Bang Ipul Mangkat

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

(Saefullah Semasa Hidup ? Khair . . . !)

Sekretaris Wilayah DKI Jakarta berpulang. Putra asli Betawi kelahiran Kampung Rorotan, 11 Februari 1964.

Lulusan IKIP Muhammadiyah, S2 UNJ, Doktor produk Universitas Pajajaran tahun 2009. Awalnya memang menjadi guru, seperti pendidikannya. Kemudian menanjak menjadi Wakil Kepala Dinas, lalu menjadi Kepala Dinas.

Jabatsn sebagai orang nomer Tiga, Sekda, dianugrahkan padanya tahun 2014. Setelah sebelumnya menjadi Walikota Jakarta Pusat.

Puluhan tahun menjadi Abdi Negara membuat beliau begitu paham seluk beluk 'isi hati' warga-nya. Apalagi berbekal darah Betawi-nya.

Performance Pekerja Keras ini membuat beliau selalu menjadi pilihan utama para Petinggi Puncak Ibu Kota. Jokowi pun meliriknya. Ahok memilih, Jarot pertahankan, bahkan Anies Baswedan, yang notabene berseberangan 'politik' keras dengan para pendahulunya, tetap saja memilih dan pertahankan beliau . . .

Menarik sekali jawaban beliau saat ditanya kesan2nya mendampingi 4 Gubernur.

Pak Jokowi sangat amat bagus, buktinya sekarang jad Presiden. Pak Ahok juga bagus, sangat berorientasi pada pekerjaan. Pak Jarot juga demikian, fokus dan telaten dalam pekerjaan.

Pak Sumarsono, PLT Gubernur, beliau kan birokrat kawakan, digembleng dari jabatan paling rendah sampai jadi seperti sekarang. Pak Anies, bagus sekali, humanis dan banyak idenya . . .

Coba lihat jawaban beliau. Itu wawancara langsung. Jawabannya punya pilihan kata2 yang semua bagus untuk semua 'Bos'dan 'Mantan Bos'-nya. Eloknya hampir tak ada istilah atau kata yang sama.

Tanda kecerdasan dan kejujurannya . . .

Pekerja Keras yang selalu pulang ke rumah tengah malam, lepas subuh berangkat lagi ini, memang sempat bikin saya nggondhog.

Habis bagaimana, rumah kebanjiran disuruh nikmati saja. Toh tubuh kita dua-pertiganya terdiri dari air . . .

Namun saya bisa mengerti, tak ada maksud meremehkan. Dia memang 'bemper' tugas dan pekerjaannya, bukan 'bemper' Gubernur. Dan tugas-nya cuma satu, 'melayani' warga DKI Jakarta.

Waktu beliau ucapkan itu dengan mimik dan intonasi yang sama, saat beliau 'memuji' ke 5 atasannya, dari Jokowi sampai Anies. Karena, menurut saya, beliau menganggap para warga DKI Jakarta lah justru 'atasan' yang sebenar-benarnya . . .

Jika ikut ditanya, saat upacara 'pelepasan'nya, bagaimana semasa hidup si Saefullah ? Tentu saya jawab, 'Khair . . . !' Beliau orang baik . . .

Perkara sempat diberi penghormatan di pelataran Balai Kota, tidak dimakamkan di area makam khusus Covid, di rumah ada tahlilan, yang semua 'diduga' melanggar Protokol Covid, saya ndak tahu juga jelasnya.

Dan juga beliau sendiri, tak tahu menahu. Itu urusan yang masih hidup . . .

Jadi, sekali lagi, bagaimana semasa hidup, Saefullah, putra Betawi asal Sungai Kendal, Rorotan, Cilincing, Jakarta utara ini ?

Saya mesti jawab, 'Khair . . . Khair . . . Khair !'

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, September 18, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: