Beda Konteks Antara Memaafkan Ahok Dan Prabowo CS

Ilustrasi

Oleh : Judiarso Kurniawan

Dulu pak Ahok dizalimi pak Makruf Amin. Sekarang udah nggak. Kalau pak Ahok memaafkan pak Makruf Amin, itu bukan lantas bisa disimpulkan pak Ahok ga punya prinsip.

Umar bin Khattab dulunya musuh kaum muslim. Setelah masuk islam, beliau malah jadi pembela islam sejati. Apa susahnya nabi Muhammad memaafkan kesalahan Umar yg dulu. Malah rugi orang yg potensial insyafnya tinggi tidak dimaafkan. Apalagi punya pengaruh besar. Keliru dong kalau nabi Muhammad disimpulkan ga punya prinsip.

Ahokers lihat sendiri pak Makruf Amin menyatakan di pengadilan kalau pak Ahok penista agama. Itu dulu. Sekarang udah ga berani bilang gitu lagi. Sekarang dia malah ada di barisan depan pak Jokowi, pihak yg dimusuhi para penuduh pak Ahok penista agama. Sudah bagus kalau Ahokers tdk menaruh dendam kpd pak Makruf Amin. 

 Apalagi sebelum pak Makruf Amin mendukung pak Jokowi sbg cawapres pak Jokowi, pak Makruf Amin sbg ketua MUI memfatwakan bahwa muslim boleh mengucapkan selamat natal kpd umat kristen, tanpa peduli kaum pembenci pak Ahok tidak setuju dgn fatwa tsb. Jadi kalau Ahokers dukung pak Jokowi sbg teman pak Ahok nyapres tanpa mempersoalkan pak Makruf yg pernah menzalimi pak Ahok sbg cawapresnya, itu sudah pantas disebut Ahokers smart. Ga pantas disebut Ahokers ga punya prinsip.

Prinsip itu penting, tapi pemahaman dan penerepan prinsip itu tidak kalah penting mengingat peristiwa dalam kehidupan ini sangat dinamis, kadang bersifat ideal, kadang bersifat tidak ideal atau bahkan darurat shg memerlukan perubahan cara mensikapinya. Apapun perubahannya, yg penting perubahan itu dihasilkan dari pikiran dan nurani yang smart dan waras. Dari pikiran dan nurani yang smart dan waras itulah lebih bisa diharap solusi yg kaya akan manfaat dan miskin akan mudharat.

Sumber : Status Facebook Judiarso Kurniawan

Saturday, October 13, 2018 - 23:15
Kategori Rubrik: