Bahaya Stigma Cebong dan Kadrun

ilustrasi
Oleh : Agung Wibawanto
(Dibalik Kisah "Cebong" dan "Kadrun")
Asumsi sesungguhnya adalah sebuah dugaan awal yang belum tentu kebenarannya. Berasumsi tidak memiliki kesalahan karena sebatas dugaan. Apa dasar dari asumsi? Biasanya disebabkan adanya logika berpikir dan logika memori yang pernah dialami dan berulang-ulang. Logika tersebut bisa berdasar pengalaman pribadi saja, bisa pula logika umum. Contohnya: "Karena begini, maka biasanya akan begitu". Ini logika berpikir.
Namun hal itu, agar menghasilkan sesuatu yang benar dan jitu, maka tentu saja harus ada pembuktian, atau dilengkapi dengan fakta yang aktual dan faktual. Jika sudah dilengkapi itu semua, maka konklusi dari asumsi tersebut dapat dikatakan mencapai 99% benar. Mengapa kok tidak 100%? Jangan pernah lupakan faktor "keajaiban" yang kita tidak pernah tahu. Karena itu terkait dengan Kuasa di atas sana. Untuk itu tidak ada yang 100% benar di dunia ini.
Namun mendekati 100% pun setidaknya sudah jauh lebih baik. Hal ini mengingat akan bahayanya asumsi. Berawal dari asumsi bisa menghasilkan stigma, yang kadang bisa benar bisa juga tidak. Yang paling parah bisa berujung kepada tuduhan dan fitnah, yang sama sekali tidak benar namun sudah kadung diyakini sebagai kebenaran. Tulisan ini ingin mengajak pembaca agar lebih cerdas mengolah asumsi.
Sebuah tulisan yang bukan kategori berita, atau opini, bahkan harus mengembangkan asumsi. Sebuah opini biasanya berawal dari asumsi. Kebalikan dari opini, maka tulisan berita justru tidak boleh berasumsi melainkan harus berdasar kepada fakta yang ada. Seperti sudah dijelaskan di atas, munculnya asumsi itu berasal dari kebiasaan pribadi maupun umum. Contoh: karena mendung maka diasumsikan akan segera turun hujan, padahal belum tentu kan?
Masih banyak contoh lain yang menandakan dugaan namun belum pasti. Misal lain, karena orang tersebut berpenampilan kumuh, maka kita harus berhati-hati, siapa tahu dia penjahat (disebut stigma). Atau orang yang tidak berpendidikan itu bodoh dan tidak miliki etika (stigma juga). Perempuan itu lemah dan laki-laki itu kuat (lebih-lebih ini, stigma banget). Kalau suka memakai kuning berarti Golkar dan jika suka merah maka PDI Perjuangan.
Atau, memakai jubah dan sorban serta jilbab sudah pasti masuk sorga. Nah kalau dua contoh itu sudah menjurus ke tuduhan dan fitnah, hehehe. Sangat konyol. Memang kadang ada yang konyol, tidak ada kaitannya tapi dihubung-hubungkan. Sedang asumsi yang benar adalah yang memiliki alasan atau argumen cukup logis. Maka dari itu, ada asumsi yang dipakai sebagai lucu-lucuan saja tidak terlalu serius.
Namun jika sampai menjadi stigma hingga tuduhan, itu bisa sangat serius. Dengan begitu, agar apa yang kita sampaikan tersebut kuat kebenarannya haruslah berdasar fakta yang jelas sumbernya pula. Namun tahu tidak, bahwa fakta acap kali belum menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya? Ada banyak kasus mulai dari yang harian kita temui maupun kasus-kasus hukum yang berat di pengadilan misalnya.
Seorang anak usia 3 tahun menangis dengan baju belepotan cat serta kondisi ruangan yang penuh dengan cat. Terlihat pula kaleng cat yang sudah jatuh berguling menumpahkan isinya. Otak kita berpikir lalu mengasumsikan hingga berkesimpulan bahwa anak ini memang nakal dan dia lah yang menjatuhkan kaleng cat (padahal bisa saja ada kucing yang melompat dan menyenggol kaleng cat).
Kasus lain, ada anak yang terkenal nakal banget lalu saat penerimaan raport ia dinyatakan tidak lulus. Kita akan berasumsi bahwa salah si anak yang memang nakal. Bagaimana? Sering kan kita menduga begitu? Dalam sebuah kasus hukum misalnya, ada fakta, seseorang ditemukan berlumuran darah di dekat sesosok lain yang sudah mati diduga korban pembunuhan. Kita bisa berasumsi macam-macam.
Bahkan berdasar fakta yang ada, menuduh dialah pembunuhnya. Namun apa kebenarannya? Apa kita bisa langsung tahu? Untuk itu diperlukan proses peradilan di persidangan. Meski tidak bisa 100% setidaknya mendekati, itu sudah sangat baik. Di dunia medsos sekarang ini, banyak sekali asumsi berseliweran di timeline. Banyak warganet yang asal berasumsi bahkan asal menuduh terlebih dibumbui dengan kata-kata pedas dan kasar.
Lebih celaka lagi ada pula pihak yang merespon juga menggunakan asumsinya sendiri yang berbeda. Jadi, asumsi di balas asumsi masing-masing maka sampai kapan pun tidak ketemu. Ada baiknya saat menghadapi kondisi seperti itu, yang waras melengkapi dengan dasar berupa referensi yang sahih baik infonya maupun sumbernya, sehingga ada dasarnya berdebat, tidak saling berasumsi.
"Ah, dasarnya orang gila, meski sudah dijelaskan pakai bukti, fakta dan sumber juga tetep aja gak bakal nyadar!" Kalau sudah begitu ya ditinggal saja, karena ini soal kebiasaan lain, yaitu budaya diskusi atau dialektika yang sudah langka di masyarakat kita, terutama masyarakat online. Jadi, "cebong" dan "kadrun" itu apakah sama tabiatnya? Jika berbeda, maka mari mulai sekarang kita tunjukkan, bahwa kita lebih cerdas. Jika tidak begitu, berarti ya sama saja. (Awib)
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto
Wednesday, February 24, 2021 - 09:15
Kategori Rubrik: