Banjir Jakarta, Kemana Anies?

ilustrasi

Oleh : Nophie Kurniawati

Penanganan banjir di Jakarta dari waktu ke waktu, dari pejabat yg satu ke pejabat yang lain selalu berbeda. Meski problemnya sama. Air.

Era Foke, mungkin msh banyak yang ingat ya gitu deh, banjir malah seperti project. Banjir datang dapur umum, tenda2 dan pengungsian berkembang. Dana mengucur korban susah , tapi ada pihak senang. Begitu musim kemarau ya semua lupa. Sampai nanti banjir datang lagi.

Berganti masanya Jokowi dan Ahok, bisa dibilang ini era Jakarta berbenah drastis. Normalisasi sungai dan kali dilakukan besar2an. Sebagian besar daerah sekitar ciliwung berubah total. Waduk di keruk, kali di gali, turab dipasang, warga dibantaran kali direlokasi ke rusun sebagian lengkap dengan isinya. Dalam 5 tahun lokasi sebaran banjir berkurang drastis. Setiap hari pasungan orange, biru, dll disiagakan. Kali, sungai, got, saluran dan jalanan dijaga, di awasi supaya tetap bersih dari sampah. Pelan2 dikerjakan, wilayah demi wilayah. Seandainya ada waktu 5 tahun lagi, mungkin Jakarta benar2 berubah. Sayangnya sebagian besar warganya tidak menginginkan perubahan ini. Ya sudah. Itu pilihan mereka.

Kemudian pejabat berganti. Dia datang membawa janji manis sekali sekali soal penataan kota Jakarta. Rumah tapak dengan DP 0. Air dimasukkan tanah supaya sesuai sunatullah. Reklamasi akan dihentikan, sebab menurutnya Jakarta telah mengambil keputusan yang fatal. Gorong2 raksasa yang mengalirkan air ke laut adalah keliru. Di sertai dengan demo dan "doa-doa", akhirnya dialah yang terpilih. Sekarang hampir 2 tahun sudah menjabat. Soal pengendalian banjir yang pertama dilakukan adalah mengganti istilah normalisasi sungai menjadi naturalisasi. Prakteknya ? embuh, saya belum pernah lihat ada sungai natural di Jakarta. Berikutnya ide ternak enceng gondok di kali Sentiong. Waduk Pluit yang sempat kinclong dan jadi arena wisata pun kini sudah mulai ditumbuhi enceng gondok. Faktanya, Jakarta masih banjir. Dan kali ini lebih parah dari banjir 4 tahun terakhir. Daerah2 yang sudah pernah bebas banjir sekarang kebanjiran lagi.

Pak Gubernur bilang itu air bukan warga Jakarta ( maksudnya Jakarta gak hujan ) tapi air kiriman dari hulu. Yah itu sudah dari jaman prasejarah kali. Itu kenapa 5 tahun terakhir kali di normalisasi karena untuk mengalirkan air limpahan yang datang dalam jumlah, bukan air hujan yang jatuh dari langit. Tidak mungkin bisa diserap ke dalam tanah sekaligus.

Dengan duet Jokowi - Ahok, ( plus Djarot disebagian waktu ) yang terkenal doyan kerja kerja kerja saja banjir di Jakarta belum bisa sepenuhnya di kendalikan karena sudah terlanjur bertahun-tahun dibiarkan. Apalagi sekarang, gubernur DKI bekerja sendiri, tidak punya wakil. Jumlah TGUPP yang tidak terbatas dan berbiaya mahal entah apa kerjanya. Pak Gub lebih sibuk menata kata daripada kota. Pergantian terminologi dari normalisasi sungai menjadi naturalisasi juga belum ada manfaatnya. Dan dalam suatu kesempatan, ternyata programnya masih sama, mengalirkan air yg meluap itu ke laut melalui gorong2 raksasa, yang waktu kampanye 
dikritiknya. Padahal dengan entengnya pernah mengatakan, mengatasi banjir itu mudah, cukup bikin lubang.

reff : 
https://megapolitan.kompas.com/…/kali-sentiong-akan-ditanam…
http://wartakota.tribunnews.com/…/berita-foto-waduk-pluit-d…
http://jakarta.tribunnews.com/…/kondisi-terkini-waduk-pluit…
https://www.suara.com/…/cara-atasi-banjir-jakarta-anies-sim…
https://megapolitan.kompas.com/…/anies-ubah-jumlah-anggota-…

Pak Anies Baswedan, saya bukan pendukung bapak. Tapi saya juga bukan pembenci, seperti model pendukung bapak yang jadi pembenci Jokowi apalagi Ahok. Jadi saya tidak akan memaki-maki apalagi memfitnah dengan sebutan syiah, liberal dll yang tidak ada kaitannya. Itu sebutan dari pembenci bapak dulu waktu bapak masih bersama Pak Jokowi, tapi sekarang yang yang menuduh itu sudah lupa. Jadi kalau saya boleh usul, Pak Anies, lanjutkan saja program Pak Jokowi dan Pak Ahok yang sudah pernah dibuatnya. Berganti2 program, apalagi cuma istilah hanya akan menghabiskan waktu, sementara air datangnya tidak kenal waktu. Tidak perlulah gengsi harus bikin program sendiri hanya supaya kelihatan wow. Bisa mempertahankan supaya Jakarta tidak terlalu banjir saja sudah kuereen kok. Normalisasi sungai, kali dan waduk itu dilanjutkan. Pembangunan waduk di hulu yang digagas Pak Jokowi juga dilanjutkan. Karena banjir tidak bisa diajak bicara. Sifat air hanya mencari tempat yang lebih rendah. Terlalu lama berkutat dengan program dan istilah, warga juga yang akan menanggung akibatnya. Demikian kira2.

Nah buat warga DKI yang kebanjiran , bersabar ya.

http://www.tribunnews.com/…/banjir-terjang-jakarta-tagar-an…

Sumber : Status Facebook Nophie Kurniawati

Saturday, April 27, 2019 - 17:45
Kategori Rubrik: