Bayi dan Perlindungan Ibu Melalui ASI

ilustrasi
RedaksiIndonesia-Sejak melahirkan, seorang ibu dari jenis makhluk apapun, adalah pelindung bagi bayinya yang masih sangat rentan. Sang Pencipta memberikan kemampuan dan kepekaan bagi seorang ibu untuk memberikan makan, mengetahui apa yang diperlukan bayinya meskipun tanpa komunikasi verbal yang mumpuni. Oleh karenanya, sangat lah berbahaya memisahkan seorang bayi dari ibunya, khususnya di masa awal kehidupannya, yaitu pada saat bayi masih menyusu.
Air Susu Ibu adalah apa yang disebut sebagai "cairan kehidupan" yang berisi bukan hanya nutrisi yang diperlukan untuk tumbuh kembang bayi, namun juga antibodi dari ibu yang berfungsi membentengi bayi dari berbagai infeksi. Seorang yang sedang mengalami flu atau pernah mengalami infeksi apapun akan memberikan antibodi yang sama untuk bayinya melalui ASI.
Selain itu, pada bayi yang mengalami bilirubin tinggi pada saat lahir atau beberapa hari sesudahnya, yang biasanya dirujuk untuk rawat inap dan menjalani terapi ultra violet, sebenarnya bisa diberikan ASI sebanyak-banyaknya tanpa harus mengalami risiko kulit menghitam atau dehidrasi sebagaimana yang diakibatkan oleh terapi ultra violet. Di dalam ASI terdapat pencahar alami yang akan membuat bayi mengeluarkan kelebihan bilirubin tersebut hingga ke batas normal.
Seringkali keajaiban ASI diremehkan oleh petugas kesehatan yang kemudian ditularkan pada ibu-ibu baru. Penawaran susu formula sebagai pengganti ASI marak dilakukan, padahal kandungan nutrisi dan zat-zat yang diperlukan tubuh bayi dalam susu formula tersebut sangat jauh di bawah ASI. Kondisi ibu pasca melahirkan dan belum mengeluarkan ASI, atau kondisi bayi yang bermasalah/sakit selalu dijadikan alasan untuk pemberian susu formula.
Padahal, air susu ibu yang belum keluar tidak akan menjadi masalah bagi bayi, karena makanan yang ada di dalam lambung bayi setelah dilahirkan bisa menjamin kehidupannya selama 3x24 jam kemudian. Pijat oksitosin, pijat pasca melahirkan dan istirahat cukup sembari memandang wajah bayi dengan penuh kebahagiaan akan merangsang produksi dan pengeluaran ASI. Bayi yang lahir bermasalah, baik prematur, ketuban pecah dini, ataupun sakit, tidak boleh dipisahkan sama sekali dengan ibunya.
Ketika bayi prematur kesulitan bernafas, pelekatan kulit dengan kulit menggunakan metode kangguru adalah solusi yang terbaik dibandingkan penggunaan inkubator dan respirator. Tubuh ibu akan mengikuti keperluan suhu tubuh bayi secara otomatis; bila bayi kedinginan, suhu tubuh ibu akan naik satu derajat dari suhu tubuh ibu, dan sebaliknya. Pola nafas ibu juga akan diikuti secara instingtif oleh bayi, yang telah mengenal ibunya sejak dari dalam kandungan.
Begitu juga bila bayi sakit, atau terlahir dalam masa wabah. Hal utama yang harus dilakukan setiap orang di sekeliling bayi adalah mendukung sang ibu untuk sepenuh hati memberikan ASI pada bayinya. Tubuh ibu yang mengenali ancaman virus, bakteri dan mikrobiota yang ada di lingkungan akan memproduksi antibodi IgG. Antibodi ini akan terbagi rata antara tubuh ibu dan tubuh bayi melalui ASI yang diberikan.
Antibodi IgG yang diberikan ibu melalui ASI pada bayi yang sakit, misalkan terpapar/terinfeksi Covid-19, adalah pengobatan yang sempurna untuk bayi. Hal ini terjadi karena ibu dan bayi sudah berbagi darah sejak dari dalam kandungan, dan tidak perlu ada lagi proses filtrasi dan adaptasi. Bayi juga akan mendapatkan rasa aman dan tentram, yang dia butuhkan untuk kembali pulih.
Oleh karenanya, jangan lagi terjadi tindakan pemisahan ibu dan bayi dalam keadaan apapun, dengan alasan apapun. Sang Pencipta memberikan pelindung bagi setiap bayi, yaitu seorang ibu yang sudah diperlengkapi dengan insting keibuan dan ASI. Perlu ditanamkan dalam pikiran setiap manusia bahwa ASI adalah obat dari segala obat, nutrisi terbaik, serta asupan pertahanan tubuh paling mumpuni untuk awal kehidupan bayi.
 
Sumber : Status Fanspage HEAL Community
Thursday, October 1, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: