Bayang-Bayang Radikalis, Organisasi Terlarang HTI & Teroris ISIS Dibalik Capres

Oleh: Ricky Apriansyah

 

Yang mengerikan tentang Indonesia saat ini bukan sekadar bayang-bayang radikalisme. Namun bagaimana radikalis-radikalis itu berusaha mendompleng kekuasaan, menjadikan kekuasan sebagai legitimasi aksi radikalisme bahkan terorisme yang mereka lakukan.

 

 

Lihatlah pada kelompok mana radikalis-radikalis itu menitipkan agendanya. Jelas sekali, mereka berkumpul di salah satu poros yang ikut berlaga dalam kontestasi Pilpres tahun 2019. Sang Capres boleh berkilah dan mengatakan apapun untuk tidak mengakui kenyataan di depan mata. Tapi entah sadar atau tidak, dia tampil dengan menggendong kekuatan radikalis.

Belum berkuasa saja aroma radikal sudah terasa. Fitnah, hoax dan caci maki kepada pemerintah sekarang sebagai  petahana luar biasa. Pendukung calon yang berseberangan distigma kafir, munafik dan lain sebagainya. Stigma-stigma seperti ini sangat khas dilontarkan kader-kader partai sapi yang sudah disusupi paham radikalis. Maklumlah mengingat sebagian besar pengikut partai ini juga anggota organisasi terlarang HTI.

Ingat-ingat juga siapa yang membela setiap terjadinya aksi terrisme di negeri ini? Mereka mereka itulah. Siapa yang membela aksi ISIS? Kelompok itu juga. Entah apa jadinya kalau mereka benar-benar mendapatkan kekuasaan. Tentu saja kekuasaan itu akan dibunakan untuk melegalisasi radikalisme dan bahkan terorisme yang dilakukan.  

Organisasi terlarang HTI yang ingin mengganti Pancasila dengan ideologi kholafah ditambah teroris ISIS  agaknya memang tak bisa dipisahkan dengan pendukung partai yang selalu mengatasnamakan agama dalam setiap aksi brutalnya. Dan partai itu sekarang mendukung salah satu kelompok yang akan bertarung di Pilpres 2019. ISIS adalah kelompok yg korup, bejat, sadis, tak bermoral yang bertujuan menghancurkan Indonesia, sebagaimana mereka menghancurkan sejumlah negara lain di jazirah Arab.

Lalu apa jadinya kalau mereka kita biarkan mencapai tujuannya? relakah Anda kalau mereka berkuasa?

Wednesday, September 19, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: