Barang Siapa Menyerupai Suatu Kaum

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Saya sering cekikikan kalau membaca atau mendengar sebagian jamaah Muslim yang unyu-unyu dan lutu-lutu, baik yang berpropesi sebagai tukang khotbah, tukang ceramah, tukang demo, dlsb, yang heroik bilang, kira-kira begini: "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia menjadi bagian dari kaum itu...".

Maka, menurut mereka, kalau umat Islam memakai pakaian menyerupai pakaian yang dikenakan oleh non-Muslim, maka by default mereka bagian dari non-Muslim itu. Atau, jika umat Islam mempraktikkan tradisi dan budaya yang biasa dipraktikkan oleh umat non-Muslim, maka ia juga otomatis menjadi bagian integral dari non-Muslim itu.

 

 

Bukan hanya saya saja yang tertawa, saya perhatikan boneka-boneka piaraanku juga ikutan terkekeh-kekeh.

***

Sekarang mari kita simak dan kaji pelan-pelan menggunakan otak waras. Tidak usah bengak-bengok berisik kayak toa sowak.Tradisi dan kebudayaan mana atau produk budaya apa di dunia ini yang benar-benar eksklusif, tidak dipraktikkan oleh umat dari berbagai agama atau non-agama?

Hampir semua produk kebudayaan sejak zaman bahula hingga kini menjadi semacam "shared cultures" yang dipraktikkan dan diadopsi oleh berbagai kelompok.

Misalnya perempuan dengan pakaian brukut + penutup kepala + penutup wajah. Bukankah yang memakai pakaian lengkap model begini juga dipraktikkan oleh sebagian kelompok perempuan non-Muslim (baik yang sekuler maupun yang beragama) di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tengah, bahkan jauh sebelum Islam lahir?

Hingga kini kaum perempuan dari kelompok ortodoks Yahudi (seperti Heredi Burqa, Yahudi Yamani, Lev Tahor, dlsb), Kristen (Koptik ortodoks), Yazidi, Druz, dlsb juga mengenakan model pakaian begini. Kelompok Yahudi ortodoks bahkan mengklaim jenis pakian model beginian adalah "tradisi Yahudi". Bahkan kajian antropologi kesejarahan disertai dengan berbagai bukti-bukti arkeologis, perempuan Afganistan pra-Islam juga sudah mengenakan cadar.

Lalu, sebagian perempuan Salafi kini yang bercadar ria dan mengaku paling syar'i sedunia-akhirat itu meniru siapa dan kebudayaan umat mana?

Contoh lagi pakaian gamis. Di kawasan Arab Timur Tengah, khususnya di Arab Teluk, Yaman, dan sebagian kawasan Afrika, jenis pakaian gamis ini dikenakan oleh siapa saja baik Muslim maupun bukan karena itu dianggap sebagai pakaian tradisional mereka.

Mereka sama sekali tidak menganggap itu sebagai "identitas Islam" karena itu jangan heran kalau umat Kristen Arab ke gereja juga bergamis lengkap dengan asesoris penutup kepala.

Bukan hanya Arab saja, bukankah masyarakat tradisional China juga bergamis? Lalu, bergamis itu niru siapa atau kebudayaan umat mana?

Kemudian, apakah kaum Muslim yang berpakaian dengan jas dan dasi itu otomatis menjadi bagian dari budaya Barat dan otomatis non-Muslim? Padahal kini banyak umat Islam yang berjas dan berdasi, baik yang tinggal di Barat maupun Timur Tengah. Bukankah Zakir Naik yang dipuja-puji rombongan Monaslimin dan Monaslimat juga berjas dan berdasi?

Beragama itu harus menggunakan akal pikiran bukan dengan dengkul rombengan.

 

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

Wednesday, February 27, 2019 - 20:00
Kategori Rubrik: