Baper dengan Berita Perceraian Ahok

Ilustrasi

Oleh : Vika Klaretha

Sebagai pengagum Ahok, tentu membaca berita gugatan cerainya membuat saya berasa disambar geledek. Ahok memang bukan siapa-siapa saya, tetapi siapapun tahu, pribadi spesial tentu akan mengikat hati banyak orang.

Lalu segala teori penyangkalan berkelibat ribut di kepala saya. Mulai dari kospirasi wahyudi eh sapi, hingga media yang perlu tambahan bahan bakar. Mulai dari fakta bahwa banyak pasangan yang tak lagi saling mencintai, bahkan masing-masing telah memiliki tambatan hati lagi, tetap mempertahankan pernikahan. Atas dasar tanggung jawab sosial. Mengapa Ahok tidak begitu saja. Atau pikiran tentang suhu politik yang memanas, dan berujung pikiran teraneh: andai benar, Jokowi pasti menjitak Ahok karena membuat tambahan keriuhan politik.

Saya sendiri lupa bahwa saya bercerai. Bahwa saya orang yang pernah menangis bombay setiap waktu karena derita pernikahan. Memilih mendapat sanksi sosial seperti direndahkan karena berstatus janda cerai, daripada tetap bertahan pada pasangan. Jadi kenapa saya harus kecewa dengan perceraian mereka?

Saya pribadi, menemukan banyak ketenangan dan pencerahan paska perceraian. Bisa jadi memang saya orang yang tak tepat berada dalam institusi pernikahan, bila masih dibingkai konsep tradisional. Seperti istri harus menurut suami, melayani, bahkan meminta ijin untuk apapun kegiatan dan keputusan yang akan dilakukan. OK, saya tak bisa begitu. Kekurangan saya sulit hormat untuk orang yang bahkan tidak dapat menghormati dirinya sendiri karena tidak mampu hidup mandiri. Karena saya sadar kekurangan ini, saya memilih mengundurkan diri dari institusi pernikahan.

Jadi kenapa saya harus bersedih dan malu untuk perceraian Ahok andai itu benar? Yang saya kagumi dari Ahok adalah komitmennya pada rakyat, kejujuran dan integritasnya. Di sisi itulah saya mengenal Ahok. Bukan kehidupan pribadinya. Jika saya menuntut hidup seorang Ahok yang sempurna, tiba-tiba saya merasa serendah pengagum pentolan kelompok sebelah. Yang menganggap pentolannya orang sempurna suci lahir batin. Mungkin kala menyuarakan kepentingan kelompoknya, si pentolan sungguh berintegritas. Tetapi bagaimanapun si pentolan orang biasa yang butuh bercinta. Legal atau tidak legal percintaan itu.

Lalu saya menyesal telah mengolok-olok percintaan ilegal itu.

Sampai di situ perasaan saya sedikit lega. Tapi cuma sesaat, karena ego selalu mencari pembenaran. Sedetik kemudian saya menyalahkan hujatan para haters sebagai tak manusiawi. Dan lagi-lagi pembenaran muncul, "Insecure membuat orang mencari rasa aman dengan menjelek-jelekkan musuh. Dan itu pun alamiah."

Saya menarik nafas. Apapun itu, kebencian, kesedigan, kekecewaan itu menghabiskan energi. Bila saya bersimpati pada Ahok, saya tak ingin bertambah masalah dengan energi negatif ini. Biarlah saya tetap bergembira ria, tak usah peduli pada negeri penuh durjana dulu.

#AhokSalibmuSungguhBerat

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha

 
 
 
Monday, January 8, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: