Balada Kantong Berlogo

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Sebuah berita gruesome beredar kemarin di Amerika tentang beberapa kendaraan yang kedapatan berisi jenazah yang sudah mulai dalam keadaan membusuk. Ditemukan di dekat sebuah rumah persiapan pemakaman di Brooklyn, New York, ada sekitar 60 jenazah yang diletakkan di dalam beberapa truk. Kondisi kendaraan yang tidak mempunyai sistem pendinginan sehingga membuat jenazah mulai memberikan bau yang tidak sedap dan tidak berbentuk. Pihak kepolisian sudah mengamankan tetapi terus terang mereka tidak bisa untuk bertindak lebih lanjut karena susah untuk bertindak dalam situasi seperti sekarang yang serba terpuruk.

Sejak bencana wabah Covid-19 melanda New York City, sudah belasan ribuan orang yang meninggal dalam jangka waktu hanya dua bulan. Populasi manula yang cukup tinggi menyebabkan sangat cepatnya kenaikan angka kesakitan. Apalagi rata-rata mereka sudah mempunyai penyakit kronis yang mendasar seperti darah tinggi, diabetes dan penyakit paru yang sudah diderita selama tahunan. Sehingga ketika virus Corona menyerang, tingginya angka kematian semakin tidak bisa lagi untuk terelakkan.

Funeral Home atau jasa yang melayanani proses penguburan semakin sibuk dan mereka sampai menyerah karena kewalahan. Keluarga yang meminta layanan juga tidak bisa lagi untuk memilih sebuah layanan yang memuaskan karena tidak ada tenggang waktu yang bisa diberikan. Rata-rata minta dikremasi dan total layanan yang bisa diberikan di seluruh kota hanya ratusan jenazah sedangkan yang meninggal setiap hari hingga bisa mencapai ribuan. Akhirnya untuk mempercepat proses yang biasanya memakan waktu tiga jam dengan suhu sekitar 800°C, mayat hanya dibungkus dengan kotak karton sehingga bisa menghemat waktu menjadi kurang dari dua jam.

Sedangkan pemerintah kota akhirnya menyiapkan sebuah pekuburan massal di sebuah pulau kosong yang berada tak jauh dari pusat kota sebagai tempat terakhir peristirahatan. Lahan ini memang sudah lama menjadi tempat kuburan bagi orang yang tidak dikenal dan juga kaum gelandangan. Setiap tahun ada 1000 jenazah anonymous yang dikuburkan di sana sejak 150 tahun yang silam. Sudah ada jutaan yang terkubur, sejak wabah TBC pada abad 19, Flu Pandemic tahun 1918 yang menelan 30 ribu korban dan krisis AIDS di tahun 80-an.

Walaupun kasus sedemikian tinggi di Amerika tetapi saya tidak atau jarang sekali menemukan tulisan-tulisan yang mencaci maki dan saling menyalahkan. Semua pihak berdiri dengan kepala jernih, karena wabah pandemi ini memang tidak bisa untuk dielakkan. Semua masyarakat juga memaklumi kalau pemerintah daerah sudah bekerja dengan keras dalam keadaan panik, sehingga bisa diterima berbagai bentuk keteledoran. Yah, kadang sama saja dengan seseorang yang ada di Jekardah, si rambut merah juga suka memanas-manasi pendukungnya yang emang punya kesamaan dan rada-rada mirip dengan penghuni di Ragunan.

Sebenarnya penanganan wabah di Indonesia sudah cukup baik dan sampai saat ini negara kita masih bisa bertahan di level pertengahan. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain apalagi yang ada di Amerika Latin, saat ini mereka sudah jauh terperosok dan sangat kewalahan. Mereka sudah tidak mempunyai rumah sakit dan layanan pemakaman yang memadai sehingga mayat-mayat korban terpaksa di biarkan tergeletak dan harus dibakar di jalanan. Walaupun pemerintah setempat menyangkal tentang hal ini, tetapi teman saya yang berasal dari sana sudah mengkonfirmasi kebenaran berita dan katanya mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan.

Tetapi walaupun begitu, herannya dengan kaum pendengki yang masih saja bersuara miring seolah-olah semua yang dilakukan oleh ayahanda Jokowi salah adanya. Semua hal yang remeh temeh dipersoalkan, dari mulai logo di kantong yang tertera tulisan 'bantuan presiden' hingga juga cara beliau blusukan memberikan langsung ke tangan rakyatnya. Kaum nyinyiran selalu mempunyai waktu untuk ngebacot tetapi ketika diminta bantuan, dengan banyak dalih langsung mengelak dan hanya sanggup untuk menyumbangkan sebuah lagu bernada balada. Semoga nanti kalau mereka mati, sebaiknya dibungkus dengan kantong berlogo ‘bantuan presiden’ untuk dilemparkan ke Ragunan ke kandang buaya, harimau atau singa.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Sunday, May 3, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: