Bait Syair (Beda dengan Teks Lugas)

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Karena orang Arab hobi bersyair, maka apapun dibuatkan syairnya. Disenandungkan di banyak kesempatan oleh anak-anak kita.

Ilmu gramatika bahasa Arab, seperti Nahwu, dibuatkan bait-bait syairnya, diajarkan dan disenandungkan sejak kanak-kanak di madrasah dan kapan waktu bisa jadi rujukan.

Matan Alfiyah Ibnu Malik yang amat masyhur itu. Segala ketentuan dalam gramatika diurai satu per satu , hingga 1000 bait lebih dihafal luar kepala oleh anak-anak, jadi kurikulim pendidikan anak sejak kecil di madrasah, hingga ngelotok sampai tua tidak lupa-lupa.

Dalam iilmu Fiqih ada Matan Zubad. Dihafal sejak masa kanak-kanak di madrasah hingga pada tua pun tidak lupa-lupa.

Dalam masalah aqidah, ada Matan Aqidatul Awam. Saya hafal sejak SD sampai hari ini tidak lupa-lupa.

Dalam pelajaran Siroh Nabawiyah, orang Betawi khususnya rutin tiap malam Jumat baca Rawi, yang tidak lain adalah Nazham karya Syeikh Al-Barzanji. Isi apalagi kalau bukan kisah-kisah penting dalam perjalanan hidup Nabi SAW.

Jangan tanya tentang Al-Quran, tiap hari dibaca rutin sampai hafal luar kepala.

Pendidikan keislaman itu seharusnya bukan hanya merek, tapi konten dan kurikulumnya harus merujuk kepada ilmu-ilmu keislaman.

Sayangnya hari ini semua materi pelajaran ilmu-ilmu keislaman itu dihapus tuntas. Di berbagai sekolah dasar islam saya kok tidak menemukan semuanya, kecuali tahsin atau tahfizh doang. Pelajaran keislaman yang lain justru menghilang, rontok, bubar.

Lucunya lagi bahkan kepala sekolah serta para guru pun sama sekali tidak kenal ilmu-ilmu keislaman peninggalan para ulama itu. Ketika saya tanya nama mata pelajaran fiqih, nahwu, balaghah, faraidh, sirah, ushul fiqih dan sejenisnya, mereka pada bengong melongo sambil bibirnya membwntuk huruf O.

Saya masih belum selesai menganalisa, kira-kira apa penyebabnya sampai sejauh itu. Apakah ada unsur perbedaan keyakinan misalnya, bahwa semua pelajaran ilmu keislaman itu batil, haram dan bid'ah dalam pandangan mereka?

Ataukah ini yang mereka maksud dengan gerakan tajdid alias pembaharuan sistem pendidikan modern. Bukan hanya duduk melantai melekar berubah jadi meja kursi, tetapi konten ilmunya pun jadi berubah total.

Misalnya gara-gara dianggap sebagai ciri dari kelompok lawan yang selama ini dimusuhi, jadi nggak mau dianggap sama dan harus beda. Ya, tapi itu kan kekayaan ilmu milik bersama.

Atau kah semua itu karena lemot nya mereka dalam memahami apa itu ilmu-ilmu keislaman secara menyeluruh?

Rasanya kok jadi aneh kalau sekolah-sekolah dasar Islam malah tidak mengajarkan ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tafsir, hadits, ushul fiqih. Lalu Islam nya dimana? Cuma tahfizh Quran doang?

Dalam logika saya, kok bisa ya lulusannya tidak bisa baca kitab berbahasa Arab? Lha kan seluruh warisan kekayaan khazanah ilmu-ilmu keislaman tertuang dalam bahasa Arab?

Saya masih belum ketemu jawabannya sampai sekarang. Ajib gitu loh

Ilmu-ilmu keislaman itu sudah dibuatkan paket pengajarannya sejak kanak-kanak oleh para ulama di masa lalu. Terus mau dibuang begitu saja kah?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Wednesday, January 29, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: