Bahaya Perkawinan Wahabi - Ikhwanul Muslimin

Ilustrasi

Oleh : Akhmad Musta'in

Ketika pada 1960-an banyak pemimpin Ikhwanul Muslimin (IM) dijebloskan ke penjara oleh Gamal Abdel Nasser, pemerintah Saudi Arabia mengundang para tokoh Ikhwanul Muslimin seperti Said Ramadan (menantu Hassan Al-Banna) dan Muhammad Qutb (adik Sayyid Qutb) untuk menyelematkan diri ke AS. Muhammad Qutb mengajar di King Abdulaziz University, Jeddah, dan mengajar Osama bin Laden di antara mahasiswa lainnya.

Sikap Saudi Arabia ini merupakan refleksi ketakutan penguasa Wahabi Saudi Arabia terhadap gerakan Pan-Arabisme Gamal Abdel Nasser yang berdasarkan sosialisme dan jelas menjadi ancaman thd dominasi ideologis Wahabi-AS. Dengan mengundang IM, Saudi Arabia sekali kayuh melampaui dua hingga tiga pulau:

(1) Ikhwanul Muslimin merupakan musuh Gamal Abdel Nasser bisa menjadi sekutu startegis melawan Pan-Arabisme-Sosialisme Gamal Abdel Nasser.

(2) Para anggota Ikhwanul Muslimin yang terpelajar bisa membantu Arab Saudi membangun dan memperkuat sistem penyebaran Wahabi ke negara lain di Timur-Tengah dan akhirnya ke seluruh dunia (Wahabisasi global).

Perkawinan Wahabi-IM terjadi dan melahirkan keturunan garis keras yang banyak di seluruh dunia hingga dewasa ini. Keduanya berbagi fanatisme ideologis, ambisi kekuasaan sentralistik, orientasi internasional, dan formalisasi agama. Wahabi sendiri memiliki dana besar (terutama setelah harga minyak membubung tinggi pada 1973) namun kurang atau tidak terdidik, sedangkan Ikhwanul Muslimin cukup terdidik namun tidak punya dana memadai. Kelak terlihat, perkawinan ini memang sangat strategis dan darinya lahir gerakan internasional dengan ideologi, sistem, dan dana yang kuat serta terus berkembang dan meluaskan diri ke seluruh dunia hingga dewasa ini.

Akhir 1970-an dan awal 1980-an merupakan suasana menegangkan bagi penguasa Arab Saudi. Keberhasilan Revolusi Islam Iran pada 1979 ditambah pemberontakan Juhayman Al-Uteybi dan anak buahnya yang menduduki Masjidil Haram pada tahun yang sama, sudah cukup membuat penguasa Saudi Arabia sangat terancam. Pada dekade ini Presiden Mesir Anwar Sadat terbunuh; dan Uni Soviet menguasai Afghanistan. Pada 1980-an proyek Wahabisasi Global dengan dukungan dana (Saudi Arabia) dan sistem (Ikhwanul Muslimin) bergerak jauh lebih cepat. Hal ini dilaksanakan melalui yayasan-yayasan Wahabi seperti Rabithah Al-'Alam Al-Islamy, Al-Haramain, International Islamic Relief Organization (IIRO) dan banyak lainnya. Kelak Al-Haramain ini menjadi terkenal setelah PBB menyebutnya sebagai "terrorist-funding entity" yang membiayai aksi-aksi teror di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia.

Perang Afghanistan melawan Uni Soviet memikat banyak anggota garis keras di seluruh dunia, termasuk pendiri Laskar Jihad, Ja'far Umar Thalib dan beberapa pelaku kampanye teror Jamaah Islamiyah (JI), termasuk Hambali, Imam Samudra, dan Ali Ghufron. Bahkan, Jamaah Islamiyah (yang didirikan oleh mantan anggota Darul Islam, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir) punya kaitan erat dengan Al-Qaedah melalui Hambali, yang sebelum ditangkap termasuk pengurus inti Al-Qaedah.

Secara struktural para pengurus inti Al-Qaedah beretnik Arab dan berasal dari Timur-Tengah kecuali Hambali. Hambali adalah komandan militer Jamaah Islamiyah yang berjuang utk melenyapkan NKRI dan menggantinya dengan khilafah internasional. Jamaah Islamiyah bertanggung jawab atas banyak peledakan bom di Indonesia seperti pemboman Hotel Marriott, Bursa Efek Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta, Bom Bali, pemboman di berbagai gereja, dan usaha pembunuhan Duta Besar Filipina. Bahkan bom di Masjid Istiqlal yang berskala kecil termasuk aksi Jamaah Islamiyah sebagai usaha menumbuhkan sentimen keagamaan bahwa ada serangan terhadap Islam Indonesia.

Al-Qaedah adalah keturunan lain dari perkawinan Wahabi-IM, yang jelas terlihat dari kehadiran para Wahabi-Arab Saudi yang dipimpin Osama bin Laden (murid Muhammad Qutb) dan Ayman Al-Zawahiri bersama para pengikutnya. Al-Zawahiri yang sudah menjadi anggota Ikhwanul Muslimin sejak berusia 14 tahun sangat kuat dipengaruhi Sayyid Qutb, dan adalah pemimpin kedua Al-Jihad (dikenal dengan nama Egyptian Islamic Jihad) yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Presiden Mesir, Anwar Sadat pada tahun 1981.

(Dari buku Ilusi Negara Islam halaman 82-84)

Sumber : Status Facebook Muhammad Naylu Wiqoyatillah

Thursday, February 8, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: