Bang Ate, Sampaikan Salam Kami (In Memoriam Ahmad Taufik)

Oleh: Eko Kuntadhi
 

(Untuk Almarhum Ahmad Taufik, yang wafat sore ini)

Kami duduk mengelilingimu. Mendengar ceritamu. Sebuah kisah tentang perjalanan cinta. Kamu berbicara dengan nada datar. Tidak ada riak emosi.

Tapi, siapa yang sanggup menceritakan perjumpaannya dengan kekasih? Siapa yang sanggup mengisahkan kehadirannya di 'rumah' manusia agung yang namanya disebut dalam doa. Dengan perasaan haru dan kerongkongan yang tercekat.

Malam itu, kamu mengisahkan tentang sebuah perjalanan panjang. Dari Indonesia ke Irak. Lalu menusuri ruas-ruas jalan dari Najaf ke Karbala. Bersama puluhan juta peziarah.

 

Kami tahu, datarnya kisahmu, menyembunyikan gejolak hati yang beriak. Ketika menapaki tanah yang pernah diinjak Saidah Zainab. Perempuan agung yang memanggul kesedihan di pundaknya.

Siapakah yang paling fasih bercerita tentang cinta, selain para pecinta?

Itulah adalah kisah perjalanan terakhirmu. Muhibah seorang pembawa bunga yang ingin mempersembahkan keindahan pada kekasihnya. Perjalanan panjang para pemanggul kerinduan.

Kami tidak tahu apa yang engkau lirihkan di makam Al Husein waktu itu. Mungkin suara kerinduan yang tertahan. Barangkali juga sekadar pengaduan. Atau hanya diam. Sebab kata-kata tidak sanggup menampung gejolak hatimu.

Lalu beberapa malam Jumat berlalu. Kami tetap duduk melingkar dan engkau berbaring di sana. Tidak lagi bersama kami.

Malam ini, kerinduanmu terjawab. Allah memanggilmu. Mengundangmu langsung untuk berjumpa Al Husein. Berjumpa dengan keluarga sucinya, manusia-manusia agung yang selalu kau bisikkan namanya dalam doa. Semoga Al Husein menyambutmu di telaga firdaus.

Bang Ate, sahabatku. Selamat jalan. Sampaikan salam kerinduan kami kepada Rasulullah dan keluarga sucinya. Semoga syafaat Nabi membelai kepalamu. Semoga kasih sayang Allah tercurah kepadamu.

Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Alfatehah maa sholawat...

 

(Sumber: Status Facebook Eko Kuntadhi)

Thursday, March 23, 2017 - 22:45
Kategori Rubrik: