Balasan Pesan untuk Buya Syafii Maarif

ilustrasi
Oleh : Mamang Haerudin
Saya telah membaca tulisan Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif atau yang biasa disapa Buya Syafii. Salah seorang Guru Bangsa yang juga pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005. Seorang Guru Besar yang sangat produktif menulis, tak terkecuali tulisannya di harian Kompas, 5 Januari 2021 yang berjudul "Pesan untuk Muhamadiyah dan NU." Tulisan tentang apresiasi Buya Syafii terhadap lukisan Djoko Susilo sekaligus harapannya terhadap Muhammadiyah dan NU demi keutuhan Islam Indonesia.
Bagi yang mafhum dengan Buya Syafii, saya yakin tulisan tersebut sebetulnya tidak ada yang baru. Saya memahaminya sebagai kepedulian Buya Syafii terhadap realitas umat Muslim di Indonesia belakangan yang cenderung intoleran, semakin menjurus pada politik identitas dan formalisme syariat Islam. Dalam banyak buku dan tulisannya di media, Buya Syafii telah banyak mengulas persoalan ini. Untuk itulah saya menulis catatan ini, anggap saja sebagai balasan pesan untuk Buya Syafii, karena saya merasa menjadi bagian dari warga Nahdliyin dan santri. Bagi saya, pemikiran Buya Syafii senafas dengan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), KH. Masdar Farid Mas'udi, termasuk Ulil Abshar Abdalla, Zuhairi Misrawi, Abdul Moqsith Ghazali (para intelektual NU), berikut para intelektual Muhammadiyah seperti Abdul Munir Mulkhan, Ahmad Najib Burhani, Novriantoni Kahar, dan masih banyak lagi.
Sejak dahulu Muhammadiyah dan NU terus bersatu dan bergandengan. Namun saya melihat, kedua Ormas Islam yang konon terbesar ini masih asyik sendiri. Kadang kala bertemu dalam agenda silaturahim, tetapi saya melihatnya masih sekadar formalitas. Belum pada kerja sama program yang lebih substantif dan memberdayakan umat. Muhammadiyah belakangan ini cenderung menjaga jarak dengan Pemerintah, lebih fokus dengan agendanya sendiri, yang kemarin sempat santer diberitakan adalah tentang kepemilikan kas Muhammadiyah di salah satu Bank Syariah dengan jumlah yang sangat banyak. Sementara NU memang dekat sekali dengan Pemerintah, juga masih dengan agenda internalnya.
Saya harus menyampaikan ini. Awal mula saya belajar Islam dari lingkungan keluarga, terutama orang tua. Lalu belajar di Madrasah Desa, belajar di Pesantren dan Perguruan Tinggi. Di awal-awal kuliah saya bahkan sangat intens dengan pemikiran-pemikiran yang dianggap progresif yang dipelopori Jaringan Islam Liberal (JIL). Saya rutin mengikuti diskusi bulanannya di Utan Kayu sampai jelang akhir masa kuliah. Awalnya saya juga penasaran, untuk lalu menyengaja diri dan menelusuri sebagian umat Muslim yang cenderung diasosiasikan sebagai Muslim yang intoleran. Saya akhirnya memutuskan untuk "belajar merunduk" dari dalam, bergaul dengan mereka, bahkan beberapa tahun sempat bekerja di salah satu lembaganya, sampai akhir 2018.
Menurut saya ada jarak yang sangat jauh yang kemudian menjadi penyebab utama, kenapa selama ini umat Muslim di Indonesia ribut dan ribet sendiri. Mendaku sebagai agama dan umat yang rahmatan lil'alamin tetapi nyatanya belum bisa dibuktikan oleh masing-masing pihak yang mengaku progresif maupun konservatif. Akhirnya tidak aneh, yang ada di permukaan adalah saling serang, gagah-gagahan, tak ada titik-temu. Muslim yang selama ini diasosiasikan sebagai Muslim progresif hanya hebat dalam wacana dan pemikiran keislaman "berat" dan akademis. Soal pluralisme, sekularisme, liberalisme, kesetaraan gender, seksualitas dan lain sebagainya. Sementara Muslim yang selama ini diasosiasikan sebagai Muslim konservatif hebat dalam meramu dakwah Islam menjadi lebih simpel dan praktis. Yang dalam level ekstrem bisa terjebak radikalisme dan tetorisme. Dari Muslim konservatif inilah muncul para enterpreneur dan Lembaga Zakat Nasional.
Maka kritik saya untuk para Muslim progresif adalah sebaiknya wacana dan pemikiran Islam soal pluralisme dll-nya itu mesti lebih konkret, jangan "halu", sekadar kajian teoritis. Pluralisme yang hanya kulit dan romantisme. Saya membayangkan pluralisme yang harus dibangun adalah pluralisme yang mampu membangun kemandirian ekonomi umat, termasuk akses layanan kesehatan yang terjangkau dan seterusnya. Saya yakin sekali, kalau pemikiran Islam hanya sebatas wacana, ia sudah lama "tamat." Yang sulit dan dinamis itu implementasinya. Menyangkut pemberdayaan umat.
Saya justru berharap agar dakwah Islam Muhammadiyah dan NU, termasuk Buya Syafii tidak asyik sendiri. Jangan seperti ibarat "katak dalam tempurung." Kenapa saya bilang begitu? Disadari atau tidak, diakui atau tidak, corak dakwah yang sedang digandrungi umat Muslim adalah corak dakwah yang sekarang sedang digarap oleh sebagian Muslim yang kerap diasosiasikan sebagai Muslim hijrah. Dakwahnya sangat produktif, inovatif dan memberdayakan. Dakwah bukan hanya sekadar lisan dan tulisan, melainkan mampu terwujud secara konkret berbentuk pendampingan wirausaha, pendirian rumah sakit, Laznas, hotel syariah, perumahan syariah, dakwah berbasis Masjid yang inovatif (cek dakwah Masjid ala Masjid Jogokariyan, Yogyakarta) dan dakwah digital.
Saya merasa kalau soal dakwah digital dan dakwah pemberdayaan, baik Muhammadiyah dan NU masih kalah jauh. Bahkan telah lama direncanakan, para Muslim hijrah sedang terus berbenah. Bukan hanya melakukan kaderisasi penghafal Al-Qur'an, melainkan juga penghafal hadis, pengkaji kitab kuning, pelaku wirausaha, malah merambah pada investasi syariah. Saya yakin Muhammadiyah dan NU masih terjebak zona nyaman. Saya khawatir kalau tidak segera "gercep" berbenah, dakwah Muhammadiyah dan NU akan semakin ketinggalan zaman dan jangan salahkan umat jika mereka semakin intoleran.
Wallahu a'lam
Mamang M Haerudin (Aa)
Thursday, January 7, 2021 - 11:45
Kategori Rubrik: