Bangsa Pelupa

ilustrasi
Oleh : Vika Klaretha Dyahsasanti
"Kita harus membedakan ingatan akan sebuah peristiwa dan ingatan akan emosi kita pada peristiwa tersebut."
Demikian tertulis dalam artikel berjudul 'Etika (Tidak) Mengingat Bangsa Pelupa' , makalah Binsar J. Pakpahan yang terdapat dalam buku kumpulan esai Filsafat di Indonesia: Politik dan Hukum.
Dari situ kita bisa mengambil contoh Piala Dunia 1986. Maradona mencetak gol kontroversial 'tangan Tuhan'. Inilah yang disebut ingatan peristiwa, Sepuluh tahun kemudian bisa jadi hampir semua kita telah melupakan peristiwa tersebut. Tetapi ingatan akan emosi saat melihat gol Maradona itu akan jauh lebih kuat, daripada serangkaian data historis seperti tempat dan tanggal kejadian. Ingatan emosional membantu kita dalam mengingat suatu peristiwa.
Ingatan emosi ini sulit memudar. Sebagai pembentuk identitas, kedua ingatan ini dapat diteruskan ke generasi berikut. Sebuah komunitas memerlukan ingatan emosi untuk mengikat dan mempersatukan mereka. Kemudian ingatan sejarah akan digunakan untuk memberi alasan penyatuan mereka. Namun, ikatan emosilah yang lebih membangun sebuah bangsa daripada ingatan akan peristiwa tersebut.
Sebuah tim sepakbola akan menyatu jika berbagi ikatan kemenangan atau kekalahan daripada mengingat siapa harus mengoper siapa. Dalam sepuluh tahun lagi mereka masih bisa mengingat kebahagiaan kemenangan sebuah tim, tanpa mampu mengingat siapa yang mencetak gol.
Ingatan ini juga membentuk identitas suatu komunitas. Mungkin ketakutan bahwa negara akan hancur karena tidak berdasar keagamaan lebih memainkan emosi dan melekat kuat dalam ingatan sekelompok orang di Indonesia, daripada menerima fakta bahwa belum ada negara dengan konsep keagamaan demikian yang terbukti berhasil. Pancasila jauh lebih bisa dibanggakan karena membuat negeri ini telah berdiri selama 75 tahun. Membuat kita tak perlu minder pada Nyonya Meneer yang kokoh berdiri sejak awal abad 20. Namun kelihatannya ikatan akan Pancasila itu tak melekat kuat secara emosional, meski secara umum kepribadian masyarakat kita seperti itu.
Ketika ingatan akan emosi yang menyakitkan diwariskan kepada generasi penerus, tanpa menjelaskan secara obyektif peristiwa yang terjadi, maka cara mengingat yang negatif sedang diwariskan pada sebuah komunitas. Sebuah kelompok dapat bertindak berdasar ingatan itu, tanpa benar-benar tahu apa yang terjadi.
Peristiwa G30S misalnya. Bagi banyak orang, mereka lebih familiar dengan pandangan kekejaman PKI murni, karena narasi-narasi bentukan Orde Baru. Tak sedikit yang tak tahu bila ada kekejaman besar lain terhadap mereka yang dicap PKI setelah peristiwa itu. Karena memang di masa lalu, fakta tersebut tak dibuka. Sehingga konsep kekejaman peristiwa tersebut mutlak dibangun pada ingatan emosional tentang kejahatan PKI. Meski idealnya ingatan akan emosi negatif juga harus diimbangi dengan ingatan apa yang sesungguhnya terjadi.
Menurut Pakpahan, masyarakat dengan sistem sosial lebih tradisional akan memilih pemimpin relijius sebagai orang tertinggi untuk memilih dan memilah ingatan. Sementara masyarakat modern memiliki institusi untuk mengingat seperti arsip, monumen, nama jalan dan sebagainya.
Seringkali ingatan berbeda dengan sejarah resmi. Siti Nurbaya mungkin mengingat hari pernikahannya sebagai hari dimana ia kehilangan kebebasannya, sedang Datuk Maringgih mungkin mengingatnya sebagai hari penaklukan. Untuk menghindari perbedaan antara ingatan dan sejarah resmi dari suatu peristiwa yang sama, dibuatlah upacara-upacara perayaan, hari-hari peringatan ataupun monumen. Maka masyarakat akan bersepakat bila tanggal sekian, bulan dan tahun sekian adalah hari pernikahan Siti Nurbaya, karena pada hari itu ada upacara pernikahan. Di masa berikutnya bahkan ada Kantor Catatan Sipil atau KUA yang menerbitkan akta perkawinan resmi. Kenangan akan tanggal sekian bulan sekian kini bukan lagi mengikut ingatan pedih Siti, atau ingatan kemenangan Datuk.
Ingatan bisa menjadi dasar identitas yang kuat, terutama dalam konteks kenegaraan karena mengingat juga merupakan langkah penting untuk mencegah hal-hal negatif dari masa lampau kembali terjadi. Maka kita kemudian mengenang kekejaman Hitler.
Sayangnya, mengingat ternyata bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan orang Indonesia. Bangsa kita terkenal dengan amnesia sejarahnya, terutama bila berkait ingatan-ingatan emosional. Seseorang yang dilahirkan di tahun 90an, bisa dengan enteng mengatakan zaman Orde Baru adalah zaman gemah ripah loh jenewer. Tentu saja ia bisa berkata demikian karena kebetulan ia banyak mendengar ucapan orang tua dan saudaranya yang kebetulan pejabat masa Orde Baru dan diberi banyak kemudahan rezim, termasuk sering mendapat tanah kavling gratis. Dia bukan warga Kedung Ombo, bukan pula warga yang dianggap tidak bersih lingkungan, atauun petani cengkeh. Mungkin amnesia sejarah pula yang membuat publik lupa pada rekam jejak motivator tenun kebangsaan yang kemudian banting setir menjadi politisi yang memanfaatkan isu-isu SARA.
Namun demikian, amnesia, 'lupa' ataupun 'melupakan' dalam konteks Indonesia bisa jadi tidak 100% buruk. GM menganalisis peristiwa Sumpah Pemuda 1928 sebagai kesadaran untuk secara sadar melupakan identitas kedaerahan menjadi sesuatu yang baru: komunitas imajiner bernama Indonesia. Kelahiran suatu bangsa baru, dan kelak menjadi negara baru, yang dibangun dari kesadaran melupakan perbedaan asal.
Amnesia publik di kala bencana alam besar juga berdampak membuat bangsa ini bisa segera bangkit membangun, seperti yang terjadi setelah Tsunami Aceh (2004) atau Gempa Yogyakarta (2006). Dengan cepat masyarakat melupakan ingatan emosional akibat bencana, menjadi fokus untuk bergotong royong. Konon tidak semua tempat di dunia punya masyarakat dengan recovery secepat Indonesia. Di luar sana, ada banyak tempat-tempat yang menjadi mati dan tak pernah lagi berpenghuni karena bencana.
Membaca manfaat amnesia publik ini saya tertawa. Sebab saya pribadi sering geli dan meremehkan sifat gampang lupa sejarah bamgsa ini. Seperti eks tukang obat yang lupa bila ia sedang berceramah di depan mikrofon, jadi tak perlu berteriak-teriak hingga muncrat. Mungkin ingatan emosionalnya masih membawa ia pada masa berteriak di Alun-alun tanpa pengeras suara, di tengah keramaian, tanpa seorang pun hirau padanya. Berteriak menjadi cara untuk menarik perhatian orang lain. Amnesia komunal pula yang membuat seoramg terpidana korupsi dapat memenangkan pilkada lagi.
Itu hanya salah satu contoh. Kejadian amnesia seperti itu banyak. Sehingga secara berseloroh, ayah saya mengatakan orang Indonesia punya memori seperti memori 'redial' dalam telepon jadul. Hanya menyimpan memori untuk nomer terakhir yang dihubungi, dan akan segera tergantikan oleh nomer yang dihubungi lebih baru.
Sampai di sini saya teringat diskusi yang saya ikuti via zoom baru-baru ini. Bertema tentang Outlook Economy Kota Solo pada 2021. Dikatakan salah satu pembicara, seorang Perwakilan Bank Indonesia Surakarta, salah satu kunci kebangkitan pertumbuhan ekonomi adalah confidence. Kepercayaan yang cukup besar bagi para pelaku sektor-sektor ekonomi. Ia kemudian mengatakan, salah satu key point mengembalikan confidence adalah bangkit dari pandemi. Termasuk juga kepercayaan penuh pada program vaksinasi Covid. Tak ada resistensi, tak ada berita simpang siur. Tak ada emosi negatif yang berujung pada ingatan negatif: negeri yang tak aman dan nyaman karena penduduknya tak mampu berpikir rasional.
Ingatan negatif ini berujung pada hilangnya confidence para pelaku ekonomi. Investasi yang terhambat, kegagalan pertumbuhan ekonomi, dan berujung pada depresi. Baik depresi ekonomi, maupun depresi bagi penduduknya. Baru kemarin teman saya bercerita keluhan kakaknya yang tak lagi bisa berlayar, hanya karena negeri tempatnya bekerja menganggap Bangsa Indonesia adalah sekumpulan masyarakat bodoh yang percaya hoax vaksin.
Semua imbas yang terjadi sungguh tak lagi sedehana, meski berawal hanya dari framing-framing buruk bertujuan politik, yang segera saja menjadi ikatan negatif yang mengikat sesama warga. Mereka yang tak paham dampak Covid, mereka yang tak paham prinsip pemulihan ekonomi. Saya tiba-tiba merinding pada efek buruk sesuatu yang seringkali hanya saya anggap dagelan: orang bodoh yang percaya hoax.
Pembicara berikutnya dalam diskusi tersebut adalah Walikota Terpilih Surakarta. Ia mengatakan bahwa masyarakat akan diberi kesadaran bahwa manfaat vaksinasi tidak semata untuk kekebalan individu, tetapi kekebalan komunal. Kekebalan masyarakat. Dengan demikian masyarakat dibangkitkan pada kepribadian asli bangsa ini: gotong-royong, tepa selira, dan bertanggung jawab sosial. Susah senang ditanggung bareng....
Saya rasa kita harus mulai banyak melakukan gerakan sederhana serupa. Membangun ingatan emosi yang positif, ingatan yang membangun kepercayaan diri, kepercayaan masyarakat maupun kepercayaan global. Saya membayangkan betapa merusaknya efek ingatan negatif yang sedang dialami Amerika akibat isu-isu SARA yang merajalela di era Trump. Tentu kita tak ingin Indonesia seperti itu.
Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti
Thursday, January 28, 2021 - 10:00
Kategori Rubrik: