Bangsa Tak Punya Humor

Oleh: Sunardian Wirodono
 

 Setelah disindir sebagai diktator, bahkan oleh SBY dan para pengikutnya, Jokowi bereaksi. Meski ngomongnya pada anak kecil dalam sebuah acara (agar anak kecil itu tak takut); bahwa wajahnya tidak menakutkan, karena bukan wajah diktator.

Pernyataan soal wajah diktator itu, diulang lagi di Solo. Dulu disebut wajah ndeso, klemar-klemer, tapi kemudian disebut pula tiran, diktator. Tentu saja, reaksi Jokowi disampaikan seperti biasa, dengan gaya humor. Yang bener yang mana, dari wajahnya itu? Fadli Zon, langsung bereaksi di twitter; Diktator itu ukurannya bukan di wajah, bla-bla-bla.

 

 

Komentar Fadli Zon, menunjukkan betapa wudelnya bodong. Anak ini begitu culun. Saya tak tahu ini politikus atau orang yang beruntung, karena nempel Prabowo? Mungkin dia beruntung. Meski sikapnya pro koruptor, yang merupakan kambrat-kambratnya, tapi dia presiden parlemen anti korupsi se-dunia.

Jokowi adalah presiden yang sesungguhnya menyenangkan. Ia gambaran sebagian besar kita. Jokowi sukses melakukan dekonstruksi politik dan kekuasaan, yang selama ini terasa sangat mistis dan angker. Bersamanya lebih rileks dan jujur, juga penuh canda meski tanpa melupakan kerja keras yang jadi slogannya.

Betapa menegangkan hidup tanpa humor, disamping lebih menunjukkan kebodohan. Sebut misal para pembenci Jokowi, dalam satu helaan nafas menuding Jokowi sebagai komunis dan kapitalis sekaligus. Hanya lelucon dari Indonesia yang punya definisi itu, apalagi kalau yang ngomong Amien Rais cum suis.

Mungkin karena humor sering dianggap remeh. Humor bukan sesuatu yang serius. Humor tidak intelektual (apalagi dengan contoh acara komedi di TV Indonesia, yang memang tak mutu). Apalagi humor seks, sama dengan keburukan pangkat dua.

The mirror is my best friend because when I cry it never laughs, kata Charlie Chaplin. Tapi tak banyak orang (mau) mengerti kenyataan, apalagi yang pahit. Basiyo komedian keren dari periode Dagelan Mataram Yogya, yang setepatnya berada dalam gambaran Charlie Chaplin. Kemampuan menertawakan diri, menurut Gus Dur adalah berkat kemampuan melakukan internalisasi, lebih bisa berjarak, mampu dan mau mendengar, menghargai pluralitas, dan toleran.

Lelucon adalah salah satu kebutuhan manusia, tulis Arthur Koestler dalam ‘The Act of Creation’. Dan karena manusia makhluk kreatif, dia sanggup menciptakan lelucon. Manusia reaktif, agak susah memahami humor, apalagi mengapresiasi. Disitu sebutan sumbu pendek diterakan.

Manakala kritik tak mempan, muncul kritik berupa lelucon. Masyarakat putus asa menyaksikan ketidakberesan, dan karena tak mampu merombak keadaan, muncul kebencian. Sumber keputusasaan dan kebencian, di Indonesia, lebih banyak karena perilaku elite, terutama politikus.

Di Perancis pernah muncul lelucon; Para politikus marah karena tudingan 50% politikus adalah bajingan. Tudingan itu kemudian diralat; 50% politikus, bukan bajingan!

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Thursday, August 10, 2017 - 20:15
Kategori Rubrik: