Banjar

ilustrasi
Oleh : Budi Setiawan
 
Hampir setengah tahun belakangan ini saya  bolak balik ke Banjarmasin untuk urusan bisnis.  Menikmati sop sumsum super enak  dekat tugu ke arah Martapura.  Patin Bakar, Soto Banjar dan kopi Dayak.  
 
Yang tidak pernah saya lupakan adalah teriakan pramusaji "Pak nasinya nasi Jawa atau nasi Banjar. " Pulen atau pera.  Saya pilih pulen. 
 
Selain  berkuliner ria, tentu saja bergaul dan berkenalan dengan kawan-kawan disana. Entah kebetulan atau tidak,  rata-rata kawan dan rekan bisnis saya ini istrinya lebih dari satu.  Obrolan dewasa tentu tidak layak dipaparkan disini mengenai enaknya poligami versi mereka. 
 
Kata mereka,  lelaki Banjar pantang beristri satu. Paling tidak dua atau tiga. Jika satu istri saja,  dipandang lelaki Banjar masih unyu. Setara dengan lulusan SMA yang hidupnya susah. 
 
Beristri dua berarti ujian lelaki untuk lulus S1 kehidupan mapan menuju tantangan berikutnya S2 dimana hidup bagaikan raja.  Sudah pasti dalam perjalanannya mencari istri lagi,  lelaki Banjar sudah berhaji. Dan paripurna lah status lelaki Banjar jika sudah punya istri empat. Sudah bergelar S3 dan Profesor. 
 
Kenapa demikian?  Apa tidak menyakiti wanita jika poligami itu?  Tanya saya.
 
Para kawan menjawab tentu tidak. Karena banyak wanita Banjar yang bersedia jadi istri kedua, ketiga dan keempat.  Mereka pandang itu sebagai takdir. Apalagi yang mengawininya itu hulu balang para raja batu bara,  minyak atau kelapa sawit.  
 
Dan kata mereka,  ajaran Islam mengatakan untuk berpoligami, suami tidak perlu izin karena beristri lagi itu hak lelaki. 
Makanya mas Budi ambil satu lagi jadi kalau ke Banjar tidak kesepian lagi.  Dijamin panjang umur dan sehat. Contohnya Bapak saya. Dia kawin lagi,  penyakit dalamnya langsung sembuh. Dan sampai sekarang sehat dan panjang umur. 
 
Siaran Iklan kawan tadi berakhir dengan tawa gelak. 
 
Tentu saja penjelasan kawan-kawan tadi tidak serta merta menyama ratakan lelaki Banjar doyan kawin lagi. Atau yang memandang almarhum Arifin Ilham yang juga dari Banjar sebagai role model.  Ganteng,  kaya,  terkenal dan punya istri nyaris empat kalau dia tidak jatuh sakit.  
 
Demikian juga penjelasan soal wanita Banjar yang pasrah di madu atau dikawin jadi istri kedua, ketiga atau keempat. Tidak semua wanita Banjar pasrah saja dimadu. 
 
Saya kemudian jawab bahwa Poligami bagi saya bagaikan pintu darurat di pesawat. Yang hanya dibuka ketika dalam keadaan yang sangat mendesak.  Bukan pintu darurat di bioskop yang dengan bebas kita masuk ketika kebelet pipis. 
 
Saya tidak hanya mendapatkan seorang istri tapi juga soulmate. Yang menyebabkan dunia kami terlarang dimasuki orang ketiga.
 
Kawan-kawan poligamer mendengar jawabannya saya dengan ketawa ngikik
 
Dengan logat Banjar yang kental kawan beristri tiga itu berkata, 
 
"Pean belum tahu enaknya...Itu sebabnya  kenapa  kami sajikan kopi Dayak.. "
 
Dan memang habis minum kopi Dayak , jadi agak panas-panas gitu.. 

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

 

Sunday, June 2, 2019 - 14:00
Kategori Rubrik: