Balapan Belum, DPR Persoalkan Dana Pertamina untuk Rio Haryanto

Oleh : Hery Syofyan

Ternyata gonjang-ganjing permasalahan sumber dana Rio Hariyanto di ajang balap paling bergengsi Gran Prix Formula 1 itu, masih juga belum selesai walaupun Rio saat ini sudah resmi dinyatakan bergabung sebagai pembalap kedua di tim Manor tersebut, dan bahkan baru hari ini Rio baru merasakan kecanggihan dan kecepatan mobil balap yang berharga puluhan milyar tersebut walaupun hanya menyelesaikan tes sebanyak tiga lap sehingga tidak tercatat dalam catatan resmi hasil tes hari ketiga hari ini 24/02/2016 di sirkuit Katalunya Barcelona Spanyol. Seperti yang tertulis Rio Haryanto, Indonesia, MRT-Mercedes, 3 laps, No time. Sementara balapannya sendiri baru akan dimulai bulan depan dari sirkuit Adelaide Australia.

 Memang jujur harus diakui bahwa nilai dana yang dibutuhkan Rio itu sangat besar, tapi sesunggguhnya semua itu tergantung dari sisi mana melihatnya seperti yang pernah sy tulisa dalam tulisan terdahulu. Seperti yang terjadi kemaren dalam rapat dengar pendapat antara Pertamina dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Senin (22/2/2016). (Besar/Kecilnya Dana Rio Hariyanto di F1, Tergantung dari Sisi Mana Melihatnya!)

Padahal agenda awalnya adalah pembahasan kinerja PT Pertamina (Persero) tapi akhirnya malah berubah menjadi mempermasalahan pengunaan dana untuk kepentingan Rio di GP F1 itu, dimana Pertamina berkomitmen untuk memberikan dukungan pendanaan bagi Rio Haryanto senilai 5 juta euro, atau setara Rp 75 miliar, padahal kerjasama Pertamina dalam mendukung Rio sudah terjadi sejak tahun 2010.

Pada tahun 2010 Pertamina telah memberikan dukungan sekitar 1,1 juta euro untuk ajang GP 2 Series. Hasilnya Rio berhasil naik podium dua kali, dan satu kali menyabet gelar juara. Berikutnya ditahun 2011 Pertamina kembali memberikan dukungan dengan nilai yang sama di GP 3 Series. Hasilnya, Rio dua kali menyabet gelar juara dan empat kali naik podium.

Seperti diberitakan anggota Dewan menuntut penjelasan dari direksi Pertamina yang dinilai menghambur-hamburkan uangnya.

"Mohon dijelaskan landasan hukum terhadap pebalap muda Indonesia, yang akhir-akhir ini ramai, yang namanya Rio Haryanto. Itu Pertamina memberikan 5 juta Euro, atau setara Rp 75 miliar," kata anggota Komisi VI DPR-RI dari Fraksi Partai Golkar, Endang Srikarti Handayani.

Menjawab soal itu Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto menjelaskan bahwa dukungan kepada Rio itu merupakan salah satu bentuk langkah strategis yang dilakukan Pertamina untuk mencapai visi menjadi perusahaan migas nasional berskala dunia atau world class company dan itu pun bukan merupakan dana CSR, melainkan termasuk dalam biaya marketing jadi jelas punya pos sendiri yang tentunya tidak menganngu kinerja perusahaan. Dijelaskan juga bahwa komitmen Pertamina dalam membawa Rio sampai ke F1 itu sekaligus menjadi bukti konkret bahwa negara melakukan pembinaan pada anak bangsa di bidang olahraga., Negara betul-betul membuktikan memberikan kesempatan kepada warga negaranya yang berprestasi untuk meningkatkan prestasinya di kancah internasional.

Terkait dengan pertanyaan angota DPR Primus Yustisio soal alasan Pertamina kenapa tidak mensponsori klub atau atlet luar, sebagaimana yang dilakukan Garuda Indonesia dengan klub sepakbola Liverpool. Dwi Soetjipto mengatakan “Kita lebih mengarah pada anak bangsa yang berprestasi agar dapat memajukan Indonesia, dan meningkatkan nasionalisme di kalangan generasi muda,” untuk diketahui kontrak PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan klub sepak bola Liverpool senilai US$9 juta atau sekitar Rp125 miliar per tahun, bandingkan dengan dana yang dikeluarkan untuk Rio yang hanya sebesar 5 juta euro atau setara Rp 75 miliar kata Dwi Direktur Pertamina. Pertamina mengharapkan dengan adanya partisipasi Rio di ajang F1 itu, maka Indonesia kini memiliki role model atlet muda berprestasi.

Berikutnya Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto juga menjelaskan bahwa sebetulnya angka tersebut untuk sebuah dukungan olahraga masih tergolong kecil. “Sebenarnya kalau dibandingkan Petronas yang (mengeluarkan sponsorship) hingga Rp 567 miliar, memang ini kecil sekali,” seperti yang disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VI DPR RI, Jakarta, Senin (22/2/2016).

Sementara itu keterangan dari Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro juga mengatakan bahwa sumber pendanaan untuk Rio itu berasal dari kas perusahaan, tiap tahun Pertamina memang mengalokasikan dana untuk sponsorship menunjang dunia olahraga.

“Memang Rio ini, kita sudah alokasikan sejak 2010. Nilainya macam-macam, mulai 1,1 juta euro, tergantung kebutuhannya untuk masuk ke GP2 atau GP3. Karena kita sebagai entitas bisnis kan juga mendapatkan pendapatan, keuntungan dan laba, dan sebagainya. Jadi pendanaan untuk Rio itu dari hasil operasi kita,” kata Wianda.

Ketika ditanya kenapa dana sebesar Rp 75 miliar itu tidak diperuntukkan pembangunan kilang minyak, Vice President Corporate Communication itu menjelaskan perseroan telah mengalokasikan anggaran lain untuk pembangunan kilang.

 “Tentu kalau bangun kilang, ada juga alokasinya. Kalau buat Rio, saya konfiden, dan Pertamina komit. Kenapa? Karena ini kesempatan kita untuk bisa masuk ajang F1. Kenapa? Semua orang mau masuk ke ajang F1. Punya uang, tapi enggak punya atlet yang bisa masuk lulus tes,” ucap Wianda.

Dan menambahkan Rio adalah orang satu-satunya yang lulus tes, dan bukan hanya Indonesia tapi juga untuk Asia. Berbagai gelar juara disabet untuk GP 2 series dan GP 3 series dengan demikian Rio memang layak melaju ke F1. “Jadi kita konfiden. Kita itu malah takut kalau kita tidak buru-burusupport dia kemarin, dia bisa gagal masuk F1 hanya karena dana, kita menyesal,” imbuh dia.

Tekait dengan output seperti yang ditanyakan anggota dewan dari partai pengasa PDIP Darmadi Duriato "Apakah hanya mau sok-sokan saja? Berlaga-berlaga doang? Hanya mau terkenal saja? Atau apa output-nya?," kata Darmadi. Vice President Corporate Communication itu menjelaskan bahwa sudah enam tahun terakhir ini brand awareness korporat secara keseluruhan meningkat.“Awareness meningkat dari 90 menjadi 95,3. Kita survei itu setiap tahun. Jadi, kita tidak mungkin mengeluarkan dana kalau kita tidak paham effect publikasi yang kita capai,” ujar Wianda.

Namun meski Rio kini sudah resmi menjadi pembalap Manor Racing, tapi mejemen Rio masih belum sepenuhnya membayar uang sponsor itu. hingga kini manajemen Rio baru membayar uang muka (DP) 3 juta euro. Sementara, pihak Pertamina selaku salah satu sponsor baru menyetor 2,25 juta euro, sisanya 2,75 juta euro baru akan dibayarkan setelah Rio tampil di tiga seri. Jadi Manajemen Rio sampai saat ini masih terus mencari bantuan dana untuk melunasi kekurangan dana tersebut.

Manajer Rio Haryanto, Piers Hunnisett, mengaku sudah melakukan pembicaraan dengan beberapa calon sponsor dari pihak swasta, terakhir seperti diberitakan Rio bersama manajemennya juga sempat mendatangi pengusaha Sandiaga Uno untuk memberikan proposal bantuan. Dan ini pun sempat menjadi polemik antara KeMenpora dengan Mantan Menpora Roy Suryo, dimana dalam akun Twitter-nya mantan menpora itu menyebutkan bahwa Rio Haryanto, telah menerima dana bantuan dari pengusaha, Sandiaga Uno.

Padahal Sandiago Uno sendiri masih mempelajari terlebih dahulu sebelum memberikan dana "Ini menjadi inisiatif manajemen Rio untuk datang kepada saya. Alhamdulilah ini bisa terjadi pertemuan antara kami. Saya bakal mempelajarinya terlebih dahulu kemudian diumumkan secepatnya," kata Sandiaga beberapa waktu lalu.

Sementara itu Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Rosan P Roeslani, juga sudah menyatakan akan mencoba memberikan bantuan, begitu juga dengan Raja Sapta Oktohari, Pengusaha nasional sekaligus promotor tinju itu menyatakan juga bakal membantu Rio.

"Saya pribadi akan bantu Rio. Bentuknya dukungannya seperti apa? Apapun. Saya juga sudah berbicara dengan PAN (Partai Amanat Nasional) untuk dukung Rio. Support kan macam-macam. Jika sekarang dia (Rio) butuh dana, ya kami bantu dana. Biar kecil yang penting bantulah. 10 persen dari 250 juta orang berapa tuhh... banyak kan," kata Oktohari, yang juga wakil ketua umum bidang olahraga di PAN ini, kepadadetikSport, Senin (22/2/2016).

Mantan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) periode 2011-2014 Oktahari ini juga menambahkan "Masa negara untuk biayain anak bangsa sebesar 15 juta euro tidak bisa. Berarti ada yang salah dengan sitem negara ini. Kan ada undang-undangnya, atlet yang membawa negara itu harus dibiayain. Dana sebesar 15 juta euro itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan orang yang telah membawa nama Indonesia dan sejarah lagi. Masa tidak bisa biayain," cetus Oktohari.

"Banyak orang yang ambil peluang dari negara kita, tetapi kok begitu diminta kontribusinya tidak ada. Kan salah. Masalahnya begini, ini kan membawa nama bangsa. Harusnya orang berlomba untuk memberikan support sama Rio. Banyak kok pengusaha sukses, di statistik kita ada 5 persen dari orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa."

 Memang seperti yang pernah ramai diberitakan bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) juga pernah menjanjikan akan memberikan dana sebesar Rp 100 miliar untuk menutupi kebutuhan Rio di F1. Namun, itu baru sebatas usulan kepada Kementerian Keuangan dan belum disetujui oleh Komisi X DPR RI.

Sementara mengomentari adanya kecemburuan bagi sebagian atlet dan cabang lain menurut Raja Sapta Oktohari, justru dia menyatakan tidak setuju dengan cabor-cabor yang bersuara miring tersebut.

 "Kalau mereka yang berprestasi (saya yakin) pasti support, tetapi kalau mereka yang tidak berprestasi lalu cemburu. Itu mah cemen. Ini satu orang yang membawa dampak kemana-mana loh. Bukan satu orang sembarangan. Satu orang dari 250 juta orang yang memiliki kemampuan untuk ikut di dalam ajang kelas dunia," katanya.

"Coba lihat Petronas bagaimana dia aktif masuk kemana-mana. Indonesia itu harus mulai propaganda, harus mulai promosi. Anggaran itulah yang harusnya diberikan kepada Rio. Promosi dalam skala internasional dan disaksikan banyak negara. Seperti Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini juga harusnya menterinya harus aware, jangan sibuk yang promosi di daerah yang tarian saja. tapi di olahraga banyak dampak lebih besar karena eventnya lebih banyak," pungkasnya.

Sekedar catatan memang ada beberapa perusahaan Indoensia yang kini aktif mendukung dunia olah raga ditingkat international seperti Maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia ini memutuskan menjadi sponsor klub Inggris Liverpool. Kacang Dua Kelinci dengan Real Madrid FC, Bank BNI dengan Chelsea FC, Extra Joss dengan Manchester City FC, Bank Danamon dengan Manchester United FC yang tentunya itu sudah diperhitungkan akan menguntungkan perusahaannya masing-masing.

Akhirnya tentu saja kita berharap semoga saja semua polemik terkait dengan masalah sumber pendanaan Rio ini, bisa berakhir dan biarkan menejemen rio yang bekerja sebagai mana harusnya. Sehingga Rio dapat menjalankan kewajibanya dengan konsentrasi yang tinggi dan fokus pada tugasnya sebagai pembalap. Amin.

Sumber : Kompasiana

foto : CNNIndonesia.com
 

Thursday, February 25, 2016 - 10:15
Kategori Rubrik: