Banten dan Lampung Bakal Jadi Pelabuhan Penting Internasional

Ilustrasi

Surabaya (RI) - Pembangunan pelabuhan di Banten maupun di Lampung sangat dibutuhkan untuk perkembangan perdagangan internasional yang bisa menyaingi perdagangan internasional di Singapura.

Demikian pernyataan Pakar Kelautan dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya

"Jika ada perairan internasional dari Jepang akan ke Selat Sunda, atau dari Timur Tengah maupun Eropa akan masuk ke Indonesia atau ke China, atau kapal-kapal China akan ke Jepang, maka kapal-kapal tersebut akan mampir ke Pelabuhan Tanjung Priok atau di pelabuhan-pelabuhan Banten dan Lampung," kata Pakar Kelautan, Daniel Mohammad Rosyid.

Perekonomian dari perdagangan internasional akan terdongkrak jika pemerintah membangun pelabuhan di Banten dan Lampung dan bisa menyaingi perkembangan perdagangan internasional di Singapura.

Pelabuhan di Banten dan Lampung bisa menjadi tempat singgah bagi kapal-kapal tanker dari berbagai negara.

Rute dari kapal-kapal tanker jika akan ke selatan melewati Selat Sunda yang dinilai lebih aman karena membawa barang-barang besar meskipun jaraknya lebih jauh. Sedangkan jika melewati Selat Malaka, ujarnya, maka jaraknya dinilai sangat rapat dan berbahaya jika membawa kapal tanker, sehingga kapal-kapal tanker itu akan melewati pelabuhan di Banten dan Lampung.

"Kendalanya adalah pada penyeberangan kapal feri yang akan memotong rute ALKI I untuk pelayaran dari Laut China Selatan ke Samudera Hindia dan sebaliknya melalui Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa dan Selat Sunda, maka di Selat Sunda inilah yang bisa menyebabkan kecelakaan laut antara kapal besar pengangkut barang," tuturnya di Surabaya, Sabtu (17/10/2015).

Kendala dari pembangunan pelabuhan di Banten dan Lampung itu hanyalah pada jalur kapal feri penyeberangan dari pelabuhan Merak-Bakauheni yang akan memotong Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, dan bisa menyebabkan kecelakaan kapal jika armada tidak berhati-hati antara kapal besar pengangkut baran

Sekadar diketahui, rute ALKI II adalah jalur Laut Sulawesi ke Samudera Hindia dan sebaliknya via Selat Makassar, Laut Flores, dan Selat Lombok.

ALKI III adalah perlintasan dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia dan sebaliknya melalui Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai dan Laut Sawu, dll hingga ALKI III-A, B dan C dari Samudera Pasifik ke Laut Timor atau ke Laut Arafura dan sebaliknya melalui Laut Maluku, Laut Seram, dan Laut Banda.

Pemasangnya rambu navigasi bisa menjadi solusi dari penyeberangan kapal feri karena merupakan bagian yang dibutuhkan dari sarana dan prasarana kenavigasian laut sebagai syarat kecukupan dan keandalan, meskipun saat ini belum seluruh wilayah perairan memiliki sistem dan peralatan navigasi laut mencukupi dan memadai.

"Peran navigasi laut sangat besar dalam menunjang aspek keselamatan pelayaran dan harus menyiapkan rambu-rambu, jika alur kelautan Indonesia bisa aman, meskipun saat ini alat navigasi baru menjangkau 60 persen wilayah Indonesia, sedangkan alat telekomunikasi pelayaran menjangkau 70 persen, sehingga dengan kondisi itu, risiko kecelakaan masih terus membayangi," tandasnya. (Antara).

Sunday, October 18, 2015 - 11:30