Banyak yang Tak Kita Tahu

Oleh: Sahat Siagian

 

Dunia menjerit meratapi pemisahan orang tua dari anak-anaknya di Amerika Serikat. Puteri saya dihubungi pihak tertentu di sana, meminta kesediaan dia menjadi penerjemah via skype dalam interogasi migran gelap Indonesia.

Dunia mengutuk Trump. Kabar terakhir menyebutkan Trump mengeluarkan executive order untuk membatalkan kebijakan tersebut. Semua berharap ancaman detention segera berakhir. Tapi beberapa negara bagian berkeras melanjutkannya.

 

 

Dunia menjerit. Saya tidak.

Jika Anda tahu bagaimana akal imigran gelap bertahan di USA, saya bertaruh sebagian dari Anda bisa memahami Trump—terlepas dari niat tertentu di belakangnya. Apa yang terlihat di permukaan bukanlah apa yang terjadi di kedalaman. Dibutuhkan pengetahuan serba-cakup untuk mengerti persoalan.

Para migran gelap dengan sengaja menjadikan anak sebagai siasat tetap mukim di Tanah Impian. Semua anak yang lahir di Amerika Serikat berhak atas kewarganegaraan negeri itu. Para orangtua menguji batas moral Pemerintah.

Mereka yakin siapa pun Presiden Amerika Serikat tak akan tega, tak punya hati kejam, memisahkan mereka dari anak-anak. Pemerintah USA bukan iblis, pikir mereka. Anak-anak kami berkewarganegaraan Amerika. Meski kami “gelap" maka justru karena itulah pemerintah wajib memberi kami kartu hijau.

Perhatikan dengan cermat. Bukan Pemerintah Amerika Serikat yang menyandera anak-anak agar mereka bersedia dideportasi. Merekalah, sejak mulanya, sedari terengah-engah bikin anak, yang menjadikan anak-anak tersebut sebagai “ancaman moral” untuk mendapatkan Kartu Hijau. Merekalah yang menindas Amerika agar takluk kepada permohonan kewarganegraan dengan menjadikan anak-anak sebagai sandera. Jangan dibalik. Mereka pikir Amerika bakal takluk.

Kalau ternyata, dan itu terjadi sekarang, pemerintah tidak takluk: mengakui hak anak-anak mereka untuk memiliki kewarganegaraan Amrik tapi dengan tetap menolak permohonan orangtuanya, apa salah Trump? Apa salah Amerika dengan memulangkan mereka tapi menahan anak-anak, yang berkewarganegaraan Amerika Serikat itu, di tempat penitipan? Mereka menantang pemerintah untuk menyentuh titik paling peka dari kemanusiaan. Ketika ternyata tantangan tersebut dijawab, apa salah Trump?

Dunia mengutuk Israel atas kematian warga sipil, anak-anak dan perempuan, dalam upaya mereka menjaga Tanah Terjanji dari rongrongan pihak luar. Semua orang berebut berkomentar, melansir makian, menuduh kekejaman paling keji telah terjadi justru di tanah yang dihormati 3 agama besar. Media silih-berganti mempertontonkan ratapan sanak keluarga yang menderita atas kehilangan orang-orang tercinta. Dunia berduka. Saya tidak.

Sistem Pertahanan Israel menggunakan kamera, yang terpasang di puluhan ribu titik, sebagai perangkat Early Warning System. Gerakan apa pun yang mencurigakan pasti tertangkap kamera. Perangkat lunak di belakangnya mengolah informasi, dan dengan algoritma paling pelik menyodorkan kesimpulan. Para pemangku kebijakan pertahanan menerima kesimpulan tersebut. Anda tahu apa yang disimpulkan?

“Ada penyusup di zona 103, dua perempuan berlayar dengan sampan. Kerahkan pasukan menangkap mereka sekarang juga.”

Semula tentara memperlakukan kesimpulan tersodor dengan sangat berhati-hati. File rekaman gambar mereka putar-ulang. Lalu merekalah yang menyimpulkan sendiri apakah perlu menuruti ‘kesimpulan mesin’, atau menganggapnya kesimpulan oversensitive. Saya kira sebagian dari kita setuju dengan 'kearifan' tersebut.

Malang tak dapat ditolak. Bom meledak di zona 103. Siapa peledaknya? Dua perempuan yang mengayuh sampan.

Itu terjadi lagi, berulang sekian kali. Tentara Israel tak lagi bisa mengelak: turuti apa pun yang menjadi ‘executive order’ mesin-mesin komputer. Taati tanpa kecuali, apa pun taruhannya.

Sejak saat itu tanah Israel aman. Dunia menaruh Israel di 5 besar kawasan ternyaman di planet bumi.

Hamas tahu itu. Mereka punya agenda sendiri. Ketika kas kosong, dana untuk membayar keanggotaan golf klub ternama di tempat-tempat eksotik di Amrik dan Eropa tak ada, maka gara-gara harus dipantik.

Mereka gerakkan anak-anak dan para Ibu membuat tindakan yang membuat Early Warning System Israel memerintahkan penembakan. Lebih lagi, mereka tahu sebagian tembakan tersebut juga berasal dari mesin. Dan terjadilah apa yang tersaji di jutaan media bulan lalu. Sekian puluh orang mati dihajar tembakan.

Dunia meratap. Sumbangan mengalir. Para pelobi Palestina mondok lagi di ranjang-ranjang mahal, bergulingan bersama blonde yang mereka sebut kafir. 3 botol anggur, 3 lubang surgawi, 3 kotak ganja. Nama Tuhan berkumandang dalam keterengahan paling binal.

Para pemuja Argentina mengutuk Sampaoli atas susunan pemain yang diturunkan dalam partai melawan Eslandia dan juga Kroasia. Kenapa Sampaoli tak menurunkan 5 gelandang untuk mengimbangi Modrić, Rakitić, dan Perišić yang trengginas di lapangan tengah? Kenapa Dybala tidak diturunkan sejak menit pertama? Mengapa si anu dan si ini tidak masuk ke dalam skuat Albiceleste? Pelatih botak bertatto sekujur tubuh habis disampah-serapahi. Padahal situasinya tidak sesederhana itu.

Di belakang setiap pemain profesional dengan gaji di atas £50,000 per pekan berdiri sejumlah staf, business manager, juga agen besar. Para agen terhubung dengan berbagai produser dan pemilik merek, yang menjadikan para pemain sebagai pelagak produk-produk mereka.

Business Manager berkepentingan mengangkat nilai atau valuasi pemain yang ditangani. Semua tahu, semakin sering tampil, semakin terbuka peluang menghadirkan momen-momen emas ke hadapan mata dunia. Lalu para prinsipal berkepentingan memamerkan merk mereka melalui pemain yang telah dikontrak menjadi pelagak.

Tekanan itu datang bertubi-tubi melalui sambungan telepon, jamuan siang, jamuan malam, bahkan beberapa hadir sebagai ancaman. Dan persatuan sepakbola Argentina belum seberwibawa Deutscher Fussball-Bund. Para sponsor dengan mudah mendikte Sampaoli melalui Asociación del Fútbol Argentino.

Apa yang tersaji di lapangan adalah keputusan terbaik sebagai kompromi atas belasan tekanan, yang kadang saling tabrak. Kecemerlangan sepakbola tiba di layar televisi Anda dengan menggunakan jasa para prinsipal, pemegang merek, membuat nilai transfer Neymar setinggi langit sehingga sukar dipahami akal sehat.

Tapi ketidakmasukalan itulah yang membuat jantungmu berdegup lebih hebat. Ilusi, fantasi, fatamorgana, dan juga delusi bercampur-aduk. Ramuannya lebih dahsyat daripada 1 gram marijuana berteman sebotol bourbon.

Banyak yang tak kita tahu. Karena itu, kendalikan diri dari pernyataan dan teriakan-teriakan tolol. Apalagi jika teriakanmu berpotensi menghalangi gemuruh perbaikan dirasakan kaum-kaum marjinal Nusantara.

Banyak yang tak kita tahu. Hendaklah kita malu.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Sunday, June 24, 2018 - 22:15
Kategori Rubrik: