Banyak Orang Ingin Bahagia tapi Caranya Ribet dan Mahal

ilustrasi
Oleh : Mamang Haerudin
 
"Bahagia itu sederhana, kumpul bersama keluarga." "Bahagia itu mensyukuri apa yang ada." Bla bla bla. Sering kan kita baca caption begitu? Betapa banyak orang yang tetap merasa sepi, padahal sedang dalam keramaian. Bagaimana mau mensyukuri kalau terus merasa kekurangan, mengeluh, menggerutu. Saya hanya ingin menegaskan bahwa apa yang kita ucapkan, pastikan agar sesuai dengan apa yang kita lakukan. Jangan sekadar kata-kata pemanis, atau hanya menghibur diri tetapi terasa menyiksa diri.
Semakin bijaksana dan dewasa seseorang, lisan maupun perbuatannya, ia yang akan Allah uji sesuai dengan apa yang ia bicarakan dan lakukan. Ketika saya bicara misalkan bahwa seseorang akan bahagia manakala mau berusaha dekat dengan Allah. Tidak pernah merasa sepi meskipun sedang sendiri. Tetap merasa bahagia, tetap tersenyum sekalipun misalnya berat hati. Maka otomatis, saya akan "diuji" Allah dengan apa yang sering kali orang katakan, kondisi di mana saya memang sendiri. Berbuat baik atas inisiatif sendiri, melakukan transformasi sosial harus dimulai sendirian. Seperti tak ada yang mau suport, dan seterusnya.
Sebab saya sering kali menyaksikan, betapa ucapan kita tentang makna bahagia, itu tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan. Awal kita bisa meraih bahagia itu, paling tidak ciri-cirinya adalah kita berusaha untuk terus memperbanyak stok sabar. Sabar itu kemampuan kita untuk menahan dan mengendalikan diri. Kita merasa sepi, pengin teriak dan marah, tahanlah, bersabarlah. Pengin rekreasi, makan di restoran, nonkrong di kafe, selfie keceriaan lainnya, kaya orang-orang kebanyakan, tahan, sabar, kita tidak perlu begitu untuk meraih bahagia.
Saya bahkan menyaksikan betul, beberapa orang yang mengidentikkan bahagia, sambil menyembunyikan derita, sakit hati dan egonya dengan terus berkeliling memanjakan diri dari kafe ke kafe, dari hotel ke hotel. Sambil terus memotretnya di media sosial. Tadinya saya berkeyakinan, ia bisa menjadi penikmat kuliner, traveler sekaligus penulis. Jadi ada nilai lebih. Tetapi ternyata tidak. Jalan-jalan terus ke mana-mana, minum dan makan enak terus menuruti keinginan, tetapi tidak mengubah keadaan. Tidak menulis, tidak mengubah keadaan, uang yang mestinya ditabung malah habis tidak keruan. Betapa banyak orang yang ingin bahagia tapi caranya ribet dan mahal.
Wallaahu a'lam
Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)
Thursday, September 24, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: