Barbie Culture di Pondok NU

Oleh: Mediyandsyah Taharani
 

Gerakan “Ayo Mondok” diluncurkan oleh NU tahun 2015 dengan membentuk Task Force nasional “Ayo Mondok”. Gerakan disebarkan ke seluruh masyarakat terutama melalui media sosial. Sebagaimana namanya, gerakan ini mengajak kepada berbagai elemen masyarakat untuk menjadikan “pondok” sebagai orientasi tempat pendidikan bagi generasi muda.

Logo Gerakan Nasional “Ayo Mondok “ menjelaskan berbagai aspek dari gerakan ini. Mondok secara denotatif bermakna bersekolah di Pondok Pesantren, sekolah dengan menu utama pendidikan agama Islam. Di wilayah Jawa Timur, misalnya, hampir setiap desa ada pondok pesantren yang sebagian besar juga merangkap sebagai sekolah setingkat MTs dan Aliyah. Ada kesan bahwa mayoritas yang bersekolah di pondok pesantren adalah masyarakat dari pedesaan. Gerakan Nasional “Ayo Mondok” yang dikembangkan oleh NU ini ingin memperluas praktik bersekolah di pondok sebagai praktik pendidikan yang diharapkan juga diakses oleh masyarakat kelas tinggi/menengah perkotaan.

Logo gerakan ini dibuat dengan mengonstruk citra bahwa “mondok” merupakan suatu hal yang keren, yang lebih berkesan baru dan kontemporer. Kebaruan ini bisa dilihat dari logo gerakan “Ayo Mondok” ini. Logo ini menampilkan ikon utama dua orang anak, perempuan dan laki-laki yang merepresentasikan anak santri . Santri perempuan diwakili oleh gambar anak perempuan dengan baju pink dan kerudung putih sedangkan anak santri laki-laki direpresentasikan dengan gambar anak laki-laki berbaju biru dengan songkok hitam. Keduanya digambarkan sebagai anak yang berwajah cerah ceria, tersenyum lebar dan nampak aktif dengan tangan tangan melambai seakan mempersilakan orang atau tamu untuk masuk.

Keberadaan warna pink dan biru (baju santri dalam logo) ini tidak lepas dari pengaruh barat yang dibawa (terutama) oleh kultur Barbie. Mary F Rogers (Barbie Culture, 1999) menjelaskan bagaimana Barbie dari sebuah rekaan menjadi kultur nyata dalam kehidupan sosial kita. Dipraktikkan tidak hanya di barat, namun menyebar di seluruh dunia. Ketika setiap hari kita disuguhi kontruksi kenyataan bahwa pink adalah warna perempuan (dan biru sebagai warna lelaki), maka kini sebagian (besar) kita menganggap wajar bahwa pink adalah symbol perempuan dan keremajaan.

So, dengan memunculkan warna pink/biru, logo ‘Ayo Mondok’ menyasar remaja pengkonsumsi budaya Barbie. Memadukan aspek kemudaan dan aspek ke-keren-an dengan nyantri.

(nb: sesuai dengan konsepsi budaya barbie (barat) yg dipinjam NU, maka jika nanti ada santri laki-laki pakai baju/kopiah pink, mungkin akan dicurigai sbg LGBT hihihi)

Tulisan “Ayo Mondok “ ditampilkan dengan jenis huruf (font) yang terkesan akrab untuk anak muda. Kemudian, tulisan tagline “Pesantrenku Keren” menjadi semboyan pesantren yang dianggap lebih kontemporer. Kata “keren” bahasa yang dipakai anak muda, bandingkan kata lain yang berkesan lebih formal, semisal seperti kata “barokah”. Kata ini menunjuk pula pada kelas sosial atas hingga menengah serta urban/perkotaan.

Jadi, nyatri dalam gerakan “Mondok” ala NU ini, dicitrakan sebagai praktik sosial yang santai, ringan dan menyenangkan. Citra yang ringan dan menyenangkan ini berlawanan dengan citra mondok (sebenarnya juga citra sekolah non-pondok, hahaha) yang selama ini cenderung membentuk opini bahwa sekolah di pondok pesantren itu sulit, berat dan sangat membebani terutama dengan pelajarannya yang diberikan hampir seharian penuh mulai dari sebelum subuh sampai tengah malam.

Sebagaimana sekolah para umumnya, pondok pesantren merupakan tempat untuk memproduksi dan mereproduksi pengetahuan. Dalam konsep Foucault, pengetahuan selalu berdampingan dengan kekuasaan atau power. Pengetahuan dan kekuasaan dalam pondok pesantren diproduksi dan direproduksi secara efektif melalui proses pendidikan di dalamnya. Baik pengetahuan dari kitab-kitab kuning pondok Salaf dan kitab-kitab rujukkan lain yang dipelajari di pondok modern.

 

(Sumber: Facebook Mediyansyah)

Thursday, June 9, 2016 - 15:30
Kategori Rubrik: