Banyak Baca Disertasi

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Mau jadi lulus dari Magister S2 atau Doktor S3 wajib punya karya ilmiyah berupa tesis atau disertasi. Lucunya, para mahasiswa S2 dan S3 lebih sering mentok jauh sebelum menulis, yaitu bingung mau menulis tentang apa dan tidak punya judul yang sekiranya cocok untuk ditulis.

Ini masalah klasik yang hampir semua mahasiswa pasca sarjana mengalaminya, termasuk saya. Dan dalam kebingungan itu, seringkali terjadi keguguran. Karena lama tidak ke kampus, akhirnya lupa dan tiba-tiba masa kuliah expired alias DO.

Sayang banget, sudah pontang-panting kuliah, bikin makalah, diskusi, kena macet bolak-balik kampus, mahal-mahal biaya kuliahnya pula, ternyata ujung-ujungnya cuma DROP-OUT.

* * *

Lalu apa tidak ada solusinya?

Banyak sih sebenarnya, tergantung kreatif atau tidak. Tapi saya ingin bilang bahwa penyebab para mahasiswa pascasarjana tidak kreatif dalam memilih atau menentukan judul disertasi nampaknya karena tidak mengenal medan dunia penelitian ilmiyah.

Kita ini jarang baca, itu intinya. Kita kurang punya perhatian untuk membaca hasil-hasil penelitian ilmiyah, jurnal, tesis atau disertasi yang sudah pernah ditulis sebelumnya, bahkan sekedar baca buku biasa pun boleh jadi jarang-jarang juga. Itu kunci utamanya.

Penyakit kurang baca seharusnya terobati ketika ikut kuliah di kelas pasca sarjana, yaitu lewat kewajiban menuis makalah ilmiyah. Satu makalah seharusnya merupakan ringkasan dari baca sekian banyak buku. Sebutlah di footnote itu ada 20-an buku atau jurnal.

Kalau selama kuliah pernah dapat tugas menulis 10 makalah, setidaknya sudah pernah baca 200-an buku. Begitu teorinya, meski prakteknya rada susah.

Dirosah Sabiqah

Padahal biasanya dalam tulisan ilmiyah sekelas disertasi itu harus ada bagian khusus yang disebut 'dirosah sabiqah'. Penelitian tentang tema ini yang sudah ada sebelumnya dan sudah diteliti orang lain.

Boleh jadi satu tema yang sama telah ditulis oleh beberapa peneliti sebelumnya. Lalu masing-masing punya sudut pandang dan fokus yang spesifik dan unik. Satu tema besar tapi berbeda fokus dan sudut pandangnya.

Dari situlah seharusnya judul penelitian dimulai, yaitu dari gap atau ruang kosong yang terletak di antara satu penelitian dengan penelitian lain yang belum ada penelitian disitu.

Maka sebuah proposal penelitian mutlak harus menyebutkan karya penelitian yang sudah ada sebelumnya, demi untuk menciptakan peta permasalahan yang menggambarkan blok-blok mana saja yang sudah diteliti dan mana yang belum.

Seperti Membangun Rumah

Ibarat kita mau membangun rumah baru, kita harus pastikan dulu lokasi rumah itu di peta, biar jangan sampai kita membangun di lahan orang atau di atas tanah yang sudah ada bangungnannya. Pastikan lahan itu kosong dan tanahnya siap dibangung.

Apalagi kalau bangunan itu bisa punya nilai kepentingan tertentu yang strategis dan dibutuhkan orang banyak, tentu lebih bagus lagi. Misalnya di komplek perumahan itu belum ada masjid, pasar, puskesmas, bank, stasiun KA, mall dan seterusnya, maka nilai strategis proposal pembangunan kita jadi lebih punya arti.

Peran Dosen

Peran dosen yang mengajar mata kuiah Metodologi Penelitian seharusnya bukan hanya urusan titik koma, transliterasi, footnote, huruf besar huruf kecil, atau segala ritual tetek bengek itu.

Sesuatu yang dalam dunia penerbitan buku, urusan kayak gitu sudah ada yang bertugas yaitu editor. Dan penulis itu kerjanya menulis saja seenak aliran pemikirannya.

Lucunya, dalam menulis disertasi dan karya ilmiyah, para mahasiswa pasca sarjana malah lebih sering dibenani dengan urusan ejaan ketimbang yang lebih ilmiyah dan berbobot yaitu tentang konten, isi, pemikiran dan esensi.

Sekedar Editing Bahasa dan Format Penulisan

Saya mengamati coretan-coretan dosen yang mengoreksi proposal atau bab per bab karya para mahasiswa pascasarjana, kebanyakan masih seputar mengedit bahasa dan tata cara titik koma.

Bahkan lebih seringnya dosen pembimbing atau promotor malah tidak bertemu muka sama sekali. Diskusi ilmiyahnya malah tidak terjadi, yang terjadi sekedar ritual kerja-kerja editor naskah di sebuah penerbitan.

Penutup

Mungkin ini tidak terjadi di semua kampus. Mungkin ini cuma perasaan saya saja. Mungkin penilaian saya terlalu subjektif. Mungkin ini hanya kasus tertentu saja dan bukan gambaran seutuhnya.

Mungkin . . .

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Monday, July 22, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: