Banser Riyanto dan Gus Dur

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Dialektika Imajiner di Bulan Desember

Malam Kudus sembilan belas tahun lalu, tahun 2000. Waktu itu musuh pengusik negeri menyasar Presiden Gus Dur. Indonesia harus kacau. Natal harus diintimidasi. Agar kepemimpinan Gus Dur terdeligitimasi. Musuh tidak tenang presiden RI Preman Bertanggung jawab.

Kala itu banser Riyanto adalah salah satu dari banser-banser NU yang disebar untuk tugas menjaga keamanan ibadah di gereja termasuk di Eben Heizar di Mojokerto. Bungkusan plastik yang ternyata bom itu meledak di dekapannya saat hendak dibuang di tong sampah. Jasad Ryanto pecah berkeping, ada serpihan yang terlempar sampai seratus meter. Sedemikian dahsyat sehingga jika terjadi dalam ruang gedung akan menewaskan banyak sekali korban.

Riyanto sampai ke alam Barzah. Sembilan tahun setelah hari wafatnya, pada bulan yang sama yakni Desember tanggal 30 tahun 2009 Gus Dur menyusul. Mereka bertemu dalam suasana santai.
"Piye Kang Riyanto, kepenak toh sampeyan, " kata Gus Dur
"Nggih Gus, nderek sampeyan kulo mulyo. "
"Ora ditakoni malaikat toh sampeyan, "
"Mboten Gus, yang hilang nyawanya di jalan Allah, mboten ditangkleti, "
"Syukur lah. Pejah kados sampeyan iku cita-cita dan harapan setiap mukmin. Itulah puncak dari seluruh kebaikan manusia. "
"Nggih Gus."
"Sampeyan wus kepetuk arwah teroris sing bom bunuh diri? "
"Mboten kependak, Gus. "
"Yo pasti ora ketemu lha panggonane bedo. Lihat sana. Akhir surat alfatihah kan lafadz waladdlolin. Makhluk bodoh yang disesatkan oleh iblis padahal sudah diberi akal. " kata Gus Dur sambil menunjuk ke suatu arah.
Tampak binatang-binatang menjijikkan yang penuh kehinaan.

Gus Dur melanjutkan ceritanya.
"Di alam dunia di Indonesia sana, banyak yang ngrasani kesyahidan sampeyan Kang. Iki wong Islam kok matine neng grejo. Pangkate kok mati syahid, mbelo negoro tauhid. Malaikat sendiri bingung awakmu Kang. Wong-wong takon mengko sing nakoni Ryanto iku malaikat Islam opo malaikat Kresten. "
Gus Dur tertawa renyah.

"Ning kubure Gus Dur yo wong podo heran. Wong Cino karo agomo liyo yo ziarah mbarang. Lha ndungane piye. Opo malaikat ngerti boso cino ? " ujar Riyanto.

"Kamu tidak usah bingung. Lha Pak Habibie baru dari sini. Saya bilang tidak usah pikir pesawat disini. Arwah bisa terbang sendiri. "

"Nopo Gus Dur juga tepang kalih Pak Karno lan Pak Harto ?

" Yo mesti. Pak Harto tanya, Nama Riyanto kan sudah jadi nama jalan, apa namanya sudah jadi nama jalan atau belum. Kok Pak Karno saja yang dijadikan pahlawan ? "

"Sampeyan jawab dos pundi Gus? "

" Pahlawan akhirat sama pahlawan dunia kan beda. Di dunia kan gelar pahlawan urusan menteri sosial. Jamanku menteri sosial tak bubarkan karena jadi sarang korupsi. Gambar pak Harto jejer burine truk : enak jamanku to.
Milenial kan nggak tahu. Kalau generasi tua jawab iya enak karena waktu jaman Pak Harto isterinya masih muda. Gitu aja kok repot. "

"Wonten pesan kanggo Pak Amin karo Ibu Megawati, Gus?

" Ya Mumpung masih ada kesempatan bertobat lah. "

"Lho kenapa pesannya begitu, Gus"

"Ya memang, pesan untuk semua orang yang masih hidup baiknya ya begitu. Mumpung ada kesempatan sebaiknya bertobat. Di akhirat ndak ada tobat. Ndak ada obat. Jangankan obat untuk orang sakit, obat kuat juga ndak dibutuhkan lagi disini. Padahal pengurus MUI sudah persiapan nanyak. "

Pace Yaklep :
Tawa renyahmu masih kuat terdengar. Terimakasih Gus Dur untuk mata hatimu yang telah melihat kami di Papua. Kau saja yang mengerti pedih perih kami. Kini kau telah pergi membawa hati kami yang penuh cinta dan damai. Terimakasih Riyanto, terima kasih Banser. Natal kami menjadi lebih indah dengan mengenang pengorbananmu. Beda keyakinan tak harus menjadi penghalang untuk bersaudara dalam kemanusiaan.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Friday, December 13, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: