Banjir Bukan Karena Adzab Tapi Keserakahan

ilustrasi
Oleh : Agung Baster

mengatakan penyebab banjir di Kalsel adalah karena Curah Hujan yg tinggi serta meluapnya DAS (daerah aliran sungai) Barito.

Hal itu sebagian benar tapi sebagian lainnya menutupi fakta klo penyebab banjir besar Kalsel yg belrum pernah terjadi sepanjang 50 tahun terakhir ini adalah karena rusaknya hutan di sepanjang DAS (daerah aliran sungai) Barito.
Kerusakan DAS (daerah aliran sungai) Barito ini sendiri di sebabkan oleh penggundulan hutan baik untuk keperluan pertambangan dan untuk perkebunan sawit. Padahal hutan skunder maupun primer di sepanjang DAS (daerah aliran sungai) Barito ini adalah penyangga agar air hujan tidak meluap seluruhnya ke sungai Barito, karena walaupun sungai Barito itu adalah sungai terbesar di Indonesia, tapi tetep saja sungai Barito itu memiliki daya tampung maksimalnya sekitar 230 - 300 juta meter kubik, tapi begitu kena hujan selama 10 hari dan tanpa hutan penyangga di sekitar aliran DAS (daerah aliran sungai) Barito ini maka sungai ini pasti luber karena air yg turun bisa mencapai 1 - 2 milyar meter kubik. Dan hasilnya jackpot 10 kabupaten dan ibukota propensi Banjarmasin langsung kerendam banjir.
Sebenarnya masalah kerusakan hutan di sekitar DAS (daerah aliran sungai) Barito ini sudah terjadi lama, bahkan saat ane masih jadi mapala dan sering nongki2 di WALHI hal ini udah sering kali jadi bahan perdebatan dan pembahasan dengan DPRD dan Pemda Kalsel. Tapi kayaknya hal ini tidak terlalu di perdulikan elite politik kita bahkan kerusakan hutan sekitar DAS (daerah aliran sungai) Barito ini semakin menjadi2 karena perubahan prioritas kebijakan di Kalsel sendiri dari yg awalnya industru perKayuan, menjadi Pertambangan Batubara kemudian menjadi perkebunan Sawit lagi.
Nah bagi yg pernah belajar tentang analisa lingkungan dan management ekosistem pasti paham umumnya daerah perkebunan Sawit itu selalu rentan terjadi banjir serta tidak ramah lingkungan karena menghancurkan hutan dan membuat banyak binatang endemik suatu daerah punah karena kehilangan ekosistemnya.
Tapi ironisnya hari ini pemerintah Jokowi justru mempropagandakan sawit itu baik, bahkan sering kali di citrakan industri sawit indonesia itu sebagai industri yg heroik "NKRI price die" karena melawan dominasi eropa yg melarang produk sawit masuk kenegaranya, atau menggunakan sentimen anti-asing-mamarika yg membandingkan industri sawit indonesia dengan industri kedelai amerika.
Hari ini semua orang yg berbicara sumbang mengkritik industri sawit selalu di labelin pro-eropa, pro-amerika, membuat masyarakat miskin, penghianat, atau tidak nasionalis. Padahal sangat jelas kita lihat industri sawit di Indonesia ini menyebabkan banyak masalah bagi masyarakat daerah sekitar perkebunan tersebut mulai dari banjir, kebakaran hutan, sampai konflik sosial rebutan lahan, maupun kesenjangan sosial yg sangat jomplang, sebaliknya para pemilik perkebunan tersebut di pusat maupun di pulau2 jawa semakin tajir melintir saja jauh dari ancaman banjir dan konflik sosial di daerah. Salah satu contoh realnya : klo kalian ingat beberapa waktu lalu ada berita crazy rich yg menikahkan anaknya dengan pesta gila2an bagaikan pesta pernikahan ala raja2 nah itu adalah para pemilik perkebunan sawit di kalimantan.
Secara pribadi ane percaya bencana ini bukan karena azab atau ujian tuhan maupun dewa2 lampau, tapi karena kesalahan kita sendiri yg menghancurkan alam demi ekonomi.
Pada akhirnya saat pohon terakhir di tebang dan sungai terakhir mengering kita akan paham tidak akan bisa membeli kehidupan dengan uang sebanyak apapun.
Sumber : Status Facebook Agung Baster
Friday, January 22, 2021 - 08:30
Kategori Rubrik: