Bangkitnya Keberagaman

ilustrasi
Oleh : Nung Warman
Pasca tukang obat settingan Imam di kerangkeng, 92 rekening belanjanya di blockir, pasukan nasbung langsung mendung, bubar sebelum hujan.
Jokowi sekali lagi mengambil langkah berani dgn penuh nyali dan kalkulasi, hasilnya presisi.
Seperti halnya dia menghabisi HTI serangan awal pembelaan dari para pecundang juga garang, tapi bersamaan berjalannya waktu mereka hilang jd hantu.
Partai politik itu kan kalau gak menunggangi ya di tunggangi. Sama halnya FPI, tunggang menunggangnya sudah selesai, sekarang bohiernya yg ketar ketir karena aliran dana di rekeningnya akan diurai, siapa saja mereka.
Harapan kita FPI dijadikan tertuduh sebagai teroris, maka bohiernya adalah pendana terorisme yg jelas hukumannya. Sekarang ada bohier gede yg mulai meracau, bicara kebohongan pemerintah segala, wong raja bohongnya ya dia. Makanya Tuhan tidak suka.
Kita tinggalkan sampah, Jokowi saat ini sedang meneruskan menyapu sampah untuk diangkut ke TPA, sampah yg sudah ada di TPA dia biarkan, apakah bisa di daur ulang atau akan membusuk, tergantung jenis sampahnya, tinggal tunggu dipilah atau dibakar sekalian agar kerumunan lalatnya sekalian binasa. Sampah lama sudah terlalu banyak, konsentrasi kita menjaga tidak terjadinya sampah baru.
Dalam Minggu ini dua kejadian susulan yg menyejukkan membuat harapan Indonesia maju semakin memberikan harapan. Singkatnya mengangkat jendral Sulistyo yg beragama Nasrani sebagai Kapolri adalah sebuah langkah berani, dan tak salah.
PKS sang mata lalat biasanya gencar menyerang kafir tiba² jadi kentir ikut full mendukung Sulistyo dgn komentar yg tak biasa, pujian yg diberikan seolah mereka melepas sorban. Apakah ini juga berkaitan karena FPI dibubarkan, sehingga mereka kurang pasukan.
Serpihan komentar tentang Kapolri yg Nasrani masih ada dari wakil ketua MUI, tapi ini kita anggap saja bak bait syair yg salah ucap. Nggak ngaruh Son. Saya juga nggumun kok kemarin saat bersih² MUI masih ada pentolan korek ketinggalan disana.
Kembali kepada Sulistyo Kapolri yg menginginkan anak buahnya yg muslim mengaji kitab kuning, dia akan menjadikan Polri lebih humanis tapi tegas, tidak jadi pasukan belah bambu, mengangkat yg diatas, menginjak belahan bawah, itu harapan yang bisa kita sisipkan.
Bersamaan dgn isu Sulistyo, LBP juga membayar janjinya kepada NU, cita² nya bersama GUSDUR membangun Universitas NU, mulai terwujud. LBP menyerahkan tanah hibah yg diurusnya bersama pemerintah di daerah Jonggol seluas 10 ha resmi di serahkan kepada PBNU, tujuan Universitas ini adalah menjaring bibit terbaik dikalangan putra/putri Nahdiyin untuk menjadi putra/putri berbakti kepada ibu Pertiwi. Siapa LBP, ya kita kenal beliau seorang Nasrani sejati, yang sudah lolos uji nyali.
Seolah kita baru siuman, saat ini menjadi begitu nyaman setelah memakan waktu lama yg melelahkan diributkan oleh urusan saling mengkafirkan, yg ternyata itu semua settingan.
Kini waktunya untuk sebuah kebangkitan bersama tanpa diributkan lagi oleh perbedaan agama sehingga Pancsila sebagai ruh Indonesia bisa hadir kembali, dan 5 agama serta alirannya bisa bersama merasakan Indonesia sebagai rumah besar kita.
Harapan kita setelah ini tidak ada lagi isu kok Kapolri, Pangdam, panglima, Ketua RT Nasrani bukan Islam. Jangan lagi, walau bukan berarti terus membiasakan Rocky Gerung dan Lius Sungkarisna bisa memberi tausiah di masjid yg isinya makian semua.
Artinya kita harus paham mana lembaga negara, mana lembaga yg mengurus agama. Makanya Menag sudah berikrar bahwa dia Menteri semua agama. Menteri agama Republik Indonesia.
Oleh karenanya mari kita jadikan momentum ini membangkitkan semangat bersama membangun kembali tonggak ke bhinekaan kita sebagai bangsa, bukan sebagai pencela sesama dgn tak sadar menghancurkan Indonesia.
Kita sudah belajar dihajar orba dan anak didik serta cucunya. Janganlah kita membiarkan hal yg sama disemaikan oleh para pecundang yg otaknya hanya kekuasan dan uang.
Ada dua hari yg menentukan sebuah keutuhan, pertama hari dimana Indonesia meraih kemerdekaan, kedua hari dimana kita bertanya mau dibawa kemana dan untuk apa Indonesia ada.
Dengan begitu maka, anak muda harus terus ada sebagai pengawal bangsa agar keterpurukan tidak terulang hanya karena kita salah memilah pemimpin.
Jangan lagi memilih yg berpenampilan elegan, atau yg nyamar dewasa yg dipaksakan.
Hadirnya Jokowi mempin Indonesia selain sebagai karunia, dia adalah contoh pemimpin yg bisa ditauladani anak muda. DIA JUJUR, BERANI DAN PINTAR. Tiga pilar ini yg harus terjaga agar hidup kuat bermanfaat.
Jujur dan pintar, kalau tak berani, ya gak bisa. Jujur dan berani, kalau gak pintar ya juga gak bisa. Berani dan pintar, tapi gak jujur, apalagi.
Mungkin Indonesia sudah kena inflasi orang Pintar dan berani tapi gak jujur, makanya kita nyaris hancur. Karena orang Pintar dan Berani tapi gak Jujur, gampang melacur.
Kita tinggal menunggu Ketua Dewan Masjid menghibahkan tanah untuk Universitas Kristen Indonesia. Alangkah indahnya Indonesia bila hal ini terjadi, semoga saja..
Sumber : Status Facebook Nung Warman
Saturday, January 23, 2021 - 18:15
Kategori Rubrik: