Bahtsul Masail, Forum Ahli Fiqih NU

ilustrasi

Oleh : Muhammad Rodlin Billah

Satu kawan di FB, yang saya tahu tak terafiliasi ke NU, dengan entengnya menutup sebuah statusnya dengan statement agar tak “baper” alias bawa perasaan tentang digorengnya hasil Bahtsul Masail (BM) Konbes NU 2019 kemarin yang membahas tentang penggunaan kata kafir terhadap non-muslim.

Bagaimana saya tak baper?

Wong teks resmi keputusan hasil BM saja sedang dalam proses penyusunan. Karenanya hingga saat ini belum dirilis. Hampir bisa saya pastikan jika mereka yang gagal paham ini sekedar membaca berita dari berbagai media non-NU. Awak media ini kemungkinan tak paham bagaimana sebuah BM di lingkungan NU dilangsungkan, dan tugasnya yang memang sekitaran “bad news is good news”.

Wong mereka, yang sebagiannya termasuk beberapa tokoh publik, saya yakin juga belum membaca deskripsi masalah/pertanyaan yang dibahas di dalam BM itu, apalagi rilis resminya yang memang belum keluar. Meskipun mungkin saja mereka ditodong pertanyaan oleh awak media dan menjawab sekenanya sebelum mereka mengerti duduk permasalahannya.

Wong beberapa kalimat yang digunakan untuk mengkritik hasil BM itu bermacam-macam jenisnya mulai dari malas belajar agama, islamophobia, terjangkit liberalisme, hingga yang sakit jiwa, otak-atik Al-Qur’an, bahkan revisi iman.

Yang mengkritik tak nyambung dengan yang dikritik: BM Konbes NU 2019 tak pernah membahas panggilan orang kafir dengan kafir, apalagi mau revisi iman atau otak-atik Al-Qur’an. Wal ‘iyadzu billah!

Yang dibahas adalah status non-muslim di Indonesia, apakah mereka termasuk kategori kafir harbi, dzimmi, musta’man, mu’ahad, atau lainnya. Mungkin ada yang baru tahu kalau klasifikasi kata kafir ternyata sedemikian banyak jenisnya? Mungkin juga ada yang tak paham apa maksud masing-masingnya?

Kalau memang baru paham bila ranahnya berbeda, plus rawan gagal paham, mengapa masih bersikeras tetap berbicara tentang sesuatu yang ia tak ketahui? Wartawan ya wartawan, sudah pekerjaannya, maklumi saja, lagipula profesi mereka ya tanggung jawab mereka.

Lebih baper lagi melihat sebagian yang tak paham bagaimana BM berjalan dan bagaimana putusan BM berlaku dalam lingkungan NU terus saja menggoreng, bahkan ada yang menunjukkan kekhawatiran kalau hasil BM ini akan digunakan untuk „memukul“ orang lain yang tak berpegang pada hasil BM.

Tapi ini semua tak membuat saya berubah dari „lebih baper“ menjadi „paling baper“. Kecuali bila ada beberapa dari mereka mulai menghina para kyai-kyai NU, baik yang berpartisipasi dalam BM kemarin maupun tidak.

Bagaimana bisa beliau-beliau ini dihina, dengan atribusi-atribusi seperti diatas, sebab berpartisipasi dalam BM yang notabene sebuah forum ilmiah dengan metodologi berpikir seperti gambar terlampir?!

Kalau berdalih publik tak bisa disalahkan, ya monggo saja. Tapi ingat, setiap yang ada di laman medsos kita insyaAllah semuanya tercatat sebagai amal perbuatan pemiliknya, baik yang menambah berat timbangan pahala atau malah menguranginya...

Sumber : Status Facebook Muhammad Rodlin Billah

Saturday, March 2, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: