Banjir dan Usaha

ilustrasi
Oleh : Ahmad Sarwat
Banjir terjadi karena daya serap tanah itu ada batasnya. Ketika tanah dihujani banyak air melebihi ambang batasnya, maka daya serap tanah pun berhenti.
Kalau sudah berhenti terserap tanah, jadilah genangan air. Kalau hujan tidak berhenti, genangannya semakin penuh, namanya berubah jadi : banjir.
Kalau hujan masih tidak berhenti juga, maka banjirnya semakin merata dimana-mana.
Secara teknologi sebenarnya bisa juga air dipaksa masuk tanah. Misalnya lewat teknologi sumur resapan. Secara teori masuk akal namun secara bukti kadang sulit diimplementasikan.
Buktinya di DKI Jakarta ini, dari 1,8 juta sumur yang ditargetkan, ternyata baru dibangun hanya 1.772 titik saja. Belum ada seperseribunya.
Hujan dengan curah yang tinggi sudah jadi ritual rutin tahunan, disebut dengan musim penghujan. secara hitungan di atas kertas sudah bisa ditebak bahkan ada wilayah langganan banjir.
Cara lain hindari banjir bisa juga dari hulunya, yaitu curah hujannya yang dikendalikan lewat lalu lintas awan.
Makanya awan-awan yang berpotensi menurunkan hujan itu 'diusir' biar menjauh. Silahkan turunkan hujan, tapi jangan disini. Di laut saja misalnya.
Itu mirip doa Nabi SAW yang minta jangan turunkan hujan di tengah Madinah, tapi di luar kota.
اللهم حوالينا لا علينا
Dengan pesawat terbang, iring-iringan awan yang bawa air potensi banjir kita siasati. Ketika masih di atas laut lagi menuju ke darat, sudah diaborsi, biar beranak di jalan.
Hujan sih, tapi masih di tengah laut dan belum sampai di daratan. Banjirnya biar di laut saja yang dari dulu sudah banyak air.
Sedangkan iringan awan hujan di atas kita yang udah mau 'beranak', dibikin biar tidak bisa beranak dulu, kecuali kalau sudah sampai di atas laut. Brojolinnya di laut aja yang memang tempatnya air.
Teknologi macam itu sudah lama ditemukan, namun nampaknya belum dapat perhatian penuh. Seharusnya kita punya tim khusus pemburu awan hujan.
Kita kudu punya pasukan tempur berupa skuadron tempur dengan sekian banyak pesawat terbang yang tugasnya khusus mengejar-ngejar awan. Mirip kayak mobil tim pemadam kebakaran.
Selain itu tentu saja 13 anak sungai yang merambah Jakarta perlu diperlebar jalurnya. Ibarat jalanan sempit bikin macet, perlu diperlebar kayak jalan tol.
Jalan Buncit Raya atau Ciputat Raya itu memang biang macet. Kalau mau lancar, lebarkan 40 meter ke kanan dan 40 meter ke kiri di luar jalan aslinya.
Dan satu lagi, semua persimpangan jalan dimatikan saja. Insyaallah lancar dan cepat sekali.
Saya jadi teringat jalanan untuk aliran jamaah haji melontar jamarat di Mina. Jalannya selebar jalan tol, tapi untuk jalan manusia. Ada puluhan trek jumlahnya, dan sepanjang trek-trek itu kita tidak boleh berhenti. Begitu berhenti kecapean, langsung diusir petugas. Ruh . . ruh . . .thariq . . Thariq . . .
Jakarta Surabaya saya bisa tempuh hanya 10 jam lewat tol. Padahal zaman dulu butuh 2 hari di perjalanan, pakai acara nginep dulu di Semarang.
Sungai perlu dijadikan TOL juga. Biar di musim kemarau ketika debit airnya kecil, tetap mengalir kecil di tengah-tengah. Dan di musim hujan, ketika debit airnya besar berkali lipat, semua airnya tetap bisa tertampung dan tidak perlu masuk perumahan warga atau menenggelamkan jalanan.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga kaum itu mengubah dengan diri mereka sendiri.
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat
Tuesday, February 23, 2021 - 11:00
Kategori Rubrik: