Balada Istri Mantan Dandim yang Merasa Penguasa Dholim

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Adakah raut menyesal dari seorang Irma Purnama Dewi Nasution saat mendampingi suaminya Kolonel TNI Hendi Suhendi yang dicopot dari jabatan Komandan Kodim Kendari Sulawesi Tenggara ? Maaf, saya tidak melihat penyesalan itu sedikitpun dari wajahnya. Yang ada dia justru malah memainkan peran sinetron yang berjudul "Istri yang merasa terdzolimi penguasa".

Peristiwa tragis yang dialami oleh sang suami yang berpotensi menghambat karir kemiliteran setidaknya dalam lima tahun ke depan, tidak mampu membuat Irma Nasution instrospeksi diri atau rendah hati untuk mengevaluasi diri. Dia tetap bersikap jumawa tidak merasa bersalah. Irma berlindung di balik kuasa Allah.

Kita tahu pasti, Irma Nasution sudah terpapar virus khilafah. Namun yang menjadi pertanyaan saya bagaimana dengan suaminya ? Apakah dia sama sekali tidak tahu aktivitas istrinya ? Bagi saya rasanya aneh kalau seorang suami tidak mengetahui arah dan preferensi ideologi istrinya. Apakah mungkin dia sepemikiran dengan sang istri ? Saya tidak tahu. Tapi yang jelas dia telah gagal mendidik istrinya menjadi seorang istri perwira TNI yang beretika dan tunduk pada hirarki.

Ini PR besar bagi institusi TNI untuk menelisik lebih dalam kedalaman ideologi anggotanya. Kalau pimpinan TNI hanya menganggap hal ini telah terselesaikan hanya dengan sekedar memberikan sanksi, bagi saya hal ini sungguh gegabah. Kalau ada perwira TNI atau istrinya terindikasi terpapar virus ideologi selain Pancasila, bagaimana mereka bisa kita harapkan akan kuat menjaga kedaulatan NKRI dan pimpinan negara ?

Irma Nasution boleh saja dibela sejuta advokat, tapi hukum negara tetap harus ditegakkan. Negara ini tidak boleh kalah oleh nyinyiran emak-emak yang otaknya sudah salah jalan. Etika dalam pikiran dan ujaran tetap harus menjadi panduan. Kita tidak boleh membiarkan kaum sesat membangun peradaban.

Untuk Irma Nasution, sekarang pilihan tinggal pada sang suami Hendi Suhendi. Mau ditarik kembali ke jalan yang benar atau dibiarkan menjadi corong khilafah yang sekedar ingin tenar.

Salam SATU Indonesia,

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Tuesday, October 15, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: