Bangsa Nyinyir

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Syahdan, tersebutlah sebuah negara kaya-raya. Alamnya indah, masyarakatnya gemar beribadah. Jidatnya hitam, celananya cigkrang. Sayang, masih banyak yang miskin lagi bodoh. Sudah begitu suka sekali memaksakan keyakinan pada umat lain. Ada yang pakai iming-iming indomie, ada yang pakai pentungan. Negara itu bernama Indonesia.

Tersohor sudah bangsa yang katanya besar itu, suka sekali membesar-besarkan banyak hal. Negara dengan pengguna internet paling cerewet. Lebih tepatnya, banyak omong besar. Soal hari perayaan saja ribut. Soal berapa lama penjajah Belanda menguasai Indonesia mereka ribut. Soal berapa luas wilayah Majapahit dan Sriwijaya mereka ribut lagi. Tiada hari tanpa ribut. Semua orang ingin tampil di panggung.

Di bulan April, mereka ribut soal Kartini. Kenapa harus kartini, bukankah ada Kartono? Verrdommee... Ini pasti konspirasi belanda! Mengapa bukan Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Rasuna Said? Dasar jawasentris kalian!

Helllooo? Memangnya dilarang mencutnyakdienkan diri pada hari Kartini? Memang dilarang mendewisartikan diri di hari Kartini? Memang dilarang ya merasunasaidkan diri di hari Kartini? Nanti jika salah satu dari tokoh itu dipilihpun, kalian akan tetap ribut. Persoalannya bukan pada diri Kartini, tapi rasa iri. Kalian menggali-gali persoalan. Ingin naik dengan cara merendahkan.

Di bulan Mei mereka ribut soal Ki Hajar Dewantara. Kenapa bukan Ahmad Dahlan? Kenapa bukan Daendels? Kenapa bukan Jokowi, Prabowo, Ahok? Ini pasti konspirasi wahyudi!

Dengan logika yang ruwet mereka membawa bukti. Ahmad Dahlan mendirikan Muhamadiyah tahun 1912. Taman Siswa baru ada tahun 1922. Ayo, selisih sepuluh tahun, kembaliannya mana? Muhamadiyah muncul untuk menghadang kristenisasi. Banyak sekolah kristen muncul dan didukung dana oleh belanda. Muhamadiyah dijadikan jalan keluar agar pribumi punya akses pendidikan plus keagamaan. Meskipun NU dan pesantren juga lebih dulu ada. Tapi mereka tradisionil.

Lalu Taman Siswa diserang oleh orang-orang Masyumi (termasuk Muhamadiyah). Mereka dikatakan abangan, kejawen, agen fremasson, balpirik, geliga dan sebagainya. Inilah yang membedakan Taman Siswa dan Muhamadiyah, Sekolah Kristen, dll itu wahai nyinyirers. Taman Siswa mengeluarkan doktrin agama dari dirinya. Mereka mencangkokkan ajaran ala Tagore, Montessory, dsb. Mereka sekolah modern, nasionalis, non dogma.

Dan yang paling memalukan adalah, soal pembebasan tawanan saja di-aku-aku. Sudah minum obat saudara-saudara? Tawanan itu konon dibebaskan tanpa tebusan. Bagaimana mungkin? Kata mereka. Ah Jokowi bohong. Mereka dilepas karena sudah dibayar, kata Mega. Lalu muncul pula klaim, Kivlan yang paling berjasa. Kelompok sebelah ikut ngotot. Tidak, Ani! Kau terlalu! Bang Brewok Paloh yang berjasa.

Ini adalah persoalan kadar malu yang sangat serius. Tiba-tiba banyak ahli sejarah yang menganggap Soekarno bodoh. Tiba-tiba banyak ahli forensik yang menyatakan bukti-bukti mereka lebih valid. Tiba-tiba banyak ahli telematika dan gestur. Tiba-tiba dan tiba-tiba. Padahal pokok persoalannya hanya akal sehat. Dan tentunya sedikit rasa malu. Bangsa ini memang besar, dilihat dari jumlah keragaman. Tapi juga besar omong kosongnya. Besar tak tahu malunya. Bangsa nyinyir yang dikendalikan desas-desus media.

Demi dewaa...

 

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Tuesday, May 3, 2016 - 10:45
Kategori Rubrik: