Meskipun Din Syamsudin menjadi Ketua Dewan Pertimbangan MUI, tak terlihat sekali akhlak² seorang ulama yg nampak darinya. Dia lebih terlihat sebagai provokator. Ulama itu harus mengedepankan positif thinking (husnudzon), bukan negatif thinking (su'udzon). Ulama juga menghormati proses hukum yg berlaku.

https://s.id/r8GiK
https://s.id/r8GST
#DejaVu

Sumber : Status Facebook Ediez Eidelweiss

Thursday, September 17, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: