Bayangan Ibunda

ilustrasi

Oleh : Feriawan Agung Nugroho

“Pak’e, pinjem telponnya yaa..”

Cherry, salah seorang anakku yang berkebutuhan khusus di Balai ini menyapa sore ini. Saat itu saya sedikit serius dengan laptop dan laporan pekerjaan. Tampak Cherry sudah mandi dan berpakaian rapi. Tadi pagi dia menerima raport. Naik kelas.

“Mau telpon siapa, Cherry?”

“Ibu.”

“Yoh sana. Salam yaa untuk Ibu..”

Cherry tidak menyahut. Langsung saja menuju pesawat telepon setelah melempar senyum sejenak.

Anak-anak di Balai ini mendapat kebebasan untuk meminjam telepon kantor untuk menghubungi keluarganya, siapapun yang masih ada. Dalam masa covid ini, apalagi, dimana tidak satupun keluarga diizinkan untuk menyentuh mereka secara langsung, komunikasi lewat telepon menjadi penting.

Di sela jemari ini asyik dengan laptop, suara Cherry terdengar jelas dari balik ruangan.

“Ibu, aku kangen...Gimana kabarnya...”

“Aku naik kelas, Bu...”

“Ibu kapan bisa ke sini?”

“Ya...tapi bawakan hadiah yaa....”

“Iya..iya aku nggak nakal...Aku sholat kok...”

....

Begitu seterusnya. Mungkin lebih dari sepuluh menit. Sampai kemudian tiga orang anak perempuan lain masuk di ruang kerja ini.

“Pak’e aku pinjem telpon yaa...,” kata Intan, salah seorang dari mereka.

“Mengko dhisik. Ditunggu. Gantian. Itu lagi ada Cherry di sana. Kalian tunggulah dulu.”

“Halah selak penting jee...,”kata Intan.

Saya sedikit terganggu dengan Intan. Lebih nggak enak lagi untuk mengeraskan pembiacaaan, karena terdengar sepertinya Cherry menangis.

“Iya penting. Tapi hargai dong kepentingan orang lain juga. Rada jauh sana, kan nggak enak orang lagi telpon ibune kok ditunggui. Sonoh rada jauh...” hardik saya pada Intan dan temannya.

Dengan wajah agak kesal, Intan melangkah agak menjauh ditemani dua temannya. Tetapi ketika saya sudah terlena dengan laptop, mereka masuk lagi mendekati telepon yang masih dipakai Cherry yang saat itu seperti ada keharuan.

“Ibu...Mbok ya ke sini tho, aku kangen...(terisak)”

“...iya buk....(terisak)”

Intan tiba-tiba mendekati saya. Dua temannya yang saat itu tertawa tertahan. Cekikikan.

“Pak Feri...sini tho. Mbok dilihat...”

“Sst...ora pareng!,”kata saya setengah berteriak.

“Sini tho.....,”Intan seperti serus memanggil saya.

Ah, terpaksa saya mendekat. Melihat langsung bagaimana Cherry yang sedang menelpon itu matanya memerah dan meneteskan air mata. Duh, lagi kayak gitu kok ya anak-anak ini ngganggu.

“Itu loh”

Jari telunjuk Intan mengarah ke layar monitor telepon.

Astaghfirullah....

Cherry semakin menangis tersedu-sedu. Ekspresinya sedih sekali saat itu.

“Sudah ya Bu. Ibu aku tunggu di sini. (terisak) Pokoknya harus ke sini, aku kangen banget....”

Cherry mengakhiri pembicaraanya. Ditutupnya gagang telepon sambil berlari dengan wajah masih mandi air mata. Tersedu. Dia berlari diiringi dengan tawa tertahan Intan dan temannya. Berlari sampai hilang di balik pintu.

Saya berdiri terdiam, terpaku. Perasaan tidak karuan, campur aduk antara kasihan dan shock. Tidak tahu harus berbuat apa. Sungguh nggak karuan demi melihat Cherry dalam kondisi demikian. Saya masih ingat betul nomor yang dia hubungi. Nomor yang jelas tertera di layar monitor tadi. Sangat ingat. Pada layar tertulis:

Sumber : Status Facebook Feriawan Agung Nugroho Full

Friday, July 3, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: