Bastian dan Kebenaran yang Setengah

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Ketika pertama kali membaca postingan paman Bastian, komentar saya adalah ini tulisan yang too good to be true.Terlalu sempurna penderitaan yang dikabarkan. Bastian dan ibunya adalah totally victim yang tidak berdaya sama sekali meskipun ibaratnya digebuki terus-terusan. Jadi saya pandang tulisan itu misleading kalau tidak boleh dikatakan lebay. Jadi hoax.

Saya baru komentar setelah ada postingan dari seorang anggota GP Ansor yang mengatakan ada miskomunikasi. Apalagi disebut sekolah Bastian sangat plural. Ini menegaskan bahwa yang diposting pamannya adalah tidak semuanya benar. Jadi saya tetap mengatakan postingan sang paman itu hoax. Sampai sekarang.

Loh Bastian itu dibully kok. Dikatain Ahok,dimasukin pasir dari kerahnya. Ini lho rekamannya.. Masih gak percaya? Masih bilang hoax ..Begitulah kira-kira komentar yang muncul.

Bagi saya tetap Hoax. Menurut saya fakta yang diungkapkan adalah fakta yang dipilih-pilih sesuai dengan frame berfikir kita. Kita lupa bahwa acuan klarifikasi itu postingan viral itu adalah postingan sang paman bocah itu. Dari upaya klarifikasi kita hanya dapat informasi bahwa anak itu dibully karena mirip Ahok yang sudah Cina Kristen lagi.

Kita tidak mendapatkan informasi yang sempat buat kita yellow mellow :

1. Benarkah Bastian disuruh menggambar di teras karena anak-anak.lain berada ditempat lain yang ditulis sang paman sebagai tempat ibadah?
2. Benarkah Bastian ditusuk pensil karena dia mirip Ahok?
3.Benarkah guru diam saja ketika Bastian dipukul ditengah barisan?
4. Dan lain-lain. Dan lain-lain.

Absennya jawaban dari pertanyaan diatas membuat kita seperti memilah fakta sesuai dengan keinginan kita dan kita anggap itu mewakili sebuah kebenaran yang total dan kita setuju dengan semua yang diceritakan sang paman. Pemilahan fakta seperti ini menurut saya adalah kebenaran yang setengah. Kebenaran yang setengah adalah hoax.

Dari sini saya sepakat bahwa kejadian ini sejak awal adalah kelengahan dan bukan karena perilaku yang dirancang, terstruktur dan sengaja. Sekolah dan orang tua Bastian sama-sama salah. Sekolah membiarkan murid mengucapkan dan meniru apa yang dilakukan para orang dewasa yang membenci Ahok. Padahal jika dia ditanya, bocah-bocah itu tidak paham apa maksudnya kecuali hanya sekedar meniru umpatan orang-orang disekitarnya.

Sementara orang tua Bastian nampaknya kurang berkomunikasi dengan pihak sekolah.

Tadinya saya berharap Bastian tetap bersekolah di sekolah negeri sebagai ikon pembelajaran bagi guru dan orang tua murid, bahwa ucapan rasis adalah terlarang. Namun kabarnya Bastian pindah sekolah. Kita menghormati keputusan ini.

Pastinya sekolah lama Bastian , Kepolisian dan Kanwil Diknas sangat sangat sangat lega karena mungkin Bastian pindah sekolah adalah yang sangat mereka harapkan agar tidak ada kerja tambahan. Case closed dengan happy ending bagi semua yang terlibat.

Kasus Bastian tentu merupakan pelajaran bagi semua agar jangan sampai anak-anak kecil meniru ucapan dan perilaku rasis orang-orang dewasa.

Dipihak lain, kita juga harus adil dalam menyikapi fakta dari berbagai sudut. Bukan mempercayai kebenaran yang setengah. Kemudian fakta sisanya kita buang karena tidak menyenangkan kita.

Jika kita bersikap demikian, kita adalah pemuja hoax bukan pencari kebenaran . Yang bawaannya emosional mengesampingkan fakta-fakta penting yang rasional.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Wednesday, November 1, 2017 - 15:15
Kategori Rubrik: