Banjir dan Formula E

ilustrasi

Oleh : Desrinda Syahfarin

Btw prihatin nggak sih menyaksikan gimana gabener tuh sekarang kelihatan banget inkompetensi dan ignorance?

Sibuk denial. Nggak berani menyatakan apa aja masalah besar di Jakarta, bisa jadi karena dia takut makin dimaki orang, bisa juga karena sama sekali nggak mampu mengidentifikasi masalah.

First step to problem solving is acknowledge the problem. Dari situ ada fishbone diagram, 7WHY dll metoda identifikasi masalah lalu diambil solusinya. Gubernur-gubernur DKI sebelumnya cukup piawai, dari para jenderal sampai Bang Foke dan Pak Jokowi, Pak BTP, Pak Djarot. Jadi banjir besar (indikasinya rumah saya di Rawamangun pun kebanjiran) hanya terjadi beberapa tahun sekali, dan hanya sehari. Tindakan langsung diambil. Kalaupun terjadi lagi biasanya karena tanggul jebol dll faktor ketidaksengajaan.

Anies ini PhD tapi nggak ngerti management aparat DKI. Makanya tanggal 1 Januari ada banjir besar, lalu terjadi lagi tanggal 8 Februari, lalu 23 Februari, lalu 25 Februari...makin pendek antar waktunya...berarti sama sekali nggak ada tindakan. Rakyat disuruh berdoa menanti air laut surut, kesengajaan pembiaran.

Padahal dengan pasukan TGUPP yang gajinya milyaran plus ribuan anak buah pasukan oranye/biru dan anggaran Rp 70 triliun, Anies harusnya bisa berbuat banyak. Masalahnya kita nggak bisa ngapa-ngapain orang yang salahnya adalah dia nggak ngapa-ngapain khan?

Duh, gw sih kalau jadi Mendagri langsung skorsing aja tuh orang, ganti Plt Gubernur DKI misalnya Bang Foke lagi, atau Bang Yos lagi. Udah gawat darurat ini. Masa' akan banjir besar terus ini Jakarta sampai musim hujan berakhir?

Sumber : Status Facebook Desrinda Syahfarin

Tuesday, February 25, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: