Batu Itu

ilustrasi

Oleh : Goenawan Muhammad

Kita ini Sisifus, kata seorang teman. Wajahnya lelah.

Kita berjerih payah mendorong batu harapan mencapai puncak. Kita berhasil memilih seorang presiden dengan jujur dan merasa lega bisa menyiapkan masa depan. Tapi segera kita tahu, momen lega itu tak lama. Kini batu karang yang kita naikkan itu mulai merosot, terancam menggelinding kembali ke bawah. Demokrasi merapuh. Partai politik dikuasai orang-orang yang bertindak seperti pemilik yang praktis bisa melakukan apa saja dan tak bisa diganti. Republik jadi sebuah oligarki. Mereka kendalikan Parlemen, mereka memaksakan kehendak bahkan ke Presiden — yang akhirnya beraliansi dengan mereka. Pada gilirannya para juragan politik ini akan membuat kita, rakyat, hanya sebagai papan pengganjal. Harapan kepada demokrasi kelar.

Kita ini Sisifus, kata teman tadi.

Dengan memakai perumpamaan itu, batu karang yang kemarin kita letakkan di pucuk gunung, harapan itu, akan bergeser. Kelak, (malah mungkin tak lama lagi), ia akan jatuh sampai ke dasar, dan kita — atau generasi setelah kita — akan megap-megap memunggahnya lagi ke puncak.

Kita Sisifus, kata teman itu mengulang.

Umur saya cukup tua untuk tahu, ia sedang bicara tentang sejarah politik Indonesia seraya membaca perumpamaan terkenal yang diadopsi Albert Camus dari dongeng Yunani kuno.

Sejak 1945, sejak Republik Pertama, harapan mekar: Indonesia akan tumbuh dalam keadilan dan kemerdekaan. Tapi hanya dalam beberapa dasawarsa, harapan itu retak-retak. Sistem politik diubah, sampai lima atau enam kali, dan bentuk-bentuk Republik yang berbeda dicoba. Tiap kali kita ingin merasa keadaan sudah beres, tapi tidak.

Apa gerangan yang akan terjadi jika kita tambah sadar, masa depan yang kita rancang tak pernah didapat dan kita harus tiap kali kembali mendorong batu itu ke puncak gunung?

Dalam le Mythe de Sisyphe Camus, takdir para dewa atas Sisifus — atas manusia -— berat dan ganjil, dan tak ada jalan keluar. Pandangan ini, amat muram, pernah dikecam sebagai “pesimisme” Eropa setelah Perang Dunia ke-II yang tak cocok dengan sebuah bangsa yang sedang bangkit.

Tapi tidak. Camus justru menunjukkan semacam optimisme yang tak lazim. Di ujung esei filsafatnya yang kita kutip itu, Camus mengatakan, kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.

“Saya tinggalkan Sisifus di kaki gunung itu. Manusia selalu menemukan lagi bebannya. Namun Sisifus mengajarkan kesetiaan yang lebih luhur, yang menampik dewa-dewa dan dengan sikap itu mengangkat batu. Ia menyimpulkan bahwa semua beres. Alam semesta ini, yang sejak itu tak punya penguasa, baginya tak mandul atau sia-sia…Perjuangan itu sendiri, menuju ke ketinggian, cukup memenuhi hati manusia. Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.”

Kalimat penutup itu memang agak meragukan; saya tak bisa membayangkan Sisifus “berbahagia”. Tapi agaknya—-sebagaimana yang kita rasakan kini setelah menempuh sejarah panjang Indonesia — yang tumbuh adalah sikap yang tak lagi naif.

Dari harapan-harapan yang tak terkabul, dari antusiasme yang terbentur, “tak lagi naif” tak harus getir dan ngambek kepada sejarah. Atau mencemooh semua, dan tak mempercayai tiap ikhtiar perubahan. “Tak lagi naif” berarti kita lebih teguh, mungkin angkuh, bangga bisa bertahan. Pada Sisifus, kata Camus, tampak contoh “sebuah wajah yang seraya bekerja keras begitu dekat dengan batu, telah merupakan batu sendiri”.

Dan “ikhtiarnya tak akan berhenti.”

Tapi ke mana?

Tak gampang menjawab itu. Perjuangan ke kehidupan yang berkeadilan dan berkebebasan —- perjuangan demokrasi — rasanya telah kehabisan desain.

Pernah ada masa ketika orang-orang pintar memperhitungkan bahwa keadilan — dalam arti distribusi kekayaan yang merata — akan terjadi jika kekayaan di masyarakat kian tumbuh. Si kaya tak perlu dipaksa, dengan dikenai pajak, membagikan kekayaan mereka ke lapisan masyarakat yang berkekurangan. Dalam pandangan yang dikenal sebagai teori trickle down effect ini pemerataan diyakini akan terjadi dengan cara yang diumpamakan John Kenneth Galbraith secara kocak: “bila kuda diberi makan cukup banyak dedak, dedak itu akan tercecer untuk burung layang-layang”.

Tapi apa lacur: sampai hari ini, si kuda makin gemuk dan ribuan burung layang-layang tetap lapar. Negara, yang sering diharapkan akan mengelola pemerataan secara lebih baik, telah jadi alamat yang salah. Oligarki makin menghambat proses. Ketika para juragan politik mengkonsolidasikan diri dengan memusatkan uang dan kekuasaan di tangan mereka, ketidak-adilan membentuk bangunan permanennya sendiri.

Siapa yang bisa mengubah itu, bagaimana mengubah itu — itu pertanyaan yang jadi klasik karena tak kunjung terjawab. Demokrasi parlementer akhirnya, seperti kita saksikan, mengalami distorsi. Cara lain pemerataan, revolusi sosialis yang pernah dicoba di Rusia, Tiongkok dan lain-lain, juga melenceng. Dalam sejarah perjuangan yang panjang, manusia memang Sisifus.

Tapi entah kenapa manusia tak bisa berhenti. Mungkin tiap kali kita maju dengan sikap yang berbeda. Kita bisa makin tangguh sekeras batu, tapi juga lebih rendah hati: mencari yang tak mutlak. Sisifus tetap dengan setia mendorong batu sampai puncak, tapi tahu, dalam kata-kata Camus, “tak ada matahari tanpa bayang-bayang, dan sungguh penting mengenal malam”. Siapa yang mengharap terang yang absolut, akan kecewa secara absolut.

Sumber : Status Facebook Goenawan Mohamad

 

Thursday, November 7, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: